<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042</id><updated>2011-12-14T18:37:25.094-08:00</updated><category term='Resensi Buku'/><category term='Cerita Pendek'/><category term='Catatan'/><category term='cerpen'/><category term='Kisah'/><title type='text'>Kumpulan Cerita Pendek</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-4154567531270167332</id><published>2011-10-04T23:11:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T23:12:09.791-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Pendek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Wabah Rasa Takut</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mulanya, rasa  takut itu dirasakan oleh Guru Rakhim saat beliau hendak melakukan salat  subuh di musala yang tak jauh dari rumahnya. Beliau merasa ada sesosok  mahluk tinggi besar yang mengawasi gerak-geriknya mulai ketika beliau  melepas sandal, mengambil air wudu, dan melakukan salat serta berzikir.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru  Rakhim merasakan ada suara nafas yang sekilas namun tegas pada  tengkuknya. Hal itu menandakan bahwa ada sosok lain selain dirinya yang  berada di musala itu. Beliau mendadak merasa waswas barangkali inilah  saat malaikat maut datang untuk menjemput nyawanya. Namun, ada pikiran  juga bahwa sosok yang dirasakan kehadirannya dengan suara nafas yang  tegas ditengkuknya itu hanyalah mahluk halus yang biasa disebut lelembut  belaka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru Rakhim menghentikan zikir dan memberanikan  diri bertanya pada sosok yang tak hendak ditengok dengan memutar kepala  ke samping, kuatir beliau mendadak kaget melihat perwujudannya. Sebab  dari cerita-cerita orang, perwujudan lelembut itu bermacam-macam, dan  kebanyakan yang dilihat orang adalah perwujudan yang menyeramkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Salam. Kalau boleh saya tahu siapakah Anda yang mengikuti semua gerak-gerik saya selama di musala ini?”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang  ditanya tidak segera menjawab, namun sekali lagi Guru Rakhim merasakan  suara nafas yang tegas pada tengkuknya. Setelah itu, barulah Guru Rakhim  merasa ada suara seseorang yang langsung masuk ke dalam alam  pikirannya. Guru Rakhim mendapatkan banyak perkataan yang tak beliau  dengar dengan kedua telinganya, melainkan beliau sangat bisa memahami  semua itu. Perkataan-perkataan sosok itu membuat ketakutan yang sangat  pada hati Guru Rakhim. Dan karena ketakutan itu, buru-buru Guru Rakhim  meninggalkan musala itu dengan berlari untuk sampai ke rumahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nyi  Mirah Ati, istri Guru Rakhim mendapatkan cerita itu sepulang Guru  Rakhim pulang dari musala. Sepanjang Nyi Guru mengenal Guru Rakhim,  beliau adalah orang yang jujur. Oleh karena itu Nyi Mirah Ati percaya  bahwa Guru Rakhim memang benar-benar bertemu dengan sosok yang suara  nafasnya terdengar tegas di tengkuk beliau. Demikian pula dengan  perkataan-perkataan sosok itu yang telah merasuk ke pikiran Guru Rakhim.  Bahkan tidak hanya itu, Nyi Mirah Ati pun bisa merasakan kehadiran  sosok yang dimaksud oleh Guru Rakhim ketika mereka sedang  memperbincangkan peristiwa yang dialami oleh Guru Rakhim di subuh itu.  Demikian juga Nyi Mirah Ati bisa merasakan rasa takut yang sama seperti  yang dialami oleh Guru Rakhim ketika mendengar perkataan-perkataan sosok  bernafas tegas itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ada baiknya, kita pergi ke Kyai Musaba, guru kita itu, Suamiku. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Sebab  perkara ketakutan yang kita rasakan itu belum pernah kita rasakan  sebelumnya. Mungkin Kanjeng Kiyai bisa menjelaskan mengapa ada rasa  takut yang timbul saat apa yang dikatakan oleh sosok itu kita resapi.  Kita juga harus memastikan apakah sosok itu berasal dari kebaikan atau  kejahatan. Sebab apabila dari kejahatan, maka sudah sepantasnya kita tak  perlu merasa takut!”&lt;/em&gt; Demikianlah Nyi Mirah Ati mengusulkan agar  mereka mencari tahu hal-hal yang berkenaan dengan sosok itu serta  perkataannya yang membuat mereka berdua merasa takut. Bahkan sangat  takut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kyai Musaba mendengarkan dengan sangat seksama  cerita Guru Rakhim, sebab menurut beliau cerita semacam ini harus  dicermati karena apabila salah tanggap akan dianggap lelucon belaka  bahkan mengada-ada. Sebab mirip sekali dengan peristiwa yang hanya  dialami oleh Kanjeng Nabi dulu kala.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Begitu sosok itu  berkata, ada perasaan yang tiba-tiba menghujam dada saya, Kyai.  Perasaan seperti saya akan mendapatkan kesakitan yang luar biasa.  Kesakitan yang lebih sakit dari sayatan pedang atau bahkan saat nyawa  sedang diregang.” &lt;/em&gt;Guru Rakhim menjelaskan perasaan beliau ketika  beliau mendengarkan perkataan dari sosok yang hanya dapat dirasakan  melalui suara nafas yang tegas di tengkuknya itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Perkataan seperti apa yang dia katakan, Rakhim?”&lt;/em&gt; Kyai Musaba menyela, &lt;em&gt;”Tanpa mengetahui perkataannya, rasanya sulit sekali bagiku untuk menelusuri apakah sosok itu dari kebaikan atau kejahatan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka  Guru Rakhim meneruskan ceritanya dengan mengungkapkan kata-kata yang  tidak dia dengar melainkan seperti langsung masuk ke dalam pikirannya  itu. Demi mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Guru Rakhim,  tiba-tiba wajah Kyai Musaba memucat. Matanya mendelik seolah beliau  melihat sesuatu yang sangat mengerikan tengah terjadi. Tangannya  memegang dada yang tiba-tiba merasa kesesakan. Bersamaan itu pula, di  tengkuknya terasa ada nafas yang tegas dan teramat dekat. Sosok yang  dibicarakan Guru Rakhim dan Nyi Mirah Ati nampaknya turut serta dalam  perbincangan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu Guru Rakhim selesai bercerita,  nafas Kyai Musaba tersengal-sengal. Segera saja tangannya mengambil  cangkir dan menghabiskan teh yang sudah agak dingin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Rakhim,  apa yang dikatakan oleh mahluk itu adalah keadaan yang sesungguhnya  dari apa yang kita lihat sehari-hari dan juga yang telah dinyatakan oleh  orang-orang sebelum kita. Orang-orang yang hidupnya dekat dengan Tuhan.  Oleh sebab itu, bisa aku pastikan yang kau temui itu mahluk kebaikan  dan datang untuk kebaikan kita semua.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru Rakhim  terdiam mendengar Kyai Musaba berkata demikian. Tiba-tiba di pikiran  beliau berkecamuk: bagaimana jika pesan-pesan dari sosok nir suara itu  disebarluaskan ke masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti telah mengetahui pikiran dari Guru Rakhim, Kyai Musaba tiba-tiba berkata, &lt;em&gt;”Ada  baiknya memang pesan-pesan ini diketahui oleh banyak orang. Sebab  ketakutan yang kita rasakan dan kehadiran sosok yang sepertinya  mengawasi dengan ketat gerak-gerik kita ini akan membuat orang berbuat  baik.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah ceritanya, hingga pesan-pesan yang  menimbulkan ketakutan itu disebarluaskan kepada masyarakat di sekitar  tempat tinggal Guru Rakhim dan Kyai Musaba. Demi mendengar pesan-pesan  itu, setiap orang merasakan ketakutan yang luar biasa dan merasakan  hadirnya sosok yang sepertinya mengawasi gerak-gerik mereka setiap saat.  Dan seperti diharapkan, maka perubahan pada sikap orang-orang pun  berubah. Mereka menjadi sangat ramah terhadap sesiapa saja. Saling  membantu dan mau bergotong-royong dalam kegiatan kebersihan,  penanggulangan bencana, atau membantu orang-orang yang lemah dan miskin,  yang merupakan hal-hal yang sudah lama menghilang dari kebiasaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anak-anak  yang biasanya nakal, suka mencemooh bahkan suka membolos dari pengajian  pun kini menjadi anak-anak yang manis dan sopan. Mereka sungguh sangat  ketakutan karena banyak yang mengabarkan secara berlebihan apabila  mereka berbuat tidak baik maka sosok yang dirasa dari suara nafas di  tengkuk itu akan menjemput paksa mereka ketika tidur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikianlah,  orang-orang pun hidup berdampingan dengan rasa takut itu. Rasa takut  itu telah menjadi senjata yang ampuh untuk menjadikan orang-orang hidup  dengan baik. Kyai Musaba dan Guru Rakhim merasa bahwa keinginan mereka  untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan rasa kehadiran akan sosok  kebaikan itu telah berhasil menemu tujuannya: Orang-orang hidup dengan  sikap yang sangat baik dan penuh kebaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hanya saja, Sanggah, seorang pemuda yang baru tiba dari kota merasa hal semacam itu hanyalah sesuatu yang dibesar-besarkan. &lt;em&gt;”Bukankah  kita juga pernah diwejangi soal Neraka, tempat gelap, panas, penuh  ratapan dan tangisan itu? Tetapi coba lihat, berapa banyak orang yang  benar-benar menjalankan agamanya dengan baik?”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Jangan berkata begitu, Sanggah.”&lt;/em&gt; Muridi menimpali,&lt;em&gt;”Mungkin  orang-orang dulu itu belum tahu bahwa kita memang benar-benar diawasi  oleh sosok kebaikan yang tak kelihatan, yang hanya dapat dirasakan  kehadirannya dengan suara nafas yang tegas di tengkuk kita itu.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Lho.  Bukankah dulu juga kita sering diberi nasehat bahwa kanan-kiri kita ada  malaikat yang mencatat semua amal perbuatan kita? Tapi buktinya, tetap  saja ada orang mencuri, membunuh, memperkosa, bahkan korupsi!”&lt;/em&gt; Lagi-lagi Sanggah menyatakan ketidakpercayaannya pada pesan-pesan gaib yang disebarluaskan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Mungkin kamu belum merasakan kehadiran sosok itu, Sanggah!”&lt;/em&gt; Celetuk yang lain, &lt;em&gt;”Kau belum pernah merasakan ketakutan yang kami rasakan setelah mendengar pesan-pesan gaib itu.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka  Sanggah memutuskan untuk menemui sendiri Guru Rakhim. Dia begitu ingin  tahu ketakutan seperti apa yang membuat orang-orang itu menjadi sangat  baik sikapnya. Setelah dipersilakan masuk dan duduk, Sanggah  memperhatikan setiap gerak-gerik Guru Rakhim dengan seksama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Sebenarnya, apa yang ingin Anda ketahui dari saya? ”&lt;/em&gt; Guru Rakhim langsung bertanya pada pokok persoalan yang membuat Sanggah berkunjung ke rumah beliau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Begini,  Guru Rakhim, saya sudah banyak mendengar kabar dan pesan-pesan yang  konon disebarkan oleh Guru dan Kyai Musaba di daerah ini. Kabar tentang  sesosok mahluk gaib yang mengawasi tindak-tanduk kita, juga pesan-pesan  yang disampaikan olehnya tanpa suara,”&lt;/em&gt; Sanggah melanjutkan mengutarakan maksud kedatangannya,&lt;em&gt;”  Yang ingin saya tanyakan adalah apakah mereka benar-benar mengalami  ketakutan dan kehadiran sosok tersebut ketika mendengar cerita dari Guru  Rakhim dan Kyai Musaba? Atau mereka hanya takut kepada Guru Rakhim dan  Kyai Musaba saja?”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru Rakhim berdehem sebentar  sebelum menjawab pertanyaan dari Sanggah. Jemarinya terus bergerak  menghitung butiran tasbih, tanda sedang berzikir. Mata beliau tampak  menerawang, seolah-olah ada sesuatu yang teramat berat di dalam  pikirannya. Pelan-pelan, Sanggah melihat mata beliau semakin membelalak.  Seolah-olah ada sesuatu yang amat mengejutkannya. Mulut beliau mendadak  menganga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sanggah mengira Guru Rakhim tengah memberi  contoh begitulah beliau dan Kyai Musaba mengalami ketakutan yang teramat  mencekam. Begitu pula dengan orang-orang yang mendengar cerita beliau  berdua. Namun Guru Rakhim tidak berhenti menunjukkan ekspresi ketakutan  itu. Beliau juga tidak mengeluarkan suara sepatah kata juga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sanggah  menghampiri Guru Rakhim dan memegang lututnya, sedikit mengguncangkan,  bermaksud agar Guru Rakhim tersadar dari keadaan itu. Tapi Guru Rakhim  tidak bergeming.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sontak, Sanggah berteriak memanggil Nyi  Mirah Ati agar segera datang ke ruang tamu dan menyadarkan Guru Rakhim.  Nyi Mirah Ati tergopoh-gopoh dan mengguncangkan tubuh Guru Rakhim. Yang  diguncang-guncang itu tetap diam terpaku dengan mata melotot dan mulut  ternganga. Ruang tamu itu segera dipenuhi suara tangis yang menyayat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sanggah  yang kebingungan, segera berlari meninggalkan rumah Guru Rakhim untuk  mengabarkan keadaan Guru Rakhim kepada orang-orang di kampung. Siang  itu, setelah kabar Sanggah tersiar, berduyun-duyun orang datang ke rumah  Guru Rakhim untuk melihat Guru Rakhim yang terdiam dalam keadaan  seperti orang dilanda ketakutan yang akut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melihat keadaan  Guru Rakhim, semua orang semakin bertambah rasa takutnya. Mereka  semakin percaya bahwa apa yang dikatakan Guru Rakhim tentang sosok gaib  dan pesan-pesan tanpa suara itu adalah suatu kebenaran. Kyai Musaba pun  diundang, barangkali sebagai guru dari Guru Rakhim, Kyai Musaba bisa  menyembuhkan Guru Rakhim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demi melihat keadaan Guru  Rakhim, Kyai Musaba pun bertambah rasa takutnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Ini jelas rasa takut  yang luar biasa yang dirasakan oleh Guru Rakhim. Saya tidak mungkin  dapat menyadarkannya.”&lt;/span&gt; Jelas Kyai Musaba.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tangan Kyai  Musaba terulur pada dada Guru Rakhim. Rupanya, Kyai Musaba masih  mendapatkan degup jantung Guru Rakhim sehingga tak berapa lama kemudian  Kyai Musaba menghembuskan nafas keras, menandakan kelegaan bahwa Guru  Rakhim masih bernyawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah lama dalam kondisi  demikian, Guru Rakhim pun mengedipkan kelopak matanya. Orang-orang  berseru gembira, lalu ramai pertanyaan dilontarkan kepada beliau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Apa yang Guru Rakhim rasakan? Adakah penglihatan atau pesan gaib lainnya?”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru Rakhim berbicara dengan pelan, hampir tak terdengar, setelah mengatur nafasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ada  lagi yang harus aku ajarkan kepada kalian semua. Rasa takut yang lain.  Yang lebih dahsyat dari apa yang kalian rasakan kemarin-kemarin.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guru Rakhim berhenti bicara, dan mengambil sikap seperti bersemadi. Orang-orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak  berapa lama, orang-orang berteriak menyebut-nyebut nama Tuhan dan  menghambur berlarian. Terdengar pula jeritan Nyi Mirah Ati dan Kyai  Musaba. Tubuh Guru Rakhim meledak tak berapa lama beliau mengambil sikap  bersemadi. Serpihan-serpihan tubuh beliau yang hancur terlontar ke  berbagai arah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jakarta, September 2011.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-4154567531270167332?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/4154567531270167332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=4154567531270167332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/4154567531270167332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/4154567531270167332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2011/10/wabah-rasa-takut.html' title='Wabah Rasa Takut'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-2957254323495001214</id><published>2011-09-22T03:24:00.000-07:00</published><updated>2011-09-22T03:28:36.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Pendek'/><title type='text'>Pohon di Tengah Alun-Alun</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dia baru bisa membaca saat pertama kali diajak bersepeda - &lt;em&gt;tepatnya dibonceng&lt;/em&gt; - ibunya saat mengetahui ada keganjilan dari apa yang dia lihat di alun-alun kota. Ada sebatang pohon asam gelugur tua, bukan beringin, tumbuh di tengah alun-alun itu. Padahal menurut cerita-cerita yang sering dilontarkan bibir ibunya, adalah pohon beringin yang biasanya ditanam sebagai lambang pengayoman kepala daerah kepada rakyatnya. Cabang-cabangnya yang rindang membentuk kanopi yang sangat teduh. Di antara dahan dan rantingnya yang rimbun, puluhan burung tekukur dan perkutut membuat sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba mengeja nama latin dari pohon asam gelugur itu. Sebuah nama yang terasa sangat ganjil bagi lidahnya yang terbiasa dengan logat kental tanah kelahirannya. “&lt;em&gt;Tam..mar..rindus in..di..ca&lt;/em&gt;,” Ejanya. Ibunya hanya bisa tersenyum. Bangga karena anak berumur empat tahun itu bisa membaca dengan cukup lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandang ibunya dengan mata sedikit berbinar. Ibunya tahu, sekejap lagi anaknya itu pasti akan bertanya sesuatu. Dan benar saja, tak lama kemudian dari mulutnya yang kecil meluncurlah sebuah pertanyaan yang ibunya sendiri tidak tahu jawabannya. &lt;em&gt;“Apa artinya itu, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia baru tahu bertahun-tahun kemudian bahwa nama latin &lt;em&gt;Tamarindus indica&lt;/em&gt; berasal dari beragam bahasa. Tamarindus berasal dari bahasa Arab: Tamr Hindi, yang berarti kurma dari India. Tapi dia tidak mengerti mengapa disebut sebagai kurma, sebab buah dari pohon itu berasa asam sehingga di tanah kelahirannya disebut sebagai pohon dan buah asam, bukan kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga belum mengerti mengapa di alun-alun kotanya itu bukan beringin yang ditanam di tengah-tengahnya melainkan pohon asam gelugur itu. Padahal pohon itu tidaklah terlalu rindang, dan cabang serta rantingnya mudah sekali patah. Tapi dia tahu, ibunya sering sekali membuat minuman dengan bahan dasar buah asam yang sudah sangat masak. Minuman yang segar itu bernama serbat. Enak diminum ketika cuaca sangat terik. Daun mudanya juga bisa dibuat minuman dengan mencampurnya dengan bahan-bahan lain seperti kunyit, juga bisa sebagai obat batuk dan demam. Karena itu, beberapa kali ibunya mengajak ke alun-alun itu sekedar mengambil buah yang jatuh, memetik daun muda, dan mengelupas kulit kayunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, dia melihat pada kedua mata ibunya itu merebak air mata. Dan sesaat kemudian, kadang kala, raut yang tampak sedih itu bisa berubah menjadi wajah yang penuh amarah. Dia tidak pernah mau menanyakannya, sebab jika dia bertanya bisa-bisa menambah tekanan perasaan pada ibunya. Dia tak mau itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengubahkan suasana hati ibunya itu, dia kadang segera menyibukkan diri mencari jangkrik pada rerumputan di sekitar kaki pohon yang besar itu. Lalu dengan riangnya, disorongkan jangkrik yang tertangkap itu sambil berceloteh akan dikumpulkan sebanyak-banyaknya jangkrik untuk makanan burung-burung peliharaan kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dia, laki-laki yang ada di rumah adalah kakeknya. Kakek yang pendiam dan selalu sibuk dengan burung-burung peliharaannya. Beberapa hari dalam seminggu, kakek pergi mengikuti kontes burung berkicau. Sebenarnya dia juga ingin menangkapi burung-burung yang bersarang di pohon itu, tetapi tak satu pun burung di pohon tersebut menyerupai burung-burung yang ada dalam sangkar-sangkar milik kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek jarang sekali berbicara dengan ibu maupun dirinya. Ibu pernah bilang bahwa kakek tidak pernah menyetujui hadirnya laki-laki yang tak pernah lagi ada di sekitar dia dan ibunya. Ayahnya. Mungkin itu yang membuat ibunya sering bersedih atau marah setiap kali berada di dekat pohon asam di tengah alun-alun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, menjelang hari pernikahannya, dia memberanikan diri bertanya kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bu, dulu sewaktu aku kecil Ibu sering sekali membawaku pergi ke alun-alun memetik daun asam, mengumpulkan buahnya, dan sesekali mengerat kulit kayunya. Apakah Ibu ingat itu?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya tersenyum dan mengelus kepalanya yang berada dekat dengan pangkuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tentu Ibu ingat. Apa yang ingin engkau tanyakan sebenarnya?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menghela nafas panjang dan berat, dia menanyakan hal yang bertahun-tahun disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Mengapa Ibu selalu menangis dan juga marah setiap kali kita ke sana? Kenangan apakah yang sebenarnya Ibu simpan?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak Ibunya tak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Ibunya dengan pohon asam gelugur di tengah alun-alun, dia tak pernah lagi bertanya. Hanya pada suatu reuni dengan teman-teman sekolahnya, dia bertemu Karman yang kini menjabat Sekretaris Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang kaget dengan penataan alun-alun kotanya itu mendapat penjelasan bahwa pohon asam gelugur itu sudah ditebang dan diganti dengan sebuah tugu berbentuk runcing yang menggambarkan keteguhan dan perjuangan untuk meraih cita-cita yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Oh. Pohon asam itu terlalu banyak menyimpan cerita pahit,”&lt;/em&gt; Jelas Karman ketika dia menanyakan alasan penebangan pohon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Memang cerita macam apa sehingga warga kota tak menginginkan pohon itu tidak perlu lagi ada di tengah alun-alun?”&lt;/em&gt; Dia tampak ingin menuntaskan rasa penasaran yang sekian lama bercokol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kau pernah mendengar hukum picis, bukan? Seseorang yang dinyatakan bersalah disayat kulitnya dan pada lukanya itu diteteskan cairan dari buah asam. Dulu, pohon itu menjadi terkenal gara-gara seorang perampok besar menemui hari sialnya. Dia ditangkap dan ramai-ramai warga menghukumnya. Setiap orang menyayat kulitnya dan menyiramnya dengan cairan buah asam. Dia menemui ajal dengan tubuh hampir seluruhnya terkelupas kulitnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perampok besar? Siapa namanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang menyebutnya Man Jaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Mendengar nama itu, dia menjadi sangat maklum mengapa kakeknya tak pernah mau bicara dengan ibu dan dirinya. Terlebih, dia pun kini bisa merasakan kesedihan dan kemarahan yang sama dengan ibunya jika dia mengingat pohon asam di tengah alun-alun itu. Untunglah, kini pohon asam itu sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, September 2011 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-2957254323495001214?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/2957254323495001214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=2957254323495001214' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/2957254323495001214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/2957254323495001214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2011/09/pohon-di-tengah-alun-alun.html' title='Pohon di Tengah Alun-Alun'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-3350615378472593577</id><published>2011-02-15T05:41:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T05:57:53.318-08:00</updated><title type='text'>Beranak Dalam Hujan</title><content type='html'>Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Beranak dalam Hujan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sudah, tidak apa-apa. Paling sebentar lagi terang.” Kardasih menolak diminta menunggu sejenak oleh Hasim untuk diambilkan payung lantaran di sore yang masih menyisakan terik matahari tiba-tiba turun hujan.&lt;br /&gt;“Justru itu. Kalau kau kena hujan yang sebentar, nanti malah sampai rumah kau dikira habis tercebur di sungai.” Hasim bersikeras agar Kardasih pulang berpayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya gadis itu duduk kembali. Dari teras rumah itu, Kardasih memandangi langit yang terang benderang ditingkahi butiran-butiran hujan. Tercium pula ruap bau tanah yang tersiram. Dan terdengar bunyi seperti langkah-langkah kanak-kanak yang berkejaran dengan riang gembira. Kardasih berharap sebentar lagi muncul semburat aneka warna di antara awan-awan putih dan kelabu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia mendengar suara yang terdengar samar tetapi terkesan berat. Suara itu tak sanggup dia pastikan arahnya. Tak lama kemudian terdengar suara lain yang melengking tetapi juga samar. Sebentar saja suara-suara itu terdengar tetapi mampu membuatnya terjerat perasaan ganjil. Kuduknya terasa dingin. Tangan kanannya menyusup ke balik kerah baju dan menggosok tengkuknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini payungnya,” Hasim tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu sambil mengangsurkan payung berwarna abu-abu kepadanya.&lt;br /&gt;“Ih! Kau bikin aku kaget saja.” Teriak Kadarsih. Tubuhnya terguncang ke belakang dari posisi duduknya semula. Setelah agak tenang, Kadarsih menyambut payung yang diulur Hasim dan meletakkannya di atas meja di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm. Sim, Apakah di sini, di rumah ini angker?”&lt;br /&gt;“Angker? Ada apa kau bertanya seperti itu?” Hasim balik bertanya sambil menghempaskan tubuhnya pada kursi di dekat Kadarsih.&lt;br /&gt;Yang ditanya diam saja. Tangan Kadarsih kembali mengusap tengkuknya sambil berkata,”Aku merasa sedikit takut saja.”&lt;br /&gt;“Di rumah ini tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh. Apalagi keluargaku bukanlah orang-orang yang gampang ditakuti dengan urusan yang berbau mistis atau supranatural.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadarsih tidak menanggapi perkataan Hasim. Tetapi raut wajahnya menunjukkan perasaan antara bingung dan takut. Melihat hal itu, Hasim mengambil payung dari atas meja dan bangkit seraya berkata,” Ya sudah. Biar aku antar kau pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hujan selalu ada kegelisahan. Gelisah agar badan tidak basah, gelisah agar perjalanan ini cepatlah sudah. Kadarsih berjalan berpayung dengan tergesa. Percikan air dari genangan sepanjang jalan mengenai roknya yang panjang. Namun dia merasa setiap dia melangkah, ada pula yang mengiringinya. Merasa semakin cemas, Kadarsih berjalan semakin cepat. Lalu terdengar seperti orang berbisik di dekatnya. “Ssh..Ssh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali hanya angin,” Kadarsih semakin mempercepat langkah kakinya. Akhirnya dia tiba di depan rumahnya. Dia pun menyeru kepada ibunya. “Ibu. Ibu. Tolong buka pintu!” Kadarsih mengetuk-ketuk daun pintu. Saat dia mencoba melihat ke dalam rumah melalui jendela, di kaca jendela dia melihat ada sesosok perempuan menggendong bayi berdiri tepat di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan! Siapa kau!” Kadarsih menjerit. Dia tidak mau menoleh ke belakang. Dia semakin keras memanggil-manggil ibunya dan mengetuk-ngetuk daun pintu dan jendela. Dari kaca jendela, dia melihat sosok perempuan itu semakin mendekat kepadanya. Dan setelah semakin dekat, dia bisa melihat wajah perempuan dan bayinya yang ternyata menyeramkan. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa. Kadarsih jatuh pingsan di depan pintu rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Mari masuk, Kadarsih,” sambut seorang perempuan kepadanya. Di depannya sebuah rumah cukup ramai dengan tetamu. Kadarsih bingung, bagaimana bisa perempuan itu tahu namanya. Terlebih dirinya tidak mengetahui siapa perempuan yang menyapanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenalkan aku Nastiti.” Tiba-tiba perempuan itu mengulur tangan seolah paham apa yang menjadi pikiran Kadarsih tentang dirinya. “Aku mengenalmu sewaktu kamu dulu bermain di bawah pohon nangka tetanggamu. Aku berdiam di situ.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon nangka? Berdiam di situ? Kadarsih semakin bingung dengan perkataan Nastiti. Akan tetapi dia tidak bisa berlama-lama berdiri tertegun karena Nastiti menggandeng tangannya dan mereka berjalan ke dalam rumah yang penuh tetamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini rumah siapa?” Kadarsih memberanikan diri bertanya.&lt;br /&gt;“Ini rumah Giranda. Dia mengundangmu hari ini ke rumahnya karena kau adalah saksi kebahagiaan yang dia terima dan rasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi saksi dari sebuah kebahagiaan? Kebahagiaan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah. Mungkin kau belum paham Kadarsih. Kau terlihat oleh Giranda ketika dia melahirkan di teras rumah Hasim, temanmu.” Lagi-lagi Nastiti seperti menjawab pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadarsih berpikir mungkin Nastiti bisa membaca pikirannya. Jika benar demikian, dia tidak boleh sembarang berpikir yang bukan-bukan tentang segala sesuatu yang sedang berlangsung di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang saja, Kadarsih. Kami tidak akan membuatmu susah.” Oh, tidak! Lagi-lagi Nastiti melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nastiti dan Kadarsih masuk ke dalam rumah yang dihiasi lampu dan sangat riuh itu. Terlihat aneka hidangan tersedia di atas meja. Para tetamu duduk dan bercakap-cakap hampir di seluruh ruangan. Nastiti membimbing Kadarsih masuk lebih jauh ke dalam rumah itu menuju sebuah kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk! Mari. Mari.” Dari dalam kamar terdengar suara perempuan dengan nada gembira.&lt;br /&gt;Nastiti menyibak tirai dan nampaklah seorang perempuan cantik berbaring di sebuah ranjang yang besar. Di sampingnya terbaring juga bayi yang montok dan berkulit putih. Persis seperti kulit perempuan itu. Nastiti dan Kadarsih menghampiri perempuan itu dan menyalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadarsih,” Demikianlah Kadarsih bersalaman dan menyebutkan namanya.&lt;br /&gt;“Ah. Aku sudah tahu namamu. Aku Giranda. Maafkan aku mengundangmu dengan cara yang tidak lazim.”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;“Maaf. Aku tak bermaksud menakut-nakutimu waktu aku mengikutimu berjalan di bawah hujan. Maksudku hanyalah ingin menunjukkan kebahagiaanku, memberitahu kepadamu bahwa aku sungguh gembira karena telah melahirkan anak ini. Gandira.” Katanya sambil telunjuknya mengusap lembut kening bayi yang tertidur.&lt;br /&gt;”Jadi?” Kadarsih teringat wajah perempuan dan bayinya di dalam kaca jendela rumahnya.&lt;br /&gt;“Betul. Itu aku dan Gandira. Maafkan telah mengejutkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadarsih kini berpikir keras: bukankah dia sedang mengetuk pintu dan jendela sebelum dia tidak ingat apa-apa lagi setelah melihat dua buah wajah yang menyeramkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh. Tolong jangan diingat-ingat lagi peristiwa itu.” Giranda memohon. “Maafkan aku. Tak seharusnya begitu kejadiannya. Aku hanya ingin mengundangmu karena kau adalah saksi proses kelahiranku.”&lt;br /&gt;“Aku tidak melihat apa-apa di beranda rumah Hasim! Kenapa dari tadi kalian bilang aku menjadi saksi sebuah kelahiran?”&lt;br /&gt;“Kau memang tidak melihat apa-apa, Kadarsih. Tetapi kau mendengar suara Giranda dan suara Gandira. Itu sudah cukup untuk membuat kami merasa bahwa kau adalah saksi.” jawab Nastiti.&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti. Sekarang pulangkan aku!” Jerit Kadarsih.&lt;br /&gt;“Sabarlah, Kadarsih. Sabarlah. Buatlah kami senang dengan mencicipi hidangan kami,” Giranda memegang pundak Kadarsih lalu membentangkan sebelah tangan seakan mempersilakan Kadarsih ke ruangan depan untuk makan.&lt;br /&gt;“Tidak. Tidak. Pulangkan aku sekarang!” Kadarsih menjerit sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Istigfar, Nak. Istigfar.” Ada suara lelaki yang berat terdengar. Kadarsih berusaha membuka matanya yang terasa tertutup sesuatu yang berat. Akhirnya dia bisa melihat dengan samar ada banyak orang mengelilinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh. Kepalaku.” Kadarsih menjerit lirih. Akibat terjatuh tadi, kepala Kadarsih membentur lantai.  Efeknya baru terasa setelah kesadarannya pulih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar tangis haru dari ayah dan ibu serta saudara-saudaranya. Kadarsih sudah siuman dari pingsannya. Dia mengembangkan tangan untuk memeluk ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadarsih, kenapa kau, Nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadarsih bercerita mulai dari suara-suara aneh di beranda rumah Hasim hingga wajah menyeramkan yang terlihat di kaca jendela. Juga tentang penunggu pohon nangka Pak Rustam tetangga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, jangan suka dilanggar pamali orang tua dulu. Kalau ada hujan sementara cuaca terang lebih baik berdiam di dalam rumah, jangan bepergian,” Sebuah petuah terdengar dari seorang kakek yang tadi menyuruh Kadarsih mengucapan istigfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2011&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-3350615378472593577?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/3350615378472593577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=3350615378472593577' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/3350615378472593577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/3350615378472593577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2011/02/beranak-dalam-hujan.html' title='Beranak Dalam Hujan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-1949025704512860562</id><published>2008-09-04T21:10:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T03:07:32.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Gadis Idaman</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dahi yang ditumbuhi sebuah jerawat tampak lebih mengkilat dari biasanya. Sinar lampu sorot dari atas balkon yang mengarah ke altar yang telah membuat lebih indah sesuatu yang sebenarnya memang sudah tampak indah. Seorang gadis di deretan bangku depan dengan mata besar dan alis yang lebat sudah lama memikat hatinya. Dia selalu melihat ada kilat basah pada kedua matanya itu. Dia yakin kalau gadis itu selalu berdoa dengan sungguh-sungguh. Pun ketika melantunkan lagu-lagu pujian. Tampaknya ada semacam kerinduan yang mendalam dari gadis itu kepada Tuhan. Lantas dia merasa harus mengenal gadis itu sesegera mungkin. Ya, sesegera mungkin.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;"Shalom," sapanya sembari tersenyum ketika gadis itu baru saja hendak mendaratkan sebelah kakinya dari anak tangga ke lantai dasar. Degup jantung lantas dirasa lebih cepat, sebab sebentar lagi dia akan bisa memandang mata besar yang senantiasa basah dan dahi yang tampak berkilat dengan sangat jelas.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Shalom.” Gadis itu kaget dan tersipu. Sungguh pemandangan yang terjadi seperti dalam film-film romantis tahun 70an di mana istilah malu-malu kucing atau jinak-jinak merpati sering didengar. Hanya saja ada sebuah pertanyaan membuat segalanya berbeda.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Ada apa, Kak?”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Lelaki muda itu menelan ludah sebelum bercerita panjang lebar tentang ketertarikan dirinya kepada gadis itu. Terlebih dia sudah berulang kali melihat gadis itu menangis ketika berdoa. Lantas dia mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama sambil berharap gadis itu pun melakukan hal yang sama.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Anjas.” Sekali lagi diucapkan namanya. Kali ini terasa lebih tegas karena gadis itu tak menyambut uluran tangannya terlebih mengucapkan nama. Dan dia kembali termangu ketika tiba-tiba yang dihadapinya hanyalah kekosongan, karena gadis itu berlari menjauh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Minggu berikutnya, dia masih menjumpai pemandangan yang sama. Gadis di deretan bangku depan, hanya saja jerawat di dahinya sudah tidak ada. Makin sempurna kecantikannya, demikian pikirnya. Tiba-tiba dia seperti disadarkan sudah beberapa minggu dia datang ke gereja untuk melihat gadis itu dan hal itu membuatnya tidak khusyuk berdoa kepada Tuhan. Pandangannya kini menghujam di lantai keramik. Di depan, pendeta yang sedang berkotbah mengumumkan ‘altar call’. Dan ujung matanya menangkap gadis itu beranjak dari bangkunya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Shalom, Kak Anjas.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dia dikejutkan dengan sapaan yang pernah didengarnya. Hanya saja kali ini ada nada riang dari sapaan itu, tidak seperti waktu dia mendengar jawaban yang terbata-bata dan penuh kemuraman. Dilihatnya gadis idamannya sudah berdiri di depannya dan mengulurkan tangan kepadanya. Menanti disambut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Hana.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Demikianlah sebuah nama meluncur dari bibirnya. Dia masih tidak percaya. Matanya menatap ke arah mata besar yang masih menyisakan kilat basah karena menangis. Perlahan tapi kemudian menjadi gerak yang cepat dan agak tergopoh, dia menyambut tangan gadis yang kini telah bernama baginya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Shalom, Hana.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Senyumnya pun mengembang. Tangan yang dijabatnya kemudian terasa terayun ke belakang, tanda minta dilepaskan dari jabatan tangannya, membuat dia merasa malu telah terlena.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tak lama keduanya pun mulai bertukar kisah tentang berapa lama berbakti di gereja itu, sekolah di mana, dan keluarga dengan akrab. Sementara di luar, angin yang membawa awan mendung melempar-lempar sebuah daun dari jalan ke halaman gereja.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;+++&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Aku ingin kamu mendengar sebuah cerita, Mas.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hana menatap Anjas dengan tatapan yang sangat memelas. Yang ditatap merasa sangat kaget dengan tatapan seperti itu. Seharusnya suasana di antara mereka berdua adalah suasana yang indah, karena kurang dari tiga bulan lagi Anjas berjanji akan membawa keluarganya untuk meminta Hana sebagai istrinya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Tapi sebelumnya, aku minta kamu berjanji untuk tidak marah.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Mendengar kalimat kedua yang keluar dari mulut kekasihnya membuat ia berpikir bahwa Hana akan menyampaikan sesuatu yang buruk. Sesuatu yang bisa dianggap sebagai rahasia seorang gadis semanis dia. Dia mencoba menatap dalam-dalam ke mata Hana yang masih memancarkan rasa cemas.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Lidahnya terasa kelu untuk mengiyakan atau menolak permintaan Hana. Dia masih berpikir Hana akan membuat satu pengakuan. Mungkin pengakuan yang pernah dia dengar dari kawan-kawannya tentang seorang gadis yang mengaku kalau dirinya tidak perawan lagi ketika hendak menikah. Dia menarik nafas dalam-dalam. Sungguh, dia tidak punya alasan untuk marah atau tidak. Dan dia pun tidak mengerti apakah dia harus kecewa atau menghadapi hal semacam itu dengan biasa-biasa saja. Lagi-lagi dia hanya bisa menatap mata Hana. Sepasang mata yang bulat besar dan selalu memancarkan kilat basah. Mata yang telah mengikatnya pada enam bulan perjalanan cinta gadis dan jejaka.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Apakah …”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia tidak mampu bertanya lebih lanjut. Sejujurnya dia menunggu reaksi dari dirinya sendiri apabila sangkaannya itu benar adanya. Mata itu masih menatap lekat kepadanya. Pasrah. Benar-benar basah.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dilihatnya Hana pun hanya mengangguk lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Cahaya matahari membuat wajahnya tampak lebih terang. Dia menghela nafas panjang. Seperti tengah melepas beban yang sangat berat. Tapi kemudian yang terjadi adalah Hana berdiri dan melangkah ke arah pintu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Kak. Kenapa kamu tidak bertanya apa yang membuat aku tidak perawan lagi?”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hana mulai menangis. Sementara dia menduga Hana, dengan pertanyaannya itu, sudah pasti menganggapnya egois. Sama seperti lelaki lain yang menginginkan gadis idamannya masih dalam keadaan suci ketika dinikahi. Seperti Shinta, seorang dewi yang dijaga kesuciannya selama diculik oleh raja raksasa Rahwana dan juga lolos tanpa luka di hari pembakaran api suci oleh suaminya Rama. Padahal dia hanya merasakan kebimbangan untuk bersikap. Apakah dia akan mencontoh kelembutan ucapan Isa saaat bertemu seorang pelacur Samaria di tepi sumur atau ia akan ikut menangis bersama calon istri yang dicintainya dan menganggap dunia memang begitu jahat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dia membiarkan Hana melangkah keluar rumah tanpa berusaha mencegahnya. Dia tidak ingin merusak kesedihan, karena kesedihan adalah ruangan yang paling dekat dengan ruang Tuhan. Maka dibiarkannya Hana membawa pulang kesedihannya sebagaimana dia mengundang masuk kesedihannya sendiri ke dalam hati.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pagi hari, ketika dia mencabut charger telepon genggamnya, dia menemukan sejumlah pesan pendek yang belum terbaca. Semuanya dari Hana. Salah satu pesan pendek yang membuatnya begitu bahagia adalah tentang doa dan pengampunan dari Hana untuk orang-orang yang telah memperkosanya beberapa tahun silam. Kini dia tahu betapa Hana lebih baik dari wanita-wanita yang pernah dia baca kisah-kisahnya. Hana baginya adalah gadis idaman yang paling dia dambakan.&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-1949025704512860562?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/1949025704512860562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=1949025704512860562' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/1949025704512860562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/1949025704512860562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/09/gadis-idaman.html' title='Gadis Idaman'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-886612196528528422</id><published>2008-09-04T01:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T03:09:18.817-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Cincin Kawin</title><content type='html'>Dia masih memandang jejak putih di jari manisnya. Jejak berbentuk garis&lt;br /&gt;melingkar yang berwarna lebih putih dibandingkan kulit coklatnya. Jejak&lt;br /&gt;itu ditinggalkan oleh sebentuk cincin yang pernah melingkari jari&lt;br /&gt;manisnya itu. Sebentar di ruangan yang hanya terdengar suara berita dari&lt;br /&gt;televisi itu terdengar hela nafasnya. Sepertinya dia benar-benar merasa&lt;br /&gt;kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa perlu kita gadaikan dulu Bu, cincin ini?" Ditatapnya lekat mata&lt;br /&gt;istrinya yang sejak tadi mengeluh tentang beras yang sudah habis, susu&lt;br /&gt;anak yang belum terbeli, dan tagihan yang menumpuk di atas meja. Hanya&lt;br /&gt;itu usul yang tercetus setelah dia berpikir keras tentang cara&lt;br /&gt;mendapatkan uang untuk memenuhi keluhan Sang Istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah Pak. Hanya itu satu-satunya perhiasan yang kita punya.&lt;br /&gt;Lagipula itu 'kan cincin pernikahan. Tidak baik jika digadaikan."&lt;br /&gt;Sebenarnya dia juga tidak tega jika tanda pernikahan mereka tak lagi&lt;br /&gt;terpasang di tempatnya. Di jari manis tangan kanan suaminya. Keduanya&lt;br /&gt;masih muda. Umur tigapuluhan. Wajah suaminya, meskipun biasa-biasa saja,&lt;br /&gt;tapi masih terlihat muda. Wajar jika ia bisa dikira masih bujangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Bu? Kita sudah sangat terdesak. Besok orang bank pasti sudah&lt;br /&gt;datang menagih hutang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dari mulut mungil Si Istri terdengar kalimat pendek tanda&lt;br /&gt;pasrah. Dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi&lt;br /&gt;kondisi ekonomi rumah tangganya. Sejak dia hamil dan sering terjadi&lt;br /&gt;pendarahan, suaminya menyarankan agar dia berhenti bekerja dan total&lt;br /&gt;menjadi ibu rumah tangga. Sejak itu pula dia hanya bergantung pada&lt;br /&gt;penghasilan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terserah Bapak sajalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada pagi harinya, sebelum sampai di kantor, dia datang ke&lt;br /&gt;pegadaian. Dipandanginya flag chain di dalam ruangan berwarna hijau itu&lt;br /&gt;yang bertulisan "Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah." Di bibirnya&lt;br /&gt;tiba-tiba tersungging sebuah senyuman. Betulkah ada masalah yang bisa&lt;br /&gt;selesai tanpa menimbulkan masalah lain? Apakah sebuah ketenangan setelah&lt;br /&gt;membayar hutang dengan berhutang bukan sebuah masalah? Dia tahu benar&lt;br /&gt;bahwa setelah pergi ke tempat ini, dia harus segera mencari pekerjaan&lt;br /&gt;sampingan atau mengirimkan puisi dan cerita pendek ke berbagai surat&lt;br /&gt;kabar agar mendapat uang guna mengambil kembali barang jaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini kali pertama dia ke pegadaian. Dengan cermat dia memperhatikan&lt;br /&gt;bagaimana cara seorang meminjam uang. Dia mengikuti apa yang dilakukan&lt;br /&gt;oleh seorang di depan dia yang menuliskan sesuatu pada sebuah formulir&lt;br /&gt;dari kertas fotokopian di sebuah meja kecil. Dan tak lama sesudahnya, ia&lt;br /&gt;pun ikut-ikutan menyerahkan form dan cincin kawinnya pada seorang&lt;br /&gt;petugas di pojok kanan meja layanan. Lalu dengan cemas memandang jam&lt;br /&gt;dinding yang telah menunjukkan pukul delapan lebih, dia duduk di antara&lt;br /&gt;kerumunan ibu-ibu yang entah menunggu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi dia menghela nafas panjang. Ada semacam kelegaan karena tak&lt;br /&gt;lama kemudian orang yang tadi berada di depan dia sudah dipanggil untuk&lt;br /&gt;ditaksir jumlah pinjamannya. Pasti tak lama lagi, pikirnya. Dan benar&lt;br /&gt;juga, dia pun akhirnya dipanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuh ratus ribu, ya Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sedikit terkejut. Antara mengerti bahwa cincin kawinnya ditaksir&lt;br /&gt;senilai tujuh ratus ribu dan sedih karena cincin yang dulu dibelinya&lt;br /&gt;seharga satu juta lima ratus ribu hanya dihargai segitu saja. Tapi dia&lt;br /&gt;tidak punya pilihan, uang sebanyak tujuhratus ribu sudah cukup untuk&lt;br /&gt;membayar tagihan, membeli sekaleng susu, dan 10 kilogram beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," tukasnya cepat dan pendek seketika dia tersadar dari kemelut&lt;br /&gt;pikiran di dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sisanya tiga ratus ribu, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan istrinya, dia menyerahkan enam lembar pecahan limapuluh ribu ke&lt;br /&gt;tangan istrinya. Istrinya tampak kecut. Dia mengira istrinya tidak bisa&lt;br /&gt;terima dengan upayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kenapa, Bu?" Dia mencoba mencairkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada apa-apa." Pendek saja jawabnya. Dia berpikir keras apa yang&lt;br /&gt;sedang dipikirkan istrinya terhadap dia setelah dia menggadaikan cincin&lt;br /&gt;kawin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa membahagiakan kamu dan anakmu." Dia&lt;br /&gt;berusaha menyentuh perasaan istrinya dengan kalimat-kalimat yang tampak&lt;br /&gt;pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya tetap tidak menjawab. Yang dilakukannya adalah menyimpan uang&lt;br /&gt;itu di lemari, dan segera menyusul anaknya yang tertidur di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kembali menghela nafas. Membuka kemejanya dan melangkah ke arah&lt;br /&gt;belakang. Mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis duduk di sebelahnya di bus kota. Gadis yang manis.&lt;br /&gt;Rambutnya yang panjang tergerai sesekali menerpa pipi, leher dan&lt;br /&gt;pundaknya karena tertiup angin. Menyisakan wangi entah syampu atau&lt;br /&gt;sejenis vitamin rambut. Dia menoleh ke arah gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf," gadis itu segera merapikan rambutnya. Mengikatnya ekor kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mengapa," jawabnya pendek. Dalam hatinya dia menyukai wangi yang&lt;br /&gt;terhidu olehnya. Dia begitu ingin menciumnya lagi. Diliriknya gadis itu&lt;br /&gt;baik-baik. Memang cantik, pikirnya. Jemari tangan kirinya menyentuh jari&lt;br /&gt;manisnya. Kosong. Tidak ada cincin kawin di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh kenalan?" Ujarnya tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 04 September 2008. &lt;br /&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-886612196528528422?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/886612196528528422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=886612196528528422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/886612196528528422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/886612196528528422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/09/cincin-kawin.html' title='Cincin Kawin'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-8218046338664901608</id><published>2008-08-06T15:28:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T03:10:13.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Death Punishment a.k.a Hukuman Mati</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Akhir-akhir ini, pada berita nasional ada pihak-pihak yang menginginkan pemerintah meninjau kembali UU No. 2/Pnps/Tahun 1964 tentang Hukuman Mati. Seorang penggiat HAM bahkan meminta Komnas HAM untuk bertindak tegas terhadap pelaksanaan hukuman mati, terhadap siapapun di Indonesia, dengan menyarankan proses yang intensif dari Pemerintah dalam rehabilitasi bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan. Tetapi yang sering menjadi sorotan dalam hal penolakan UU hukuman mati itu adalah TPM yang sudah meminta peninjauan UU itu kepada Mahkamah Konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, saya setuju bahwa Indonesia adalah Negara yang dilandaskan atas hukum. Dan dari sisi hukum, perlu ada aturan yang membuat ngeri agar orang tidak bertindak jahat. Perlu diingat, sudah ada hukuman mati pun ternyata masih banyak orang yang demi hal-hal sepele tega menghilangkan nyawa orang lain! Bagaimana jika tidak ada final punishment seperti hukuman mati? Menurut hemat saya, UU hukuman mati wajib adanya sebelum angka kriminalitas dengan disertai pembunuhan turun dengan sangat drastis di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya cukup heran, kenapa sepertinya kejadian belakangan ini memihak? Pada waktu Tibo cs. dihukum mati, banyak orang yang sepertinya setuju dengan hukuman mati, padahal Kepausan Roma sampai mengirim surat, yang diterima oleh Wakil Presiden RI, agar pemerintah menimbang kembali keputusan pelaksanaan hukuman mati itu. Demikian juga saat Sumiarsih dan Sugeng dihukum mati, tidak ada "ribut-ribut" untuk meninjau kembali UU itu. Dan yang lebih lucu lagi, alasan peninjauan kembali itu adalah proses pelaksanaan hukuman mati yang dengan menggunakan cara ditembak itu. Konon, menurut si pengusul, ditembak itu menimbulkan proses penyiksaan. Oleh karena itu, si pengusul menyarankan agar penembakan mati digantikan dengan hukum pancung yang mana dengan bermacam alasan dikatakan tidak menimbulkan rasa sakit kepada si terhukum. Ini jelas alasan yang mengada-ada. Bagaimana dia bisa mengemukakan setelah kepala terpenggal maka tidak ada unsur penyiksaan lagi bagi si terhukum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit itu munculnya dari otak memang, dan di sekolah menengah pasti hampir semua siswa di Indonesia pernah mengorek serabut otak katak demi mengesahkan teori gerak otot yang bisa diperintah otak, dan ada juga otot yang bekerja tanpa perlu perintah otak. Apakah setelah otak itu hilang, otot-otot tubuh tidak tersiksa akibat hilang koordinasi sebelum mengalami kematian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian yang tidak disadari (sehingga tidak menimbulkan rasa sakit) justru sering terjadi "mobil-mobil goyang" di Ancol. Penyebabnya adalah keracunan CO. Kenapa tidak ini saja yang diusulkan oleh si pengusul? Alasannya jelas, tidak ada rasa sakit dan terhukum mati hanya langsung tidak sadar dan tidak bangun lagi plus (ini lebih penting) kepalanya tetap utuh dan menempel di badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada pertanyaan lain yang pernah diajukan oleh asisten domestik di rumah saya, "Itu yang penembaknya dosa tidak ya?" Wah, jika sudah bicara dosa dan agama saya lantas teringat bagaimana seorang wanita yang dituduh pelacur (banyak yang mengatakan bahwa wanita itu Maria Magdalena) diselamatkan oleh Yesus dari hukum rajam. Terlepas dari peristiwa itu menunjukkan betapa Yesus sangat mengerti Taurat, karena para penuduh tidak lengkap bukti-buktinya sehingga tidak valid jika ada yang dijatuhi hukum rajam, yang ingin disampaikan oleh Yesus ketika itu adalah hukuman itu haruslah datangnya dari Tuhan saja. Sebab Tuhan itu Maha Pengampun sekaligus Maha Penghukum, sehingga tidak wajibkan dalam agama kristen seseorang menghukum orang lain karena kesalahannya. Melainkan dia harus selalu mengampuni orang lain setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kontradiksi antara hukum negara dan hukum agama, saya kembali merujuk perkataan Yesus ketika ditanya soal pajak. Dia malah bertanya kepada orang-orang yang bertanya "Ada gambar siapa di mata uang kalian?" Lalu ketika orang-orang itu menjawab bahwa di mata uang itu terdapat gambar kepala Kaisar Roma, Yesus pun kembali berkata bahwa dengan demikian mereka harus melakukan kewajibannya kepada yang Kaisar, sebab itu memang hak dari Kaisar atas pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-8218046338664901608?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/8218046338664901608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=8218046338664901608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/8218046338664901608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/8218046338664901608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/08/death-punishment-aka-hukuman-mati.html' title='Death Punishment a.k.a Hukuman Mati'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-3434828659788432217</id><published>2008-05-26T20:11:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T03:10:28.790-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Mengendus Jejak Cheng Ho di Pecinan Semarang</title><content type='html'>&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Sejarah masuknya bangsa Cina ke &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di tanah Jawa sangat akrab dengan legenda laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang terkenal itu. Maka ketika saya mendapat tugas supervisi acara grebek pasar yang diselenggarakan oleh sebuah stasiun televisi swasta, saya berkeinginan untuk bisa sampai di kuil Sam Po Kong yang termasyhur itu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Keberangkatan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta tertunda sekitar satu jam - konon oleh adanya awan tebal dan kabut di atas pantai utara Jawa – menyebabkan saya baru bisa menginjakkan kaki di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pada pukul delapan malam. Seorang pengemudi mobil rental langsung menyambut dengan sedikit menggerutu karena dia sudah menunggu sejak pukul enam sore di Bandara A. Yani. Dan tidak lama kemudian, kami sudah menuju ke arah Semarang Atas ke daerah bernama Candi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Malam itu, karena kami buta sama sekali tentang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, seusai mandi kami hanya “turun” sedikit untuk mencari makan. Atas saran pengemudi mobil rental itu, kami mencicipi gudeg di sebuah warung pinggir jalan. Seorang teman, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; namanya, berbisik bahwa dia merasakan sugesti negatif pada perutnya lantaran melihat Ibu penjual gudeg itu menyiapkan makanan kami dengan tangan, tanpa sendok. Dari sejak datang rupanya dia memperhatikan hal itu. Dan sebenarnya dia sangat berharap Ibu penjual gudeg itu tidak menerima uang karena dia menyiapkan makanan dengan tangan. Akan tetapi harapan dia musnah, karena Ibu tersebut ternyata menerima uang juga dengan tangan. Walhasil, setiba di hotel teman tersebut buru-buru masuk kamar mandi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Paginya, perjalanan kami ke daerah Pecinan dimulai. Seorang teman yang memang lahir dan besar di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mengajak kami sarapan di sebuah kedai soto. Soto Bokoran sebutannya. Kata Luki, teman yang asli &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu, soto tersebut lebih nikmat dibandingkan dengan Soto Bangkong. Saya tidak bisa membedakan karena memang belum pernah mencicipi kedua jenis soto tersebut. Soto ayam yang dicampur nasi di dalam sebuah mangkuk kecil, disertai dengan lauk pelengkap seperti pindang telur, sate kerang, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bacem, ternyata memang nikmat. Goreng bawang putih yang ditabur di atasnya menjadikan aroma yang khas.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Pemandangan di kedai Soto Bokoran yang terletak di Gang Pinggir ini betul-betul unik. Kedai yang kecil dipadati oleh pengunjung sampai ke bagian depan. Dan pengunjungnya mayoritas dari kalangan TiongHoa. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan Ndaru yang beragama Islam bertanya kepada Luki tentang kehalalan soto tersebut. Setahu Luki, meskipun tidak ada tanda halalnya, soto ayam itu murni soto ayam biasa. Masyarakat Tionghoa di Semarang rata-rata disiplin soal hal yang sensitif seperti itu. Dia justru menyarankan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan Ndaru untuk berhati-hati pada penjual mi ayam atau mi Jawa di pinggir jalan, karena ada dari mereka yang menggunakan minyak / lemak babi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Gang Pinggir ternyata baru sebagian kecil kehidupan dan gambaran masyarakat Tionghoa di Pecinan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sepenglihatan saya ketika melintasi daerah itu, setidaknya ada dua buah vihara kecil di sekitaran daerah itu. Saya kembali teringat pada Kuil Sam Po Kong itu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Hampir setengah hari, kami menghabiskan waktu di Pasar Bulu. Pasar ini termasuk pasar yang sudah cukup tua di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Pasar ini terletak di depan taman Tugu Muda. Tak jauh dari Pasar sudah berdiri gagah bangunan kuno yang terkenal keangkerannya ; Lawang Sewu. Ndaru, si pengemudi mobil rental itu, berkali-kali mempromosikan diri pernah mengantar turis lokal seperti kami untuk memasuki Lawang Sewu, bahkan menurut dia yang paling seram dan tidak enak perasaannya ketika memasuki penjara bawah tanah yang gelap dan lembab. Kami tidak banyak menanggapi, karena &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan Luki tidak mau mencoba untuk berpartisipasi dalam tur semacam itu. Saya hanya berkomentar alangkah sayangnya bangunan bersejarah seperti itu dibiarkan hancur dimakan waktu. Pada pelataran Lawangsewu setidaknya ada dua buah bangunan semi permanent yang berfungsi sebagai semacam pos penjagaan sekaligus warung. Saya pun teringat pada Istana Maimun di Kota &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang tidak bisa lagi dinikmati bagian depannya dari jalan raya karena tertutup oleh bentangan warung makan yang konon dimiliki oleh ahli waris Istana tersebut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Siangnya, Luki kembali mengajak saya makan di daerah pecinan. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, menurutnya, ada sebuah kedai rumahan seperti Soto Bokoran tadi tetapi yang ini menyajikan masakan dari daging babi. Luki menambahkan makanan di situ yang paling enak adalah sate dagingnya, karena dagingnya betul-betul disajikan tanpa lemak. Berbeda di tempat-tempat lain bahkan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Mengingat Alvin dan Ndaru, saya menolak ajakannya. Dan saya sarankan untuk mencari tempat makan yang lain. Akhirnya siang itu kami memutuskan untuk mencoba mencicipi lumpia yang terkenal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Luki mengarahkan kami kembali ke daerah pecinan, tetapi kali ini di sebuah jalan bernama Gang Lombok. Sambil makan, Luki memberitahu bahwa ejaan yang benar untuk lumpia adalah Lun Pia yang berarti Kue (Pia) Naga (Lun). Pada kedai itu, tertulis Lun Pia Rasa Boom. Dan lagi-lagi Luki menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Boom adalah rebung.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Persis di sebelah kedai Lun Pia itu, berdiri sebuah kelenteng tua. Bangunannya terbuat dari kayu hitam bulat. Bahkan pada pintunya terdapat bentukan dari kayu juga yang berfungsi untuk menahan banjir. Semacam palang pintu tetapi diletakkan di bagian bawah kusen. Saya dan teman-teman pun masuk ke dalam kelenteng tersebut. Kebetulan hari itu tidak ada yang sedang beribadah di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Klenteng tampak lengang hanya ada beberapa orang yang tengah mempersiapkan sesaji dan semacam kertas yang dilipat-lipat. Di tembok bagian kanan, saya tergelitik untuk mengabadikan sebuah pualam yang dipahat dengan tulisan : Anggaplah hidup kita itu sebagai impian, sulapan, pelembungan busa, bayangan, embun atau kilat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Pada bagian depan klenteng itu, terdapat sebuah miniatur kapal yang cukup besar. Miniatur itu terletak pada sebuah sungai kecil. Konon, kapal laksamana Cheng Ho itu dahulu kala bisa berlabuh hingga daerah ini, dengan kata lain sungai kecil itu dahulunya adalah sebuah sungai yang besar.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Berhubung masih ada kegiatan lain di Pasar Bulu yang harus kami kerjakan, maka tur singkat di klenteng tua itu berlangsung singkat. Salah satu bagian yang saya suka pada klenteng tua itu adalah diorama patung-patung keramik kecil yang menceritakan tentang darma. Sayangnya di beberapa tempat diorama unik, karena bentuknya mirip ukiran pada selembar papan kayu yang tidak terlalu tebal itu, telah mengalami beberapa kerusakan seperti hilangnya kepala beberapa tokoh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Hari berikutnya, setelah malamnya kami kecewa karena tidak bisa menemukan Nasi Ayam Yu Sri yang terkenal itu gara-gara kekeraskepalaan Ndaru, kami berada di Pasar Jatingaleh. Luki sudah duluan pulang ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga tadi malam, karena ada urusan keluarga. Lokasi pasar ini cukup dekat dengan Universitas Diponegoro. Kedekatan lokasi ini menyebabkan kami bisa mampir sebentar ke salah satu warnet untuk memperbaiki logo produk untuk perlengkapan acara. Setengah hari itu benar-benar kami habiskan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, karena di Pasar Jatingaleh itu acara hanya boleh berlangsung hingga pukul 3 siang. Setelah selesai acara, malamnya kami jalan-jalan di daerah simpang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Menjelang pukul 10, tiba-tiba saya teringat seorang teman yang ada di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Saya iseng mengontak dia lewat pesan pendek. Tak disangka teman itu, Temuzin, menyatakan siap untuk mengantar ke mana saja kami ingin pergi. Kira-kira &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; belas menit dia sudah sampai di sebuah warung tenda pinggir jalan yang menjual “seafood” tempat kami makan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Akhirnya, atas saran dia berhubung tak banyak tempat yang buka sampai larut malam di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, kami sampai kembali di daerah Pecinan. Saya dan teman-teman cukup kaget karena ternyata di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kami bisa menjumpai satu ruas jalan yang ditutup ketika sore hari untuk dijadikan semacam flea market atau pasar malam. Mirip Kiya-kiya di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Menurut Temuzin, pasar malam dadakan ini hanya berlangsung di hari Sabtu dan Minggu saja. Setelah cukup lama kami berbincang tentang sejarah Semarang, Wali Sanga, Cheng Ho, kehampirkalahan kekaisaran Ming oleh bangsa Tartar dan Pramoedya Ananta Toer dengan Temuzin yang ternyata penyuka sejarah ini, dan setelah dua mangkuk es durian kami tandas, kami pun berpisah pulang. Temuzin berjanji akan menjemput kami di Pasar Babadan, Ungaran dan mengantarnya ke Bandara esok harinya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Hari ke tiga, dalam perjalanan ke arah Pasar Babadan Ungaran, saya dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; diberitahu Ndaru keberadaan sebuah pagoda, yang konon terbesar di kawasan Asia Tenggara. Tak jauh selepas keluar Kota Semarang, di sisi kiri jalan tampak mencuat atap runcing pagoda yang keemasan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; meminta Ndaru untuk mampir sebentar di situ. Pagoda itu tampak bersih. Dari pelataran parkir menuju pagoda ada sebuah pohon yang di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; disebutkan pohon bodhi berasal dari seorang bikshu. Saya sempat mengabadikan patung budha di dekat pohon itu, dan sebuah patung dewi kwan Im. Saya dan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; saling mengabadikan diri di tangga pagoda, sebelum kami naik ke bangunan pagoda dan bertemu seorang lelaki tua yang baru selesai beribadah. Ketika kami bertanya apakah bisa memotret isi pagoda, lelaki tua itu berkata,”Silakan memotret, tetapi resiko ditanggung sendiri. Coba kalian potret di malam hari juga. Lalu bandingkan kedua potret itu.” &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; merasa terganggu dengan amar lelaki tua itu. Dia mengajak saya agar segera pergi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Di dalam mobil kami berkelakar tentang amar lelaki tua itu, tentang perbedaan potret malam hari dan siang hari. Saya rasa &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sama seperti saya tidak percaya pada hal-hal yang berbau tahayul. Meskipun untuk soal Lawang Sewu, dia mengaku tidak berani, takut kesurupan, dan diikuti hantu dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Pukul tiga sore, kami sudah dijemput oleh Temuzin di Pasar Babadan. Dia mengajak kami makan yang ringan-ringan saja. Akhirnya kami “wisata kuliner” sebentar sebelum pulang, dimulai dari Sate Suruh di daerah Sriwijaya. Ketika teman saya yang lain menelepon untuk sekedar bertanya saya berada di mana, saya salah sebut dengan daerah Siliwangi. Bukan rahasia bahwa sejak Perang Bubat hampir bisa dipastikan tidak ada nama jalan Siliwangi di daerah Jawa Tengah / Timur sebagaimana tidak ada nama jalan Diponegoro di kota-kota di Jawa Barat. Sate Suruh ini berasal dari daerah Klaten. Setelah mencicipi ternyata kental sekali rasa balutan rempah-rempahnya, juga dengan bumbu sambalnya. Mungkin ini kelebihannya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Setelah sedikit kenyang, kami mampir ke sebuah toko es krim yang menurut Temuzin sudah sangat lama berdiri. Dulu toko ini menjadi ajang bermain anak-anak usia SD karena di bagian atasnya ada mesin permainan dan mainan lain berbentuk mobil, kuda, dan sebagainya yang bisa dinaiki. Cukup puas mencicipi menu pencuci mulut, kami melanjutkan belanja Lun Pia di jalan Mataram. Temuzin mengatakan Lun Pia Mataram juga tak kalah terkenalnya dengan Lun Pia Gang Lombok. Akhirnya setelah mampir di beberapa tempat seperti Ayam Bakar Tulang Lunak di Jagalan, dan Toko Oleh-oleh Bonafide, kami pun dibelokkan ke arah Kelenteng Sam Po Kong.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Hanya saya dan Temuzin yang sangat antusias memasuki Kelenteng terbesar di &lt;st1:city st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:city&gt; ini, karena &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Alvin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; disibukkan dengan panggilan tugas di telepon genggamnya. Kelenteng Sam Po Kong juga sering disebut sebagai Gedung Batu. Kata Sam Po sendiri juga merupakan ucapan untuk Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;dulu pernah menjadi Kasim San Bao (dalam dialek Fujian menjadi San Po / Sam Po) atau sering disebut orang sebagai Sam Po Tay Djien. Kelenteng ini terletak di daerah Simongan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Seingat saya ada empat bangunan utama di kelenteng Sam Po Kong. Bangunan pertama adalah ruang ibadah terbesar. Bangunan kedua adalah makam Wang Jinghong yang oleh lidah orang Jawa disebut Dampo Awang. Di sebelahnya adalah makam Juru Masak Armada itu yang disebut oleh orang Jawa sebagai Kyai dan Nyai Tumpeng. Dan bangunan ketiga adalah tempat diletakkannya jangkar Kapal Cheng Ho. Sedangkan bangunan terakhir tidak kami masuki karena dikhususkan untuk ibadah. Di sekitar bangunan itu ada gua bawah tanah, dan sumur yang dikeramatkan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Di tembok keliling dipasangi plakat pualam yang berisikan kisah-kisah pelayaran Cheng Ho. Beberapa di antaranya sudah copot dan pecah dari tembok. Beberapa kisah yang sempat kami diskusikan adalah asal usul &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang dulu disebut Ba Lin Bang, dan tunduknya Majapahit pada kekaisaran Cina di akhir masa kehancurannya. Hal ini jarang sekali diungkap oleh guru sejarah di sekolah, bahwa pada suatu waktu dahulu Indonesia pernah berada di bawah kekuasaan kekaisaran Cina, dan dari mereka lah kita bisa menemukan beberapa hal lain semacam kenapa orang Palembang, orang Dayak, orang Manado banyak yang mirip orang Cina. Salah satu kunci jawabannya ada di Pecinan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" class="MsoNormal"&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-3434828659788432217?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/3434828659788432217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=3434828659788432217' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/3434828659788432217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/3434828659788432217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/05/mengendus-jejak-cheng-ho-di-pecinan.html' title='Mengendus Jejak Cheng Ho di Pecinan Semarang'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-4181352134154763155</id><published>2008-03-13T23:11:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T03:10:46.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Perempuan Mengusik Kenangan</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignleft" border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh5m5LIfCI/AAAAAAAAAFA/2kLxxV0Ew3w/s200/SelasarKenangan.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Resensi buku : Selasar Kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Selasar Kenangan&lt;br /&gt;Penulis : Anjar, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Harga : Rp. 24.500&lt;br /&gt;Tebal : xx+95&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sudah lama saya lihat covernya semenjak bergabung di Apresiasi-Sastra. Sebuah komunitas berbasis mailing-list yang banyak sekali dihuni oleh penulis-penulis yang kompeten di bidangnya. Buku ini merupakan hasil lomba cerita pendek yang diadakan sebagai peringatan ulang tahun pertama komunitas ini.&lt;br /&gt;Lomba cerpen itu ditujukan untuk penulis perempuan dengan tema "Masa Kecil" dan dari 21 naskah yang masuk, setelah diseleksi oleh 13 kritikus lelaki, jadilah 10 naskah cerpen yang diterbitkan menjadi buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggagas Apresiasi-Sastra, Djodi Budi Sambodo, dalam kata pengantarnya menyebutkan salah satu tujuan dari karya-karya ini adalah menjernihkan kemanusiaan kita di tengah-tengah kepungan materi. Dan selaras dengan itu, maka 10 cerpen dalam buku ini benar-benar terasa begitu alami menstimulasi kenangan dari dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen pertama, Putaran Batu, persoalan yang sedang dihadapi oleh tokohnya tidaklah menjadi penting bagi kita. Tetapi yang ditonjolkan adalah pengalaman masa kecil yang pada akhirnya seakan-akan memberi kita kekuatan untuk bisa mengatasi ketakutan kita. Dan ketakutan masa kecil ternyata merupakan ketakutan karena ketidaktahuan kita sebagai kanak-kanak. Ketidaktahuan semacam itulah yang banyak dijabarkan sebagai titik awal penggalian masa kanak-kanak. Seperti pada cerita ; "Papa Menepuk Nyamuk, Sayang", "Jemputan Sepeda Mama", dan "Segiempat bukan Segitiga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di saat para penulis merenungkan bahwa masa kecil adalah bagian yang justru menjulur hingga masa kini, pembaca disuguhkan pada kesimpulan-kesimpulan kecil yang mau tak mau harus membuat kita tersenyum, meskipun kadang getir. Pada cerita "Dilarang Membenci Becak", dan "Sedikit Kenangan Tersisa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita terakhir, justru agak berbeda karena sebenarnya Achoi memang masih kecil, dan tokoh aku juga tidak sedang menceritakan masa lalu dirinya. Spoiler yang ada di belakang buku juga sama sekali tidak menggambarkan inti cerita sesungguhnya bahkan seakan berusaha mengecohkan harapan pembaca pada cerita "Sesuatu yang Bernama Kenangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lay-out dan tipologi, buku ini sepertinya memang dirancang sangat serius agar bisa dinikmati. Akan tetapi dua buah spoiler di belakang sampul buku ini benar-benar sesuatu yang seharusnya tidak perlu. Spoiler untuk "Hantu di Kamar Baru" membuat pembaca langsung bisa membaca apa sebenarnya yang ingin diutarakan oleh penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan Selasar Kenangan sangat menarik untuk dibaca, hanya saja ketika membukanya di halaman awal saya cukup kaget melihat puisi kolaborasi yang disajikan itu. Saya kira itu adalah daftar isi karena ada angka dan nama. Cukup rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-4181352134154763155?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/4181352134154763155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=4181352134154763155' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/4181352134154763155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/4181352134154763155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/03/perempuan-mengusik-kenangan.html' title='Perempuan Mengusik Kenangan'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IkrPSDNbczI/Rrh5m5LIfCI/AAAAAAAAAFA/2kLxxV0Ew3w/s72-c/SelasarKenangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-31113658950033589</id><published>2008-03-13T20:24:00.000-07:00</published><updated>2011-03-02T19:10:15.636-08:00</updated><title type='text'>Resensi Buku : Harga Sebuah Hati</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;MENYIKAPI KEBOHONGAN-&lt;br /&gt;KEBOHONGAN YANG NYATA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Judul Buku : Harga Sebuah Hati&lt;br /&gt;Penulis : Tias Tatanka, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Akoer&lt;br /&gt;Harga : 27.900&lt;br /&gt;Tebal :142 hal.&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pagi mantan remaja 80-an seperti saya, nama Gola Gong tentunya sudah tidak asing lagi. Lewat serial cerita pendeknya Balada Si Roy di majalah Hai kualitasnya sebagai penulis cerita pendek bahkan novel sudah tidak diragukan lagi. Medio 2007 saya akhirnya baru sempat berjabat tangan dengan dia di sanggarnya yang dikenal sebagai Rumah Dunia. Di sana pula saya mengenal beberapa nama yang dikenal sebagai penyair dan ternyata menyumbang naskah cerita pendek di dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini punya tujuan yang mulia, yakni menggalang dana demi kelangsungan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh Rumah Dunia di Serang. Serang merupakan daerah yang tergolong unik dari sisi bahasa di tataran Jawa Barat. Di samping itu, gambaran sebagai daerah yang sedang berkembang pun dapat dirasakan dari kultur kehidupan masyarakatnya. Hal ini tergambar jelas di dalam buku Harga Sebuah Hati. Bermacam-macam kehidupan kaum marjinal diketengahkan seperti kehidupan pemulung (Harga Sebuah Hati), tukang becak (Si Dul Ingin Sekolah), calon tenaga kerja migran (Diantar Kematian), dan karyawan kecil (Baju Baru Buat Lebaran, Seroja, Bandot).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi tema, meskipun mayoritas settingnya di ambil dari keluarga kelas menengah, ternyata tidak menimbulkan keseragaman. Persoalan kemiskinan memang masih menjadi hal yang kuat, tetapi di sisi lain ada beberapa hal yang coba ditarik oleh para penulis seperti korupsi (Baju Baru Buat Lebaran), cinta (Seroja), dan kejujuran (Harga Sebuah Hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gola Gong sendiri menuliskan tentang ketegaran hati seorang perempuan (Tiga Lelaki yang Memberiku Cahaya) menghadapi kemalangan yang menimpa dirinya. Menilik bahasa yang dipergunakan dalam cerita ini, sepertinya Gola Gong sudah mengarahkan pandangannya ke hal-hal yang religius. Meskipun sifatnya masih sangat universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga Sebuah Hati, cerita pendek yang sekaligus menjadi judul buku ini sebenarnya kurang begitu kuat konfliknya. Pribadi remaja Ntong yang dari awal diteropong jiwanya ternyata tidak diselesaikan dengan baik oleh si penulis ketika Bapaknya, seseorang yang sangat dipercaya olehnya, berusaha menutupi perbuatan jahatnya. Perubahan rasa percaya kepada rasa benci tergambarkan sangat samar, padahal itu adalah klimaks dari cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, saya lebih senang dengan ending cerita Baju Baru Buat Lebaran yang ditulis oleh penyair kawakan Totok St. Radik. Perang batin Mustaqim tersampaikan dengan baik. Sehingga ketika dia memutuskan untuk berbelanja bersama istri dan anak-anaknya, saya sebagai pembaca sangat memaklumi keputusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya utarakan di awal, bahwa tidak melulu hal yang berhubungan dengan buku ini merefleksikan kehidupan masyarakat pinggir kota. Ada hal yang cukup menarik juga telah diangkat oleh Wangsa Nestapa yaitu bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Menghindarkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang tanpa kita sadari sesungguhnya meracuni daya nalar anak-anak. Setidaknya, lewat buku ini pembaca bisa ikut merasakan bagaimana sastrawan-sastrawan Serang menyikapi kebohongan-kebohongan yang nyata yang juga berada di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-31113658950033589?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/31113658950033589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=31113658950033589' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/31113658950033589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/31113658950033589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/03/resensi-buku-harga-sebuah-hati.html' title='Resensi Buku : Harga Sebuah Hati'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-8635782742128896361</id><published>2008-02-26T18:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-26T23:27:56.710-08:00</updated><title type='text'>[Cerita Anak] Kenapa Burung Gagak Berbulu Hitam</title><content type='html'>&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;Jaman dahulu, semua bangsa burung hanya memiliki bulu-bulu berwarna putih.&lt;br&gt;Lalu di suatu musim semi bermekaranlah bunga-bunga di seluruh padang rumput,&lt;br&gt;semak-semak dan hutan.&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img style="width: 279px; height: 160px;" class="alignmiddleb" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:xCNnCeOWBKJFHM:http://dnr.state.il.us/lands/education/habitatposter/images/spring.gif" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;Dunia pun menjadi berwarna-warni. Bangsa burung terlihat&lt;br&gt;sangat kontras dengan warna-warni bunga-bungaan itu. Apalagi pada musim itu,&lt;br&gt;seluruh kupu-kupu dengan sayap yang berwarna pun ikut menghiasi alam.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seekor ayam hutan yang gagah, pada suatu pagi, membuat keributan&lt;br&gt;dengan suaranya yang lantang. "Hai teman-teman bangsa burung,&lt;br&gt;berkumpullah! Aku punya rencana yang sangat baik bagi kita semua!"&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img style="width: 155px; height: 161px;" class="alignmiddleb" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:j83LHrpTNCjLqM:http://www.summ.org/travels/025_kauai/side/rooster.jpg" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;Setelah seluruh burung berkumpul, ayam hutan itu mulai berkata kepada mereka,&lt;br&gt;"Teman-teman sekalian, sudah beberapa hari ini aku mengumpulkan berbagai jenis&lt;br&gt;bunga dan buah-buah yang memiliki warna yang indah. Barangkali kita semua sudah&lt;br&gt;tahu bahwa dari seluruh binatang yang hidup, hanya kita yang memiliki warna yang&lt;br&gt;seragam yaitu putih. Kalau aku sendiri, sudah merasa bosan dengan warna putih&lt;br&gt;yang cepat kusam dan kotor ketika aku bermain-main di tanah. Nah, silakan bagi&lt;br&gt;teman-teman yang ingin mewarnai bulu-bulunya aku bersedia membagi pewarna&lt;br&gt;yang aku punyai. Ada banyak warna ; merah, kuning, hijau, biru, coklat, jingga,&lt;br&gt;ungu, dan masih banyak lagi. Silakan mengambil seperlunya."&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:iay7H6_4n2sDIM:http://www.seasite.niu.edu/indonesian/themes/animals/birds/images/bangau.jpg" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;Bangsa bangau yang lamban tidak mau mengambil satu pun pewarna yang disediakan,&lt;br&gt;mereka lebih suka melihat-lihat saja. Burung-burung kakaktua pun hanya mengamati dari&lt;br&gt;kejauhan saja. Beberapa ekor dari mereka memainkan warna hitam untuk paruh dan kaki&lt;br&gt;mereka. Beberapa ekor mengguyur tubuhnya dengan warna hitam.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Burung-burung merak dan ayam saling mengulaskan pewarna dengan rajin dan hati-hati.&lt;br&gt;Maka bulu-bulu mereka tampak mempesona.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:fCG04-dsnTOznM:http://jimmysweblog.net/2004/01/peacock.jpg" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;Sementara burung-burung kenari dan bayan saling mencoba beberapa warna hingga sebagian dari mereka ada yang hijau, biru, kuning, merah atau campuran dari warna-warna itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah itu, mereka saling memuji tentang warna-warna bulu mereka masing-masing. Burung merak paling banyak mendapat pujian tentang keindahan warna bulu-bulunya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Aduh, bagus sekali bulu-bulumu Merak. Aku jadi pengin mewarnai bulu-buluku seperti itu," kata burung merpati.&lt;br&gt;"Kamu tadi pakai pewarna yang mana? Aku coba juga ya?" Ujar Cenderawasih.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Di lain pihak, ada beberapa burung yang kecewa. Bebek dan angsa misalnya. Mereka mengeluhkan pewarna yang dimiliki oleh Ayam Hutan tidak tahan air. Tadinya, bebek mewarnai tubuhnya dengan warna biru muda tetapi ketika dia masuk ke dalam air, warna biru itu hilang. Angsa juga tadi sempat mencoba warna ungu. Dan warna itu luntur ketika dia masuk ke dalam air.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:BFRse0WYWMN0dM:http://www.bpelt.com/toucan/toucan.jpg" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;Burung Tukan hanya mengambil warna hitam untuk bulu-bulunya, tetapi dia ingin punya warna yang menarik untuk paruhnya. Maka dia mewarnai paruhnya dengan aneka warna.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Wah paruhmu bagus Tukan!" Puji seekor burung robin.&lt;br&gt;"Bulu-bulumu juga bagus, Robin!" Jawab Tukan yang merasa tersanjung.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sementara burung-burung gagak merasa bahwa dengan warna-warna itu, banyak burung yang merasa dirinya lebih baik dari burung yang lain. Maka menyerbulah mereka ke tengah-tengah pesta mewarnai itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Minggirrrr semuaaa!!!" Teriak kawanan gagak bersama-sama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:lUoQLN8lcc0qjM:http://www.wildworldofplants.com/notes/plant_images/crows.gif" border="0"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Lalu dengan cepat mereka merampasi seluruh pewarna yang sedang dipergunakan oleh burung-burung itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Aku ingin membuat satu warna yang lebih bagus dari warna yang kalian pergunakan!"&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mereka mulai mencampur warna hijau yang digunakan merak dengan warna merah yang tadi dipergunakan ayam hutan. Lalu menambahkan warna biru yang dipilih oleh burung rajaudang. Dan beberapa warna lainnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Lihatlah! Sebentar lagi warna bulu kami lah yang paling bagus di antara kalian, sebab semua warna yang paling baik sudah kucampurkan di sini."&lt;br&gt;&lt;br&gt;Satu per satu rombongan gagak mencelupkan diri pada campuran pewarna tadi. Tapi apa yang terjadi?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika satu per satu dari mereka keluar dari campuran pewarna, mereka mendapati tubuh mereka berwarna hitam kusam.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seketika itu, semua bangsa burung menertawai burung-burung gagak itu. Sejak itu lah gagak jarang sekali terbang di langit, mereka malu dengan bulunya yang hitam kusam.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;@2008&lt;br&gt;&lt;br&gt;mungkin cerita ini sering didengar tetapi ini murni versi saya lho ..&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-8635782742128896361?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/8635782742128896361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=8635782742128896361' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/8635782742128896361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/8635782742128896361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/cerita-anak-kenapa-burung-gagak-berbulu.html' title='[Cerita Anak] Kenapa Burung Gagak Berbulu Hitam'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-4317518704216644726</id><published>2008-02-26T16:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-26T21:57:35.335-08:00</updated><title type='text'>Cashfiesta (How to Earn Income From Internet 3)</title><content type='html'>Sejauh ini &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; adalah program mencari pendapatan via iklan di internet yang paling mudah aplikasinya. Dan kita pun tidak perlu bersusah payah mengklik sana sini untuk mendapatkan point. Tapi memang point-nya cukup tinggi untuk mendapatkan dollar. Promosi bulan ini, 1000 point (sekitar 1 jam online) anda akan dibayar 2 USD.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Aplikasi program &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; cukup mudah. Anda hanya tinggal download toolbar &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; lalu menjadikan toolbar itu "hidup" setiap saat. Untuk menjaga agar toolbar itu hidup cukup click Fiesta boy yang ada di tool bar tersebut. Nah, bagi yang senantiasa kerja dengan komputer setiap hari, program ini sama sekali tidak mengganggu kerja anda, karena kita tidak perlu mengklik iklan, surfing website atau baca email untuk dibayar. Cukup dengan aktifkan toolbar &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; ketika kita mulai kerja, jaga agar toolbar itu tetap hidup, dan matikan ketika selesai bekerja. Kita dibayar karena komputer kita berfungsi sebagai televisi untuk iklan mereka. Mudah bukan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Segera gabung &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; dan aktifkan toolbarnya, lalu dapatkan uangnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saat tulisan ini dibuat saya sudah membuat perhitungan jika kita minimal 3 jam membuat toolbar itu menyala setiap hari, maka sebulan kita bisa dapatkan 52 USD atau 648 USD per tahun tanpa mereferensikan &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt; pada siapapun. Jika kita mereferensikan pada satu orang dan orang itu mereferensikan 1 orang lagi, maka kita dapatkan 76 USD setiap bulan atau 920 USD per tahun. Dan ketika saya mengikuti program ini, 1.6 USD didapatkan dengan 1000 point. Pada hari ketiga ini, saya sudah mendapat 6000 point atau sekitar 7 USD.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jadi manfaatkan komputer anda sebagai televisi untuk &lt;a href="http://www.cashfiesta.com/php/join.php?ref=dedyriyadi%20"&gt;Cashfiesta&lt;/a&gt;!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-4317518704216644726?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/4317518704216644726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=4317518704216644726' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/4317518704216644726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/4317518704216644726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/cashfiesta-how-to-earn-income-from.html' title='Cashfiesta (How to Earn Income From Internet 3)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-5580351560355157076</id><published>2008-02-21T23:13:00.000-08:00</published><updated>2008-02-22T04:13:18.365-08:00</updated><title type='text'>Tentang bux.to (Masih tentang Internet earn money)</title><content type='html'>Masih ingat tentang &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt;?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada kabar baik buat yang mencari tambahan penghasilan via bux.to!&lt;br&gt;Ternyata setelah keliling sana sini (baca surfing - pen) ada piranti&lt;br&gt;yang memungkinkan kita tanpa perlu clicking untuk memperoleh poin/&lt;br&gt;uang dari bux.to. Enak bukan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jadi sekali lagi, buat yang iseng pengin penghasilan kecil-kecilan,&lt;br&gt;silakan join saya di &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt;&lt;br&gt;dan untuk membantu saya unggah program autoclicknya di sini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Penggunaan autoclick &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Caranya sangat mudah, setelah anda mendaftar di bux.to,&lt;br&gt;tentunya anda mendapat username dan password. Nah, setelah&lt;br&gt;anda mendownload program autoclick untuk bux.to tersebut, tinggal&lt;br&gt;anda jalankan, masukkan username dan password anda di sana,&lt;br&gt;dan isi / atur berapa menit anda akan menunggu untuk mengklik dari&lt;br&gt;satu iklan ke iklan berikutnya (satu iklan biasanya cuma 1 menit,&lt;br&gt;tergantung koneksi). Anda bisa menjalankan cukup dalam hitungan&lt;br&gt;30 menit (karena biasanya untuk free account cuma dapat 15 iklan&lt;br&gt;per hari). lalu matikan. simple bukan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Untuk memperbesar pendapatan anda, silakan anda referensikan&lt;br&gt;program &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;bux.to&lt;/a&gt; ini kepada teman-teman anda. semakin banyak&lt;br&gt;semakin baik.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Terimakasih!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-5580351560355157076?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/5580351560355157076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=5580351560355157076' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5580351560355157076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5580351560355157076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/tentang-buxto-masih-tentang-internet.html' title='Tentang bux.to (Masih tentang Internet earn money)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-6496341517621743808</id><published>2008-02-14T23:32:00.000-08:00</published><updated>2008-02-15T04:32:11.065-08:00</updated><title type='text'>Affiliate Program (How to Gain Income from Internet - 2)</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Clickbank sebagai salah satu affiliate program ternama, ternyata tidak bisa dimanfaatkan oleh kita yang tinggal di &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tetapi jangan kuatir, karena ada satu program affiliate yang bisa kita gabung di dalamnya. Program itu adalah &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickZ&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickZ&lt;/a&gt; adalah e-commerce services provider untuk merchants yang menjual digital goods dan jasa seperti ebooks, music, software, dan membership sites.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Affiliate Marketing adalah salah satu cara terbaik untuk promosi. menjual secara online dan &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;mendapat income&lt;/a&gt;, dan banyak orang yang menanti kesempatan seperti ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena keterbatasan dan beberapa kondisi, banyak &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;affiliate network&lt;/a&gt; yang tidak mau memasukkan negara-negara yang tidak mereka percayai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;DClickZ’s&lt;/a&gt;, kita mendapat kesempatan untuk bergabung dalam pelatihan affiliate marketing dan &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;seperti punya bisnis sendiri&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;DClickZ Untuk Pengusaha Digital Goods&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;DClickz adalah e-commerce service provider untuk pengusaha yang menjual digital goods and services, seperti ebooks, music, software, dan membership sites.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Benefits yang bisa didapat oleh pengusaha dalam &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;DClickZ’s&lt;/a&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi%20"&gt;DClickZ&lt;/a&gt; memungkinkan      digital goods merchants untuk menerima pembayaran kartu kredit (VISA,      MasterCard, Discover, American Express)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Free Affiliate      marketing, tracking, and payout.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Meningkatkan penjualan dengan      free affiliate program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Instant approval – Langsung      bisa berjualan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Tidak bertele-tele      pengajuannya, tidak ada kontrak yang cukup lama, pembayaran setiap bulan,      dan tidak ada termination fees.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah bagaimana dengan kita yang mau penghasilan tambahan sebagai affiliate marketer tadi?&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;&lt;b&gt;DClickZ&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;&lt;b&gt; untuk Affiliate D&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;/u&gt;Affiliate Marketer akan mendapatkan income dari setiap promosi dan penjualan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Benefits untuk DClickZ’s affiliates :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Simple, fast, dan &lt;strong&gt;FREE&lt;/strong&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;100% Guaranteed commission,      karena penanganan penjualan dan komisi bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Instant sign-up process –      dapatkan username anda di &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickz      sekarang&lt;/a&gt; dan mulai menjalankan pemasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan penghasilan dari      mempromosikan DClickz sebagai situs terbaik untuk digital goods.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Berapa penghasilan anda?&lt;/b&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mereferensikan merchant baru (publisher of digital goods): &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan bonus $10.00 USD      ketika mereka mengaktifkan keanggotaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan 5% dari markup &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;DClickZ&lt;/a&gt; dari setiap      penjualan (satu tahun)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereferensikan seorang reseller baru: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan bonus $5.00 USD      bonus setiap mereka mendapatkan bonus $10.00&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Dapatkan 50% dari setiap      bonus yang mereka dapatkan setiap tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pembayaran&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Setiap bulan, DClickZ      mengeluarkan 2 kali pembayaran lewat paypal, check, atau direct deposit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Perhatian!!!&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;/b&gt;Untuk pengusaha yang membaca entry ini, dapatkan discount 50% untuk mendaftar sebagai merchant di DClickZ dari Activation Fee senilai US$39.95 menjadi $19.95 dengan menggunakan code promo saya : &lt;b&gt;EGOODS69.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;a href="http://www.dclickz.com/refer/dedyriyadi"&gt;Bagi yang ingin menjadi Affiliate Marketer, Silakan cepat join. Gratis Kok!&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-6496341517621743808?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/6496341517621743808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=6496341517621743808' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/6496341517621743808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/6496341517621743808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/affiliate-program-how-to-gain-income.html' title='Affiliate Program (How to Gain Income from Internet - 2)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-992744957759920152</id><published>2008-02-12T22:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-13T03:27:59.142-08:00</updated><title type='text'>Paid To Click Programs (How to Gain Income from Internet)</title><content type='html'>Setelah kemarin saya mendapatkan satu program &lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;Paid To Click&lt;/a&gt;, maka hari ini saya mendapatkan lagi 2 program serupa yaitu ;&lt;br&gt;1. &lt;a href="http://www.DailyClicks.biz/?r=dedyriyadi"&gt;DailyClicks.biz&lt;/a&gt;, dan&lt;br&gt;2. &lt;a href="http://www.velocityclicks.com/index.php?ref=dedyriyadi"&gt;Velocityclicks.com&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hanya saja, pembayaran dari ke dua program tersebut dilakukan melalui satu situs&lt;br&gt;pembayaran yaitu &lt;a href="http://www.alertpay.com/?X44I5Vm1hCLbrvYNpasm%2bw%3d%3d"&gt;alertpay.com&lt;/a&gt;. Ternyata, &lt;a href="http://www.alertpay.com/?X44I5Vm1hCLbrvYNpasm%2bw%3d%3d"&gt;alertpay&lt;/a&gt; juga merupakan program referral&lt;br&gt;yang mana memungkinkan kita untuk mendapatkan penghasilan dari mengajak orang&lt;br&gt;untuk menggunakan situs tersebut. Jadi semacam double bonus.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Oh iya, paid to click memang program yang kurang cepat menghasilkan karena setiap&lt;br&gt;iklan yang kita lihat kita diberi upah (fee) kurang dari 1 dollar usd. Tapi ini langkah awal bagi&lt;br&gt;anda yang ingin mulai mendapatkan penghasilan dari internet. Dengan fee yang kita kumpul-&lt;br&gt;kan sedikit demi sedikit, kita bisa mulai mencari penghasilan lebih dengan mengikuti program&lt;br&gt;lain seperti &lt;a href="http://www.ezinfocenter.com/10027775/TF"&gt;affiliate marketing&lt;/a&gt; yang biasanya memerlukan biaya untuk menjadi anggotanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pepatah no pain no gain, bagi pemula seperti saya memang ternyata masih berlaku.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-992744957759920152?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/992744957759920152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=992744957759920152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/992744957759920152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/992744957759920152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/paid-to-click-programs-how-to-gain.html' title='Paid To Click Programs (How to Gain Income from Internet)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-5399171501693906028</id><published>2008-02-11T20:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T01:28:22.582-08:00</updated><title type='text'>bux.to ; iseng-iseng klik dapat cent dollar</title><content type='html'>&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://www.bux.to/images/banner/banner.png" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;buat yang suka iseng-iseng klik sana sini, mending arahkan kebiasaan anda dengan mengklik dari bux.to ( atau masuk via referal saya : &lt;strong&gt;&lt;a href="http://bux.to/?r=dedyriyadi"&gt;http://bux.to/?r=dedyriyadi&lt;/a&gt; )&lt;br&gt;&lt;br&gt;hari ini saya dapat US$ 0.35 ..lumayan ...&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-5399171501693906028?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/5399171501693906028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=5399171501693906028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5399171501693906028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5399171501693906028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/buxto-iseng-iseng-klik-dapat-cent.html' title='bux.to ; iseng-iseng klik dapat cent dollar'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-892779599850381510</id><published>2008-02-03T22:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T03:37:14.212-08:00</updated><title type='text'>NOC</title><content type='html'> Put this code in between the &lt;HEAD&gt; and &lt;/HEAD&gt; of your Website's HTML code:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;script language="javascript"&gt;&lt;br&gt;limit=3;&lt;br&gt;most_popular=1;&lt;br&gt;catid=-1;&lt;br&gt;offerid=-1;&lt;br&gt;sfiid=10027775;&lt;br&gt;table_width=250;&lt;br&gt;i_output='';&lt;br&gt;var nocDock='&lt;SCRIPT LANGUAGE="javascript" src="&lt;a href="http://www.sfimg.com/nocads.php?id=';"&gt;http://www.sfimg.com/nocads.php?id=';&lt;/a&gt;&lt;br&gt;nocDock+=catid + '&amp;l=' + limit + '&amp;offerid=' + offerid + '&amp;pop=';&lt;br&gt;nocDock+=most_popular + '" &gt;&lt;\/script&gt;';&lt;br&gt;&lt;/SCRIPT&gt;&lt;br&gt;&lt;script language='javascript'&gt;document.write(nocDock)&lt;/script&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Copy and paste this code wherever you want to display the syndicated ads:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;script language="javascript"&gt;document.write(i_output)&lt;/script&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;It is also possible to apply your custom CSS to the displayed ADs.  Use class noctext in your CSS   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-892779599850381510?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/892779599850381510/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=892779599850381510' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/892779599850381510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/892779599850381510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/noc.html' title='NOC'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-2371449430837773293</id><published>2008-01-31T23:34:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T04:34:12.615-08:00</updated><title type='text'>[IsengAsyik] Ikutan Program Cari Penghasilan di Internet</title><content type='html'>&lt;font face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"&gt;&lt;font face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.fastfreeway.com/index.php3?ref=186034"&gt;http://www.fastfreeway.com/index.php3?ref=186034&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-2371449430837773293?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/2371449430837773293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=2371449430837773293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/2371449430837773293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/2371449430837773293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/01/isengasyik-ikutan-program-cari.html' title='[IsengAsyik] Ikutan Program Cari Penghasilan di Internet'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-1988407704141662273</id><published>2007-11-21T18:02:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T23:02:50.896-08:00</updated><title type='text'>Poin-poin Penilaian Redaksi Gagas Media untuk Naskah Novel</title><content type='html'>Berikut ini adalah apa yang saya baca dari berkas penolakan naskah novel saya oleh Redaksi Gagas Media. Semoga membantu proses oto-koreksi penulis lain yang sedang menulis naskah novel dan berniat mengirimkan naskah novelnya itu ke Gagas Media atau penerbit lain.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Poin-poin yang dinilai oleh tim Redaksi Gagas Media untuk menilai sebuah naskah novel adalah sebagai berikut ;&lt;br&gt;1. Naskah harus memiliki tema yang menarik ataupun tema baru.&lt;br&gt;2. Plot dan cara bercerita yang menarik.&lt;br&gt;3. Kekuatan karakter tokoh (penokohan) harus terjaga konsistensinya.&lt;br&gt;4. Gaya bahasa yang mengalir disertai diksi yang baik sehingga membuah naskah/&lt;br&gt;    cerita menjadi enak dibaca.&lt;br&gt;5. Logika kalimat dan cerita yang terjaga&lt;br&gt;6. Setting cerita&lt;br&gt;7. Efektifitas kalimat dan ejaan berbahasa&lt;br&gt;8. Cerita memiliki nilai tambah bagi pembaca, bisa berupa informasi, tips, menginspirasi&lt;br&gt;    atau wawasan tentang sesuatu.&lt;br&gt;9. Trend / Up to date&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sekali lagi, poin-poin penilaian ini dilakukan di Gagas Media, tetapi bisa saja menjadi semacam poin-poin umum yang dilakukan di redaksi penerbitan lain. Dan semoga membantu penulis lain untuk melakukan oto-seleksi maupun oto-koreksi karya-karyanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Salam&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-1988407704141662273?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/1988407704141662273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=1988407704141662273' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/1988407704141662273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/1988407704141662273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/11/poin-poin-penilaian-redaksi-gagas-media.html' title='Poin-poin Penilaian Redaksi Gagas Media untuk Naskah Novel'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-5279660592508804709</id><published>2007-09-09T19:14:00.000-07:00</published><updated>2007-09-09T19:18:25.218-07:00</updated><title type='text'>Anak Gembala dan Induk Serigala</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Inilah nyanyian anak gembala; &lt;i style=""&gt;“Sungai-sungai memandikan diri begitu bayangan hutan menyebelah barat. Pada batu padas kupunggungkan lelah ternak dan mimpi yang tak pernah jenak. Rumput segar; hidup yang hingar bingar. Serupa lenguh yang kudengar sebagai tanda saatnya untuk mene-rabas belukar. Ayo kawan, kita kembali berjalan ke arah reruntuhan bulan. Sebab di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kita tempatkan sebentuk rumah bagi tubuh yang mulai lungkrah.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sebenarnya, bagi dia, pagi adalah waktu yang paling menyenangkan. Pagi adalah saat pucuk rerumputan yang masih berbalut titik embun ditumpahi berkas-berkas cahaya oleh matahari.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pelangi-pelangi kecil di lantai hutan. Mungkin tak ada seorang pun yang tahu tentang itu. Dia menggiring ternaknya dengan hati-hati, bukan hanya karena dia takut ada salah satu atau beberapa dari mereka luput dari pengamatannya tetapi juga karena dia tidak ingin pelangi-pelangi kecil itu rusak sedemikian cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dia ingat nyanyian tentang pelangi. “&lt;i style=""&gt;Pelangi. Pelangi. Ciptaan Tuhan.&lt;/i&gt;” Sejak pertama kali mendengar lagu itu, dia selalu berharap setelah gerimis, di langit, muncul seberkas pelangi. Konon, pelangi adalah tangga bagi para bidadari yang ingin mandi di sebuah telaga sunyi. Ah, Ibu. Kenapa engkau cepat pergi? Dia hampir lupa wajah ibu yang melahirkannya, hingga dia berharap bisa mencari tahu seperti apa wajah para bidadari itu. Barangkali ada wajah yang mirip dengan ibunya di antara mereka. Wajah yang selama ini dikenang lewat cahaya bulan, kerlip bintang, atau wangi hutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Lihatlah langkahnya begitu riang, tetapi tetap tenang. Seakan tak ada beban yang terpanggul di pundak kecilnya. Bukit-bukit dilaluinya dengan langkah panjang, mengejar ternak yang berjalan tergesa liar. Dia tak sadar tubuh kecilnya timbul tenggelam dalam tatapan seekor induk serigala yang lapar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dia sudah menunggu sekian lama untuk mendapatkan daging segar untuk anak-anaknya. Sekarang ini hutan tinggallah bayang-bayang pepohonan jarang di tengah-tengah ladang dan rerumputan gersang. Sulit sekali mencari mangsa buruan seperti kelinci, tikus hutan, kancil, atau menjangan. Jika nampak satu saja dari mereka, dia harus mengalah kepada anak kecil yang membawa tombak dan obor di tangannya. Dia takut sekali dengan benda yang menyala-nyala itu. Dulu dia pernah terpaksa keluar dari lubang sarangnya karena kebakaran hutan yang hebat. Dia tahu sekali benda itu terlepas dari tangan anak itu, maka akan terjadi lagi satu kejadian kebakaran. Dia membenci api!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Untuk itulah dia menunggu pagi. Saat itu api di tangan anak itu dipadamkan. Dia bisa menyerang tanpa ketakutan akan ada kebakaran yang bisa mencelakakan nyawa anak-anaknya yang belum lancar berlari. Sebelum tenaganya habis, sebelum anak-anaknya terdengar menangis dia harus bisa membunuh anak itu. Demikianlah tekadnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Maka disibaknya rerimbunan belukar untuk tetap bisa mengamati ke arah mana anak gembala itu pergi. Sapi-sapi yang digembalanya dari tadi sudah gelisah, mungkin dia mencium bau tubuhnya. Bau tubuh sang pemangsa! Padahal sebenarnya dia sudah mencari arah agar tubuhnya tidak terpapar oleh angin yang mengarah kepada anak gembala dan kumpulan ternaknya. Tapi cuaca memang sudah banyak berubah. Angin kencang juga hujan bisa datang sertamerta. Atau seperti sekarang, panas berkepanjangan. Bau tubuhnya meruap di udara terbuka. Ah, perburuan ini nampaknya akan sia-sia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sebelum dia melangkah lebih dekat, tiba-tiba anak gembala itu kembali bernyanyi; &lt;i style=""&gt;“Siang ini tak ada pelangi, langit seperti kampung memedi, pokok-pokok dilukis dalam sunyi. Tatu hutan tatu aku!”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Induk serigala itu sekarang tidak peduli lagi. Yang betul-betul dipahaminya adalah rasa laparnya sendiri juga rasa lapar anak-anaknya membuat dia harus mendapatkan makanan. Dia semakin mendekat kepada anak gembala yang tengah bersandar di batang pohon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;+++&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Seperti ini juga nyanyian seorang perempuan; “&lt;i style=""&gt;Sungai-sungai memandikan diri begitu bayangan hutan menyebelah barat. Pada batu padas kupunggungkan lelah ternak dan mimpi yang tak pernah jenak. Rumput segar; hidup yang hingar bingar. Serupa lenguh yang kudengar sebagai tanda saatnya untuk menerabas belukar. Ayo kawan, kita kembali berjalan ke arah reruntuhan bulan. Sebab di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kita tempatkan sebentuk rumah bagi tubuh yang mulai lungkrah.&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Perempuan itu masuk ke bilik kamar. Sekarang sudah senja. Waktunya bekerja. Dia sudah berusaha menguburkan keletihannya di pagi hari tadi. Hanya saja rasa letih itu seakan-akan sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Beban yang berat membawanya untuk masuk lebih dalam ke bilik kamar yang hanya ditutupi oleh kain. Bilik itu bagian belakang dari sebuah warung remang-remang di pinggiran &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tempat di mana dia sekarang membanting tulang demi hidupnya dan keluarganya di sebuah kampung. Di dalam bilik itu sudah menunggu seorang lelaki yang segera menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Dari mana asalmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Panyuren,” jawab perempuan, yang baru saja duduk di dalam kamar itu, singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Gerakan perempuan itu terlihat masih kikuk. Benar seperti kata pemilik warung ini, dia ini pendatang baru! Jakunnya bergerak turun naik melihat kemolekan perempuan itu. Hanya saja dia masih penasaran dengan nama kampung asal yang tadi disebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Panyuren. Agaknya saya pernah ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Kampung itu terletak dekat dengan hutan lebat bukan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Iya benar,” perempuan itu menjawab singkat dan terdengar ragu. Jangan-jangan lelaki di hadapannya pernah mengenal dirinya. Hal itu semakin menambah kekikukannya di depan lelaki itu. Sementara lelaki yang dikuatirkan mengenalnya itu rupanya asyik meneguk sejenis minuman beralkohol. Pada botol minuman itu, ada gambar seekor banteng yang tengah menanduk. Dia ingat pada orangtuanya yang punya dua ekor sapi. Ayahnya pernah bilang kalau nanti anak yang dilahirkannya sudah agak besar, akan dikenalkan dengan ternak dan hutan seperti kakeknya. Ah, rahasia. Kenapa harus begitu kelam?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Bertahun silam, seorang mandor penebangan kayu melihatnya sedang mandi di sebuah telaga. Akhirnya terjadilah peristiwa yang merenggut kegadisannya sekaligus menimbulkan tumbuhnya janin di perutnya. Dia tadinya tidak bisa terima. Begitu lahir, bayi itu ditinggalkannya dengan kedua orangtuanya sementara dia lari ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Kini dia sadar bahwa dia harus berbuat sesuatu untuk menghidupi anak yang pernah dikandungnya. Walau bagaimanapun dia adalah darah dagingnya. Dia ibu dari anak itu. Dari tempat paling hina di dunia ini, warung remang-remang tempat dia menjajakan badan, dia selalu diingatkan pada hal itu. Apapun. Apapun harus ia lakukan demi kehidupannya dan anak itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Kamu cantik sekali. Marilah dekat ke sini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Suara itu membuyarkan lamunannya. Pada awalnya dia tampak ragu untuk meladeni rayuan lelaki itu. Akan tetapi sebentar tadi, masa lalu yang kelam sudah menyeretnya pada sebuah kesadaran; dia ingin melupakan kepahitan hidupnya. Melupakan deritanya pada sosok lelaki yang menistakan dirinya, pada sosok jabang bayi yang meruak dari celah selangkangannya, pada kesadaran bahwa dia adalah perem-puan yang sewaktu-waktu mudah dihempas oleh jerat nafsu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Kali ini, dia membulatkan tekad untuk berkuasa sepenuhnya pada daya tubuhnya. Hanya itu yang dia punya. Hanya itu. Maka…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Bergairahlah lelakiku. Aku ingin sekali menyempurnakan keinginanmu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Lelaki itu tersenyum lebar. Dia mengulurkan segelas minuman pada perempuan itu yang segera disambut dan dituntaskan dalam satu tegukan. Mereka tenggelam dalam pelukan dan ciuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Tunggu dulu. Aku ingat lesung pipit ini. Bagaimana bisa kau datang kemari?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dengan terpaksa, perempuan itu melepaskan erat pelukan, berjalan ke arah saklar untuk menyalakan lampu kamar. Dia ingin menegaskan wajah lelaki itu. Apakah memang dia mengenalnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Tidak. Tidak. Aku tidak mengenalmu. Dan tidak juga ingin mengenangmu setelah pertemuan ini.” Begitu hatinya bergemuruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Ya. Aku pun begitu. Tapi kau kukenali sebagai gadis yang berjalan menunduk ketika melewati kemah kami. Gadis yang cantiknya sering sekali Mandor Onih ceritakan. Gadis yang setiap malam kutangisi setelah kejadian itu.” Lelaki itu tiba-tiba mengisak. Tangannya mengapai seakan meminta perempuan itu mendekat dan memeluk dirinya. Dan ketika perempuan itu terengkuh olehnya, pada telinganya dia berbisik lirih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Gadis yang aku cinta.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Ah, inikah cinta? Dia pun gemetar dalam pelukan lelaki itu. Seperti lampu di kamar yang berpijar, dia merasa terbakar sendirian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Kau punya anak?” Lelaki itu kembali bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Mengangguk lemah, dia memejamkan mata. Dua butir air mata segera meluncur di atas pipinya yang keputihan oleh pupur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Anak Mandor Onih?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dia mengangguk lagi. Kali ini dia melepaskan pelukan lelaki itu. Lelaki itu kaget. Apakah dia menolak cintanya? Dipandangnya lekat mata sembab perempuan itu. Mata itu sudah berubah menyala. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sesuatu yang akan terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Kita jadi tidak? Aku dan anakku perlu makan bukan rayuan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;+++&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Senja itu, di sebuah lubang sarang, anak-anak serigala mengunyah rerumputan. Induknya belum juga pulang. Anak gembala yang lengan dan kakinya terluka karena gigitan serigala tertatih menggiring ternaknya ke kandang, dan perempuan yang adalah ibunya, di dalam kamar mengisak perlahan. Entah isak tangis senang hari ini dia mendapat uang dari langganan pertamanya, atau tangis kerinduan pada kampung halaman. Atau…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;, Agustus 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-5279660592508804709?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/5279660592508804709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=5279660592508804709' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5279660592508804709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5279660592508804709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/09/anak-gembala-dan-induk-serigala.html' title='Anak Gembala dan Induk Serigala'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-251387835260932938</id><published>2007-08-28T22:35:00.000-07:00</published><updated>2007-08-28T22:39:26.209-07:00</updated><title type='text'>Sepotong Sayap di Luka Batu</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku membenci kekerasan, tapi Mamat tidak. Dia sibuk memilih butir-butir batu di pinggiran jalan setapak kebun itu. Ditimangnya beberapa dari batu-batu itu sebelum di-masukkannya ke dalam saku celana. Dia menatapku seolah dia sedang mengancam seseorang yang ingin melarangnya.    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hei, apa salahku? Apakah salah jika aku sebagai seorang anak lelaki membenci kekerasan? Aku senang makan ayam atau bebek goreng, tapi bukan burung manyar. Mamat, Roji, dan aku memang suka berpetualang di dataran lapang kampung ini. Memanjati pohon-pohon, berenang di sungai sambil menangkap ikan, atau seperti sekarang ini; berburu burung manyar. Aku lebih suka mengorek batang turi dan mengeluarkan ulat putih besar yang biasa kami sebut “gendhon” untuk disate, daripada menangkap burung manyar yang sudah patah leher, pecah dada, atau bersayap sebelah untuk kemudian dibersihkan bulunya, isi perutnya, dan dibakar menjadi setusuk atau dua tusuk sate besar. Mamat dan Roji paling lahap memakannya. &lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Enak lho! Kau tak mau coba?”&lt;br /&gt;“Eh, ini masih ada darahnya! Puihhh!” Roji meludah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku tetap duduk mematung. Bergidik menyaksikan mereka makan dengan lahap daging burung manyar yang kemerahan dan belum sepenuhnya matang. Tiba-tiba saja mataku mengembun, dan pada sebatang pohon kepel tua, di dekat sungai, akhirnya kutumpahkan tangisan. Jika aku menangis, aku teringat ibu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Run, kamu masih sayang ibu, bukan?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku mengangguk lemah. Usiaku yang baru sepuluh tahun masih belum bisa memahami apa yang terjadi di dalam rumah antara ayah dan ibu. Ayah jarang pulang, ibu tak pernah kelihatan senang. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; mendung yang bergantung pada kedua bola matanya. Dan gerimis bahkan hujan tiba-tiba saja bisa menderas di pipinya. Melihat ibu menangis aku pun terkadang ikut menangis walau tak mengerti apa yang harus kutangisi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suara tangis ibu seperti riak sungai di kaki tebing di bawah pohon kepel berada. Suara yang perlahan tetapi berkesinambungan. Aku menduga sepenuh hidup ibu dipenuhi dengan tangisan. Tak pernah ada senyum yang menghiasi bibirnya. Kadang aku rindu pada geligi putih yang selalu disembunyikannya. Rasanya sudah lama betul aku tak mendengar suara tawa ibu. Apakah memang beban yang disandangnya begitu berat? Benarkah itu semua gara-gara ayah?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ayah menghilang sejak pertengkaran itu. Pertengkaran yang hebat antara ibu dan ayah. Di ruang makan, semua barang berpindah. Piring-piring pecah berserak di lantai, demikian juga dengan gelas, sendok dan nasi pun tumpah. Ibu bilang semenjak ayah terlibat sebuah organisasi, ayah tidak pernah lagi memperhatikan kami. Reaksi ayah adalah marah, dia balik menuding Ibu tidak pernah mendukung perjuangannya. Karena tak mengerti apa yang sedang terjadi, yang bisa aku lakukan adalah membawa pergi adikku dan menenangkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak lama berselang, peristiwa itu terjadi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hujan batu di rumahku. Di depan pintu, ibu berteriak-teriak menyuruhku kabur. Wajah dan tangannya berlumur darah. Aku dan adikku menangis sejadinya. Bingung antara ingin pergi atau menunggui apa yang akan terjadi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka mencari ayah. Seluruh bagian rumah kami digeledah. Barang-barang berharga dijarah. Dikeluarkan dan dibakar. Mereka sepertinya ingin membawa ibu pergi. Kaki-kaki mereka menendang, menyepak tubuh kami. Aku memberanikan diri mendekap ibu, merangkul adikku. Ibu dan aku berteriak kepada mereka, “Biarkan kami mati bertiga!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu tangisku, tangis ibu dan adikku terhenti ketika mereka berhasil menyeret kami hingga di halaman. Rupanya, mereka masih berbaik hati untuk menyingkirkan kami dari amarah mereka yang begitu meluap untuk membumihanguskan rumah kami.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku tercekat melihat api yang segera membubung tinggi. Sama seperti ketika Mamat dan Roji, teman main baruku di kampung yang tak mengenal asal-usul ibu ini, membakar sarang-sarang burung manyar yang mereka dapatkan dengan mengetapel pucuk-pucuk cemara. Ketika aku membantu mereka mengupasi sarang burung manyar yang terbuat dari gulungan daun cemara kering dan mendapati tiga ekor anak burung manyar hangus terbakar berpelukan. Sepertinya anak-anak burung manyar yang begitu mungil dan masih tak berbulu sama seperti aku, ibu dan adikku yang pernah ingin membiarkan kami mati bertiga.&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kini, Mamat, yang masih berdiri memandangiku dengan tatapan seperti mengancam, melepaskan ketapel yang tergantung di lehernya dan melemparkannya ke tanah dekat kakiku.&lt;br /&gt;“Aku bisa buat sendiri. Ketapelmu jelek! Ambil itu dan pergi!”&lt;br /&gt;Roji mendekatiku dan mencibirkan bibir juga meleletkan lidah.&lt;br /&gt;“Weeek! Penakut! Cengeng! Huuuu!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka berdua segera menghilang di rimbunan pepohonan. Aku terpaku, belum memilih antara ikut pergi bersama mereka atau pulang sendiri. Kampung ini penduduknya sangat jarang, dan tak banyak yang berkegiatan di luar. Maklum saja di kampung ini tak banyak orang dewasa bisa ditemukan. Kalaupun ada orang dewasa dalam satu rumah, biasanya mereka bukanlah orangtua yang lengkap. Hanya ibu atau nenek. Selebihnya anak-anak seperti aku, Mamat dan Roji meskipun ada yang berusia lebih tua dari kami. Bisa dibilang kampung kami ini kampung perempuan dan anak-anak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku tahu jika ayah memang pergi dari rumah, tapi Mamat bercerita kalau ayahnya dibawa pergi orang-orang gagah. Dia menyebut orang-orang gagah karena mereka berbadan tegap dan senjata-senjatanya mengkilat tertimpa cahaya bulan. Demikian pula dengan cara mereka berjalan. Berderap-derap bunyi sepatunya. Roji bilang Mamat tukang bohong, ayah Mamat dimasukkan ke dalam sebuah mobil berwarna hitam gosong. Matanya ditutup, kaki dan tangannya diborgol. Mamat mengacungkan tinju ketika Roji berkata seperti itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bapakmu juga bukan? Dibawa pergi saat pulang dari pekan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Kata orang-orang itu, bapakmu berbelanja bahan peledak!”&lt;br /&gt;Roji hanya bisa mengisak jika Mamat sudah mulai teriak-teriak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi kini mereka sudah meninggalkanku, masuk ke dalam hutan kecil itu. Aku ingin segera pulang, pasti ibu sudah menungguku untuk segera mandi dan makan malam. Hanya saja aku tak ingin tersesat oleh bayang-bayang dedaunan yang menyilang-nutupi badan jalan setapak. Ah, kenapa aku tak pernah mendengarkan nasihat ibu untuk menghafalkan arah mata angin? Kalau sudah begini, apa yang hendak aku lakukan?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Pletak! Pletak! Pletak!”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; batu-batu yang berterbangan di udara mengenai dedaunan dan bebatang pohon. Aku menduga Mamat dan Roji tengah menakutiku untuk segera pergi dari tempat itu. Yang aku tahu, aku harus berlari sekencang-kencangnya sambil menutupi kepalaku dengan kedua lenganku. Batu-batu pilihan Mamat tadi begitu bulat dan keras. Bisa-bisa tulang tengkorakku remuk jika terpapas. Dalam hatiku bergemuruh,”Awas kau Mamat! Awas kau Roji!”&lt;/p&gt;Aku berlari sekencang-kencangnya, terkadang terjerembab oleh akar yang melintang atau meringis menginjak ranting yang jatuh. Aku terus berlari. Kini tubuhku dipermainkan oleh bayang dedaunan dan batu-batu yang dilontarkan. “Awas kau Mamat! Awas kau Roji!” Aku meneriakkan kata-kata itu berulang-ulang.    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gempuran batu itu mereda, aku terengah-engah hampir kehabisan nafas. Bajuku basah kuyup. Jantungku keras berdegup. Tak habis pikir kenapa mereka tega mengerjaiku seperti ini. Lalu mendadak ada bunyi berdebam. Sesuatu yang besar jatuh. Belum sempat aku mencari tahu apa yang terjatuh itu, terdengar lagi debam yang lain. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dua benda besar yang jatuh di sekitarku.&lt;/p&gt;Sebenarnya bisa saja aku berlalu mengingat aku tidak aman berada di sini, tetapi yang kudengar adalah suara yang sudah sering aku dengar. Suara Mamat dan Roji yang mengaduh kesakitan dan meminta pertolongan. Namun belum sempat aku bergerak mencari tahu di mana mereka berada, kudengar Mamat dan Roji berteriak bersamaan lagi, “Lari. Lari. Mereka datang lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang telah menyerang dan menjatuhkan mereka berdua. Pada saat kejadian itu, aku ikut lari juga setelah melihat mereka berdua lari menuju ke arahku. Dan setelah kejadian itu Mamat dan Roji menjadi sangat pendiam, hingga aku tak pernah bisa tahu apa yang sebenarnya telah menyerang mereka berdua di hutan kecil itu. &lt;span style=""&gt;Hanya ketika melihat seekor burung, mereka tampak ketakutan.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Agustus, 2007.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-251387835260932938?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/251387835260932938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=251387835260932938' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/251387835260932938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/251387835260932938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/08/sepotong-sayap-di-luka-batu.html' title='Sepotong Sayap di Luka Batu'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-446887322760235410</id><published>2007-08-15T05:50:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T05:54:52.267-07:00</updated><title type='text'>Gerimis Anjing</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seketika saja, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; S dilanda keributan. Mendung yang sejak semalam bergantung di langit, pagi ini pecah menjadi gerimis. Gerimis yang sangat tidak biasa. Dari langit turun satu demi satu seekor anjing berukuran kecil. Anjing-anjing itu tidak menyeramkan rupanya, tidak seperti dobberman atau bulldog. Tidak juga lucu seperti shi tzu atau puddle. Kulitnya tembus pandang seperti plastik kantung belanjaan. Aku jadi bertanya apakah ketembuspandangan tubuhnya itu karena anjing-anjing itu berasal dari air hujan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan ini rupanya segera ditindaklanjuti oleh datangnya rombongan peneliti dari sebuah lembaga ilmu pengetahuan. Mereka sibuk menangkapi anjing-anjing itu. Akan tetapi yang mencengangkan adalah anjing-anjing itu selalu bisa lolos dengan cara menceburkan diri ke selokan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tadi, begitu sampai di tanah, anjing-anjing itu segera berkeliaran mencari makan. Mungkin sejak mereka dikumpulkan di langit menjadi mendung, mereka harus menahan lapar yang amat sangat. Anjing-anjing itu masuk ke tong-tong sampah yang mereka temui di sepanjang jalan. Herannya, mereka sama sekali tidak masuk ke warung-warung makan, toko-toko kue, atau pusat-pusat perbelanjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka penduduk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pun terkurung dalam rumah, dalam kendaraan yang terjebak macet, dalam kantor dan segala tempat mereka beraktivitas. Semua jenis kendaraan berhenti karena pengemudinya takut melindas mati seekor anjing yang turun dari langit itu. Mereka juga merasa jijik memandangi isi perut anjing-anjing itu yang kelihatan karena tubuhnya yang tembus pandang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya apa yang dimakan oleh anjing-anjing itu hanyalah sisa-sisa makanan kita sehari-hari. Jangan bayangkan anjing-anjing itu memakan kotoran atau bangkai. Sebentar saja, isi seluruh tong sampah di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini pun berkurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya polisi diturunkan. Bagaimana pun anjing-anjing ini harus segera disingkirkan dari jalanan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Penduduk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sudah merasa tidak leluasa bergerak. Pertama-tama, para petugas kepolisian itu menutup semua saluran air dan selokan. Berdasarkan pengalaman rombongan peneliti tadi. Jika sedikit saja tubuh mereka masuk dalam genangan air, terlebih selokan, maka anjing-anjing itu tiba-tiba saja menghilang. Lalu di ujung gerbang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; disediakan sebuah jaring raksasa. Untuk kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ribuan polisi segera menghalau anjing-anjing itu dari tong-tong sampah. Aksi kejar mengejar pun terjadi. Sebenarnya aksi seperti ini sudah sering terjadi di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini. Yang dihalau pun beragam, mulai dari mahasiswa, demonstran, gelandangan, pengemis, warga miskin, dan pedagang kaki &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sebenarnya masih banyak lagi mereka yang diusir paksa dari jalanan &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; ini, tetapi aku memang tak mempunyai ingatan yang baik untuk mencatat segala peristiwa yang terjadi di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan seperti aksi pengusiran yang sudah-sudah, maka &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan penduduknyalah yang harus menanggung akibatnya. Jalanan penuh dengan kotoran anjing yang ketakutan dikejar, tong-tong sampah yang terlempar, kaca-kaca rumah yang tak sengaja tersambit batu, atau bocah yang menangis karena kepalanya tertimpa pentungan yang nyasar. Namun setidaknya, upaya itu berhasil. Anjing-anjing itu mulai terpojok. Meskipun beberapa petugas pun mengalami gigitan, tapi mereka benar-benar bisa menggiring anjing-anjing itu ke arah jebakan di ujung gerbang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Konon, jika mereka sudah masuk dalam jebakan, Pak Walikota sendiri yang akan memimpin jalannya acara pembuangan anjing-anjing ke laut. Rasanya sudah lama memang perut laut dijadikan tempat terakhir untuk segala sesuatu yang dianggap sampah di daratan. Mulai dari kendaraan tanpa mesin, limbah pabrik, hingga hasil bumi yang tak diharapkan muncul. Mungkin suatu saat nanti, akan ada cerita tentang mahluk-mahluk laut yang melakukan balas dendam kepada penduduk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; di sekitar pantai. Tidak seperti film-film &lt;st1:place st="on"&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt; mengenai hiu ganas yang menyerang para perenang dan penikmat wisata air, mungkin lebih mengerikan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekretaris Daerah pun mulai sibuk membuat susunan acara pembuangan anjing-anjing tembus pandang ini. Apakah acara puncaknya adalah gunting pita? Atau pemecahan kendi berisi air kembang? Akhirnya diputuskan seperti peluncuran kapal dari galangan. Pak Walikota nanti akan memecahkan kendi berisi air kembang ke arah peti. Penduduk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sekarang berharap operasi penghalauan ini akan segera berakhir. Sebab segala kegiatan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; harus berjalan normal sesegera mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penduduk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sekarang sibuk memandangi televisi, mendengarkan radio untuk mendengarkan jalannya operasi penghalauan anjing-anjing itu. Saluran telepon pun dipenuhi oleh laporan penduduk yang melihat di sekitar tempat tinggalnya masih ada anjing yang belum terhalau. Sementara para pimpinan perusahaan mulai menghitung-hitung jumlah kerugian yang mereka derita hari ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nun di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; A, seorang gadis memandangi air hujan yang luruh pelan-pelan di jendela kamarnya. Sebentar-bentar dia juga melihat jarum jam yang sepertinya bergerak lebih cepat dari biasanya. Tak puas dengan itu semua, dibacanya ulang pesan pendek yang diterimanya dari seorang pemuda yang berjanji hari ini akan datang membawakan setangkai bunga mawar. Dulu pemuda itu pernah bercerita bahwa bunga mawar terbaik dihasilkan dari perkebunan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; S, tempat dia tinggal.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah gerimis membuatmu menepikan kendaraan? Singgah di sebuah kafe kecil yang temaram. Lalu berbincang ringan dengan seorang gadis lain yang masih lajang? Dan di akhir perbincangan, dia bertanya pada gadis itu di manakah dia bisa bermalam. Sebuah hotel kecil yang asri, atau kamar yang bisa dia tumpangi. Karena gerimis belum juga reda di sini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gadis itu tidak pernah menyalakan televisi. Baginya telepon selular, buku-buku novel remaja, dan lagu-lagu dalam I-Pod adalah dunianya. Juga sebuah kotak ajaib bernama dunia maya. Dari sanalah dia mengenal pemuda yang berjanji akan membawakannya mawar. Mawar yang terindah dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; S.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemuda yang dia tunggu ternyata takut dengan televisi. Dia tidak pernah mau melihat tayangan televisi yang sebagian besar isinya sinetron dan misteri. Alasannya biar pikirannya tak terkontaminasi. Dia belum berangkat memenuhi janjinya. Di kamarnya dia kini sedang menulis sebuah cerita. Dia ingin membuat suatu cerita yang heboh namun masuk akal. Hal itu karena dia ingin membuat satu alasan karena tidak bisa memenuhi janji kepada gadis yang dikenalnya dari dunia maya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walaupun aku akrab dengannya namun akan aku tidak suka dengan caranya mencari teman kencan. Sebenarnya alasan utama kenapa pemuda temanku ini tidak jadi berangkat ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; A untuk menemui gadis itu adalah karena hal yang sangat sederhana. Gadis itu tidak cantik seperti pacarku. Kebetulan minat kami sama, perempuan dan sastra. Sudah lama kami bersaing dalam dua hal itu. Jika dalam urusan perempuan, kami saling menilai pacar siapa yang paling cantik, maka dalam hal menulis, kami saling berlomba naskah siapa yang akan terbit di sebuah koran setiap minggu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sedang menulis apa, Ko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku bertanya sambil menyeruput kopi yang masih mengepul miliknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bukan urusanmu!” Sahutnya dengan mata mendelik melihat aku enak-enakan meminum kopinya. Lalu tangannya terulur untuk merebut cangkir. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengambil kertas hasil tulisannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Wah, mulai menulis hal yang absurd ya? Kenapa tidak dari dulu? Coba kau bisa menulis seperti ini setiap hari, pasti karyamu sudah bersliweran di koran minggu.” Gurauku padanya. Dia hanya bisa garuk-garuk kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sudahlah, kembalikan. Aku sedang mencari akhir ceritanya!” Dia bersungut-sungut membuatku tak tega untuk membaca hingga tuntas. Kuulurkan lagi kertas-kertas itu dan segera disambut dengan setengah merebut.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku berbaring di ranjangnya. Mencoba ikut hanyut dalam cerita yang dikarang oleh temanku itu; “Gerimis yang menjelma menjadi anjing tembus pandang”. Suatu hal yang sulit juga untukku menuliskannya. Diam-diam aku mengakui kehebatan temanku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimana jika anjing-anjing itu menjelma menjadi banjir, Ko?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sudah biasa kalau dari hujan terus banjir!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masih ketus jawaban Sasongko. Mungkin dia merasa jengkel naskahnya aku baca. Aku kembali merenung. Padahal Sasongko pasti tidak mau aku ikut-ikutan menebak atau mencari akhir cerita yang sedang ia tulis. Tapi aku tidak perduli.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aha! Bagaimana jika begini; anjing-anjing itu tertangkap, terus masuk ke dalam peti, dibuang ke laut, tak lama kemudian ada ledakan dari dasar laut, lalu anjing-anjing itu muncul kembali menjadi tsunami!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sudah. Sudah. Aku tidak perlu bantuanmu. Aku bisa menulis akhir cerita ini sendiri!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sasongko semakin marah. Aku tertawa senang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya sudah kalau tidak mau diganggu, aku pergi kencan saja dengan pacarku!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku yang merasa sudah puas menggodanya, bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu. Rumah Sasongko ini adalah rumah yang terletak di daerah kumuh pinggiran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Ukurannya kecil. Ruangannya pun hanya ada dua; kamar mandi dan ruang ini. Ruang yang merangkap ruang tamu, kamar tidur, ruang belajar. Bahkan yang disebut ranjang pun sebenarnya adalah tumpukan dua buah kasur; kasur yang sudah uzur dan kasur yang agak baru. Jadi, di rumah Sasongko hanya ada dua pintu; pintu kamar mandi dan pintu keluar masuk rumah ini. Tanpa mengucap salam lagi, aku pun segera membuka pintu keluar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika daun pintu terbuka, nampak di depan rumah Sasongko ada seekor anjing. Anjing dengan tubuh yang tembus pandang. Persis seperti yang ditulis oleh Sasongko. Aku ingin berteriak memanggil Sasongko, tapi aku yakin dia akan marah lagi. Maka aku putuskan pingsan tanpa berkata-kata lagi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Agustus 2007.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-446887322760235410?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/446887322760235410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=446887322760235410' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/446887322760235410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/446887322760235410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/08/gerimis-anjing.html' title='Gerimis Anjing'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-8182271735143690612</id><published>2007-08-15T05:32:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T05:47:53.279-07:00</updated><title type='text'>Curiga</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Seharusnya aku membiarkan kisah ini tak pernah tercatat, sebab ini seperti membuka sehelai perban yang lengket oleh getah bening sebuah luka yang hampir mengering. Sama seperti suatu sore di musim yang tak kunjung ada hujan, saat sehelai daun jatuh dari pucuk yang meranggas, menimpa jalan setapak di belakang rumah itu. Rumah yang belum pernah aku singgahi sebelumnya. Telah lama aku berusaha mengetuk di bagian depan, namun tak ada tanda-tanda pemiliknya membuka pintu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Maka aku putuskan untuk ke arah belakang rumah. Sebab menurut para tetangga, pemilik rumah ini sedari pagi ada di dalam rumah. Bahkan tadi kedatangan seorang tamu perempuan cantik. Tadinya ada keraguan untuk memasuki halaman rumah besar ini, apalagi dari kartu nama yang aku peroleh rumah ini dihuni oleh seorang pria berkebangsaan asing yang suka memelihara anjing-anjing trah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Kartu nama itu kuambil dari kumpulan kartu nama pemilik anjing-anjing trah sebuah klub pembudidaya anjing trah. Istriku, sejak kematian anjing jantan milikku, memutuskan untuk berbisnis anjing trah. Dia, tanpa sepersetujuanku – mengingat aku lebih suka membeli lagi seekor anjing jantan untuk menjaga rumah - telah membeli seekor anjing betina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Daripada aku menganggur dan kesepian di rumah, lebih baik aku membudidayakan anjing trah. Hasilnya, kata orang-orang, lumayan kok. Lagipula aku ini sudah divonis dokter tidak bakal punya keturunan. Jangan terlalu kuatir aku tidak akan mampu mengurusnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Apa kamu tidak kerepotan untuk mencarikan pejantannya nanti?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Gampang itu, setiap jenis anjing trah sudah ada perkumpulannya di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini. Dan biasanya ada pertemuan untuk membahas perkembangbiakkannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Aku lebih suka kita tetap beli anjing jantan saja, Sayang. Buat menjaga rumah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Aku ini setiap hari di rumah. Tidak pergi kemana-mana. Jadi buat apa anjing penjaga rumah? Kalau memang mampu, kenapa tidak kausewa saja seorang satpam,” jawabnya ketus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sejak itu aku lebih suka diam. Kadang-kadang selepas pulang kerja, aku pergi ke tempat pemakaman hewan. Merenungkan kenapa istriku lebih suka menganggap anjing sebagai komoditas perdagangan daripada sebagai hewan peliharaan. Bukannya aku terlalu sentimentil dengan kematian anjing jantanku dulu, tapi aku ingin istriku memahami bahwa hubungan antara anjing dan majikannya bukanlah seperti hubungan ayam dan peternak ayam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Ah, lagi pula aku memang merasa ada perubahan besar di rumah tanggaku. Istriku lebih sering keluar rumah untuk mencarikan pasangan buat anjing indukan betina yang dimilikinya, Dotty. Maklum, mencari indukan jantan memang diperlukan upaya khusus agar tetap menghasilkan anakan yang bagus kualitasnya. Inilah perbedaan antara peternak dengan sekedar penyayang hewan. Peternak akan berusaha menghasilkan yang terbaik dan membuang yang “cacat”, sedangkan penyayang hewan akan menerima bagaimanapun bentuk tubuh hewan peliharaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Aku lebih suka memilih jadi penyayang, seperti halnya aku bisa menerima kenyataan istriku tidak bisa hamil karena sel telurnya selalu bermasalah setiap diproduksi. Namun tidak demikian dengan istriku. Dia selalu mempermasalahkan kekurangan dirinya sesering dia mempermasalahkan penghasilanku yang pas-pasan untuk hidup di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; besar ini. Memang dia berasal dari keluarga yang terpandang dan cukup berada di kampungnya, tapi bukan berarti dia bisa semena-mena menghina aku dan pekerjaanku sebagai penulis cerita anak-anak di sebuah perusahaan penerbitan. Singkat kata, tak ada yang bisa dibanggakan olehnya dari diriku ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sore ini, kalau bukan karena pesannya untuk segera mencarinya jika datang seekor pejantan yang dipesannya dari kernel langganan datang, aku pun tidak susah payah menemukan alamat rumah ini. Istriku hanya bilang dia akan pergi sebentar melihat keadaan Dotty yang dititipkawinkan pada seorang kenalannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Itu dia. Dotty tergeletak di sebuah kandang pemijahan. Rupa-rupanya memang pemilik rumah ini benar-benar memaksimalkan halaman belakang rumahnya untuk usaha pemijahan anjing trah. Tetapi anehnya banyak kandang yang kosong. Mungkin banyak anjing pejantan koleksinya sedang dipinjam pemilik indukan betina seperti istriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dotty tampak kelelahan. Nafasnya tersengal-sengal. Dia sudah tahu bau milikku sehingga dia tidak menyalak. Demikian juga dengan anjing pejantan yang berbaring di sampingnya. Diam, tak bersuara. Mungkin mereka sudah berkawin berulangkali hingga tak ada energi lagi untuk menyalak atau bangkit dari tidurnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Aku merasa agak aneh kenapa hanya Dotty yang diinapkan di sini dari kemarin? Padahal anjing pejantan lainnya bisa dibawa ke luar. Lalu di manakah istriku? Aku celingukan mencarinya. Rasanya lebih baik aku teriak memanggil namanya, tapi segera kuurungkan niat itu karena tidak baik berteriak-teriak di rumah orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Pintu belakang rumah terbuka. Aku pun segera bergerak ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; aku bisa melihat bagian dalam rumah ini. Di atas meja makan, yang terletak di dalam ruang yang berhadapan langsung dengan pintu belakang, tampak irisan-irisan roti yang belum sepenuhnya habis. Tampaknya si pemilik rumah tak sempat menuntaskan sarapan ketika istriku datang. Rasanya, istriku pergi dari rumah sekitar pukul enam pagi tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Halo?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Tak ada jawaban. Sepertinya memang tak ada orang di lantai dasar rumah berlantai dua ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“Halo?” Sekali lagi aku menyapa. Mungkin tadi suaraku tidak terlalu besar hingga pada sapaan kedua agak kutinggikan nada suaraku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Masih tak ada jawaban. Aku mulai diteror oleh pikiran-pikiran buruk. Mungkin seperti Dotty dan anjing jantan di kandang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, pemilik rumah ini pun sedang tertidur. Seperti Dotty? Lalu istriku? Apakah istriku sedang tertidur bersama pemilik rumah ini? Akhirnya aku beranikan diri memasuki rumah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Pada langkah pertama, aku menemukan sebuah foto yang dipasang di atas meja kecil. Foto pemilik rumah. Dia seorang pria yang besar. Sosoknya kelihatan tegap dan kekar pada sebuah foto setengah badan. Aku bergidik membayangkan tubuh mungil istriku tenggelam dalam rengkuhannya. Karena sudah terhasut pitam, aku mencari benda apa saja yang bisa kugunakan untuk menghantam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Segera kujelajahi ruang di lantai dasar ini, ruang makan, ruang tamu, dapur, namun tak kujumpai keberadaan istriku dan lelaki pemilik rumah. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menaiki tangga ke lantai atas. Setiap bilah kayu anak tangga yang kunaiki bersuara seperti teriakan-teriakan dari dalam hatiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hei! Benar saja, ada kegaduhan yang teredam di dalam kamar. Darahku semakin mendidih. Bagaimana tidak? Itu seperti suara yang hampir setahun yang lalu menghilang dari kamar kami. Sebelum aku tenggelam dalam keputusasaan menghadapi sikap istriku yang kukuh ingin berbisnis anjing trah, dan sebelum istriku menganggap aku terlalu bersikap masa bodoh dalam tindakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Aku meradang! Tanpa berpikir panjang kudobrak saja pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat itu. Dan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“&lt;i style=""&gt;Hei, who are you?&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Lelaki yang tengah memeluk tubuh seorang perempuan segera melompat dari tempat tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“&lt;i style=""&gt;What are you doing here?&lt;/i&gt;” Katanya lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Aku tak segera menjawabnya, karena ingin tahu siapakah perempuan yang tubuh mungilnya tanpa busana dan sebagian rambut menutupi wajahnya. Aku ingin memastikan apakah benar dia yang sedang bercinta dengan lelaki tinggi besar itu adalah istriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“&lt;i style=""&gt;Burglar! Burglarrrr!&lt;/i&gt; Pencuri! Rampok!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Perempuan yang segera menggulung tubuhnya dengan selimut pun ikut berteriak. Apalagi dia melihat di tanganku tergenggam sebatang tongkat pemukul. Sekilas aku melihat bahwa perempuan itu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Lelaki itu segera mendorong dan memukulku hingga aku terjengkang ke belakang, keluar dari pintu yang tadi kudobrak. Sepenuh tenaga aku mendorong kembali untuk masuk dan memastikan bahwa perempuan di atas tempat tidur itu memang bukan istriku. Tak ayal banyak pukulan dari lelaki itu mendarat di wajah dan tubuhku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“&lt;i style=""&gt;That’s my wife! That’s my wife!&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Aku berteriak-teriak kepada lelaki itu. Semoga bisa meredakan pukulannya, namun lelaki itu tetap tidak memperbolehkan aku masuk kembali ke kamar. Dicengkeramnya leher bajuku, dan di dorongnya aku ke arah tangga. Tenaganya begitu kuat. Aku terjerembab di lantai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;“&lt;i style=""&gt;That’s my girl!&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i style=""&gt;She has no husband!&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i style=""&gt;I’m her man.&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i style=""&gt;Out! Out!&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Lelaki itu balas berteriak dan menyudutkan aku pada tangan-tangan anak tangga. Aku terbengong, masih tak percaya bahwa perempuan yang tengah bercinta tadi bukan istriku. Aku harus memastikannya! Kulayangkan tongkat pemukul itu keras-keras ke arahnya. Ke arah kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Yang terakhir aku ingat ada tiga orang teriak hampir bersamaan. Yang pertama adalah lelaki yang aku pukul kepalanya mengaduh sekeras-kerasnya, kemudian teriakan kedua dari perempuan yang keluar serta merta dari rengkuhan selimut hingga tak perduli pada tubuh telanjang bulatnya, dia berlari untuk memeluk lelaki yang kepalanya kini bersimbah darah. Dan yang terakhir adalah teriakan dari seorang perempuan yang baru saja luar dari kamar mandi di bawah tangga. Istriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Setelah memastikan bahwa perempuan di bawah tangga itu adalah benar-benar istriku, tubuhku jatuh bergulingan menghempas pada setiap bilah anak tangga. Persis seperti daun kering yang jatuh dari pucuk meranggas tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;, Agustus 2007.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-8182271735143690612?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/8182271735143690612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=8182271735143690612' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/8182271735143690612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/8182271735143690612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/08/curiga.html' title='Curiga'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-6222845932460328727</id><published>2007-07-30T20:55:00.000-07:00</published><updated>2007-07-30T20:57:02.775-07:00</updated><title type='text'>Kota Tanpa Anjing</title><content type='html'>Benarkah taman firdaus diciptakan sedemikian sempurna? Jika demikian, rasanya kita tak perlu berpanjang-panjang bercerita tentang sebuah kampung kumuh di pinggiran kota besar. Sebab bagiku, kampung ini begitu sempurna. Kami bisa menjumpai aneka tanaman, sebut saja sebuah jenis tanaman langka, terkoleksi dengan baik di dalam sebuah buku - anak-anak sini menyebutnya buku, padahal yang dimaksud adalah lembaran herbarium - milik Pak Pandi, seorang pensiunan pegawai kebun kota. Sepulang sekolah, kami biasanya bermain di rumahnya untuk mendengarkan asal tanaman-tanaman itu. Kami senang sekali bisa tahu lebatnya hutan di Kalimantan dulu, juga hutan Amazon. Karena dari televisi, kami senantiasa dijejali dengan berita tentang kebakaran hutan. Pak Pandi adalah orang yang sering memberiku uang jajan. Kata Ibu, dia juga yang memberiku beasiswa agar tetap sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kami ingin mengenal berjenis-jenis binatang, maka kami datang kepada Bung Akar, mantan demonstran 60-an yang tak pernah sukses untuk mempunyai jabatan politik pada satu partai pun. Andai kami ingin tahu bagaimana hidup seekor meerkat – kucing kecil padang gurun di Afrika, maka Bung Akar akan bercerita panjang lebar betapa rapuhnya sebuah organisasi. Ah, memang pintar sekali dia menggunakan imaji binatang untuk berkisah. Dia pula yang menjuluki kami, anak-anak kampung ini dengan berbagai nama binatang. Mastur yang tubuhnya ceking dipanggilnya Mastur Lemur, Lemur adalah binatang seperti kera namun mukanya mirip tupai itu pandai sekali menari. Lalu ada Gudil Jerapah, Roni Kuda Nil, dan Agus Zebra. Ah, ini yang lucu. Agus dinamakan Zebra karena dia sering sekali masuk angin, dan oleh ibunya dia sering dikerok. Lucu bukan? Aku sendiri dinamainya Ajak. Arman Ajak, itulah panggilanku. Ajak itu artinya serigala dalam bahasa Jawa. Tapi hingga kini, aku tidak tahu apa alasan Bung Akar menyebut aku demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Pak Lurah bertandang ke rumah Pak Pandi. Kebetulan kami sedang berada di sana. Tanpa sengaja kami mendengar sebuah rencana. Rencana yang jika terjadi, akan menghapuskan taman firdaus, kampung kami ini. Sebuah perusahaan kontraktor, yang dipimpin oleh saudara Pak Lurah ingin membangun perumahan modern yang cukup luas di pinggiran kota. Pak Pandi adalah cukup dihormati di kampung kami oleh sebab itu dia sering didatangi pejabat-pejabat RT, RW sampai utusan Walikota jika akan ada peninjauan kebersihan kota. Maklumlah kampung kami dianggap begitu kumuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, jadi begitu ya, Pak.”&lt;br /&gt;“Ya. Rencananya seperti itu.” Pak Lurah memasang senyum sementara jidat Pak Pandi berkerut.&lt;br /&gt;“Lalu, kami semua ini akan dikemanakan?”&lt;br /&gt;“Ah. Begini. Ini jujur saja, ya,” bisik Pak Lurah.&lt;br /&gt;Lalu segera menyambung sambil membuka map yang dibawanya.&lt;br /&gt;“Proyek ini nilainya memang besar. Pak Pandi tahu sendiri bukan, bahwa harga bahan bangunan sekarang ini sangat tinggi. Maka dari itu, pesan dari Pak Camat, sesuai edaran dari Pak Walikota juga, diusahakan. Ini mohon pengertiannya. Agar biaya relokasi warga diminimalisir. Begitulah Pak Pandi.”&lt;br /&gt;“Tapi Pak, sebagian besar rumah dan tanah di sini sudah bersertifikat?”&lt;br /&gt;“Ya. Saya tahu. Saya ini ‘kan Lurahnya. Hehehe…” Pak Lurah tertawa.&lt;br /&gt;Pak Pandi cuma bisa tersenyum nyinyir.&lt;br /&gt;“Saya sudah menginventarisasi berapa kepala keluarga yang harus merelakan tanah dan rumahnya. Paling nanti saya kasih uang sekedarnya untuk kontrak,”lanjut Pak Lurah.&lt;br /&gt;“Jika sudah benar-benar dipikirkan, saya rasa warga di sini juga tidak keberatan. Selama ini kami sudah diakrabkan dengan kekumuhan, jadi seandainya kami di relokasi ke tempat yang lebih baik tentunya kami tidak keberatan.”&lt;br /&gt;Lagi-lagi Pak Lurah tertawa. Pak Pandi bingung sebab merasa tak ada kata-katanya yang lucu atau salah.&lt;br /&gt;“Saya ini cuma bilang biaya relokasi, Pak Pandi. Soal mau pindah ke mana, saya tidak peduli.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, ini seperti pengusiran Pak?”&lt;br /&gt;“Hus, jangan ngawur! Saya tidak mengusir siapa pun. Hanya merelokasi saja.”&lt;br /&gt;“Aduh, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, fragmen singkat itu oleh kami segera masuk ke dalam telinga Bung Akar. Tentu saja, darah demonstrannya kembali menggelegak.&lt;br /&gt;“Ini penghinaan atas hak asasi manusia! Kita hidup di kampung ini karena keadaan. Terpaksa. Dan kita semua telah menghidupi kota ini dengan keringat dan kerja keras kita. Ganti rugi adalah syarat utama! Jangan mau kita dianggap sebagai anjing buduk yang bisa diusir begitu saja!” Berapi-api sekali Bung Akar berorasi di depan pengunjung warung. Akhirnya ramai orang mendatangi rumah Pak Pandi memprotes rencana pembangunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran Bung Akar menyebutkan penghuni kampung kumuh ini seperti anjing buduk, maka rencana pembangunan perumahan itu disebut sebagai rencana pembangunan “Kota Tanpa Anjing”. Sebenarnya aku ingin ikut dalam aksi demo itu, namun tiba-tiba Ibu memanggilku.&lt;br /&gt;“Man, jangan ikut-ikut. Bahaya!”&lt;br /&gt;“Ah, Ibu. Arman hanya ingin melihat saja.”&lt;br /&gt;“Pokoknya jangan. Ibu tidak mau engkau celaka.”&lt;br /&gt;Aku hanya bisa memperlihatkan muka cemberut ketika berjalan ke arahnya. Ibu memasang senyum yang manis, mencoba menghiburku. Dia menyambut tubuh mungilku dengan dekapannya. Maka api yang tadinya membara dalam dadaku tiba-tiba padam seperti tersiram air dingin. Setiap pulang bermain aku mampir ke rumah sahabatku, Roni, untuk minta segelas air dingin. Kata orang, Roni menjadi gemuk seperti kuda nil gara-gara sering minum air dingin. Rasanya lega sekali jika meminum air dingin saat hari terik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mau tahu kenapa Bung Akar memanggilmu Ajak?”&lt;br /&gt;“Mau. Tapi, apakah ibu benar-benar tahu ceritanya?”&lt;br /&gt;Ibu memainkan anak rambut di dahiku. Ada sebuah bekas luka bertengger di sana, meski tidak berbentuk petir seperti bekas luka Harry Potter, tapi cukup untuk kemudian, entah kapan saatnya, orang-orang akan memanggilku Arman Codet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luka ini kau dapatkan waktu kamu masih bayi. Ada pertengkaran hebat di rumah kakekmu dulu.”&lt;br /&gt;“Di manakah rumah kakek, Ibu?”&lt;br /&gt;“Jauh dari sini. Dan sekarang Ibu, kau, maupun ayahmu tak boleh lagi ke sana.”&lt;br /&gt;“Ayah? Aku punya ayah, Ibu? Di mana Ayah sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menangis begitu saja. Sepasang airmata leleh di kedua pipinya.&lt;br /&gt;“Waktu itu, Ibu masih remaja. Ibu tidak tahu apa yang Ibu telah lakukan dengan laki-laki itu. Kakekmu marah besar, karena Ibu sudah dijodohkan dengan seorang pegawai. Bahkan rencananya tak lama setelah Ibu selesai SMA, Ibu akan dinikahkan dengannya.”&lt;br /&gt;“Katakan Ibu, siapakah Ayahku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menyusut airmata itu dengan lengan bajunya.&lt;br /&gt;“Nenek minta agar aib itu tak terbongkar, Ibu buru-buru dinikahkan dengan laki-laki pilihan Kakek. Tapi akhirnya laki-laki itu tahu, hingga suatu ketika kau jadi pelampiasan kekasarannya.  Itu lah asal muasal luka di dahimu, Nak.”&lt;br /&gt;“Siapa Ayahku sebenarnya, Ibu?” Aku mulai tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ibu tidak segera menjawab pertanyaanku, Ibu terus saja bercerita.&lt;br /&gt;“Ibu lari dari laki-laki itu untuk mencari Ayahmu. Tapi Ayahmu terlalu sibuk dengan kegiatannya menentang para penguasa ketika itu. Ayahmu ditangkap dan di penjara. Akhirnya Ibu memutuskan untuk tinggal di sini.”&lt;br /&gt;“Di mana Ayah sekarang Ibu?” Aku bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki itu rupanya menyesal, dia mencari Ibu. Dia meminta maaf atas kekasarannya kepadamu, juga kepada Ibu. Ibu rasa, sebaiknya kau juga memaafkan dia, Nak. Sebenarnya dia laki-laki yang baik, hanya saja waktu itu, dia merasa dimanfaatkan dan ditipu oleh Kakek dan Nenekmu. Karena penyesalannya, dia pun tinggal tak jauh dari rumah ini. Dia juga membantu agar Ibu bisa tetap hidup dan kau bisa sekolah. Meskipun kini dia sudah pensiun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dia bukan ayahku! Aku mau tahu siapa dan di mana ayahku!” Aku berteriak di pangkuan Ibu. Ibu memegangku erat-erat. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara ramai orang gegap. Tidak berapa lama, terlihat kobaran api dan asap hitam. Sirene mobil polisi pun segera terdengar. Orang-orang berlarian. Mirip tikus di selokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu ketakutan, aku juga. Kami tak melepas pelukan. Ibu menutup pintu rapat-rapat. Kuatir akan datang seseorang tak dikenal atau polisi yang merangsek mencari tersangka pembakar kampung ini. Kami mulai menangis bersama.  Dalam tangis, masih saja aku didera rasa penasaran.&lt;br /&gt;“Jadi siapakah ayahku, Ibu? Di manakah dia?”&lt;br /&gt;Ibu menyeka air mata yang mengalir di pipiku sebelum menyeka miliknya sendiri.&lt;br /&gt;“Karena dulu, waktu dilukai laki-laki suami Ibu itu, kau tak menangis, maka ayahmu menjulukimu Ajak, Serigala kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli, 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-6222845932460328727?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/6222845932460328727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=6222845932460328727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/6222845932460328727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/6222845932460328727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/07/kota-tanpa-anjing.html' title='Kota Tanpa Anjing'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-7732384344501534679</id><published>2007-07-17T02:20:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T02:22:34.487-07:00</updated><title type='text'>Lelaki yang Memilih Mati di Atas Perut Seorang Pelacur</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebagaimana bau sampah, kisah tragis yang terjadi pada sebuah kamar hotel murahan itu pun cepat sekali berpindah telinga. Lalu tiba-tiba saja, seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sudah hafal jalan ceritanya. Sebuah peristiwa biasa kurasa. Seorang lelaki tua, dilaporkan oleh teman kencannya - seorang wanita panggilan, tewas ketika sedang berhubungan badan dengannya. Dan seperti biasanya pula, kita hanya menyoroti soal moral, yang mana adalah kelakuan bejat seorang lelaki tua yang doyan melakukan hubungan badan dengan pelacur, juga tentang obat kuat yang berbahaya. Tidak lebih dari itu.    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu suatu hari, aku bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang bekerja dengan tubuhnya. Lebih tepatnya alat kelaminnya. Dia tetanggaku. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari kontrakanku. Saat peristiwa itu terjadi, perempuan yang sekarang sedang duduk di depanku, tidak pulang seharian. Kami yang berada satu lingkungan RT tahu bahwa dialah perempuan yang di atas perutnya kemarin malam ada lelaki tua yang terjemput maut. Setelah peristiwa itu, ramai orang berbisik-bisik jika bertemu dengannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Ih, tidak terbayang aku bercinta dengan seorang kakek yang sudah bau tanah,” celoteh seseorang yang melintas di depan teras rumah. Yang di sampingnya bercakap pelan,”Bagaimana lagi? Saya hanya perlu uangnya.” Dan keduanya tertawa terkikik sambil melirik ke arah perempuan yang duduk di depanku. Aku duduk di hadapannya dengan kikuk. Sebab jika aku tersenyum, aku kuatir perempuan itu mengira aku ikut menertawai dirinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana, Mbak?” Kembali aku menanyakan kepadanya soal bantuan yang hendak diterima olehnya sebagai warga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang tergolong miskin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Saya ini masih mampu bekerja, Mas. Coret saja nama saya dari daftar Mas itu,” kata-katanya terdengar agak ketus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Besar bantuan ini cukup layak lho, Mbak. Coba Mbak pikirkan sekali lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Uang sebanyak tiga ratus ribu sebulan memang tidak cukup untuk hidup di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; besar, tapi jika hanya untuk seorang diri saja masih layak lah. Apalagi rumah sudah punya dan masih bekerja juga. Tapi entah kenapa sepertinya dia sangat berat untuk mengiyakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang ini, mana ada yang menampik bantuan, Mbak. Ini bantuan dari yayasan tempat saya bekerja. Tidak ada imbalan atau manfaat apa pun yang hendak saya dapatkan dari pemberian bantuan ini.” Aku masih berusaha meyakinkan kepadanya akan niatan baik ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia hanya tersenyum. Senyuman yang manis. Pantas saja jika banyak lelaki yang terpikat kepadanya. Tiba-tiba aku teringat tentang lelaki yang tewas di atas perutnya itu. Bagaimana ceritanya mereka bisa bertemu? Perempuan ini berdiri di tengah jalan dan melambai ke arah mobil lelaki itu, atau lelaki itu sengaja keluar dari rumahnya untuk mencari perempuan seperti dia? Aku pun mendatanginya sekarang meskipun bukan untuk menggunakan jasanya. Aku tak habis pikir bagaimana pelacuran bisa dikategorikan pekerjaan jasa padahal yang terjadi adalah penghambaan manusia akan uang dan nafsu. Sok moralis! Demikian tuduhan temanku ketika aku menolak terlibat korupsi di kantor. Demikian pula saat aku menolak ikut serta ke sebuah ruang karaoke yang sudah berisi beberapa perempuan setengah telanjang. Aku terlalu takut melakukan hal yang menurutku sendiri tidak pantas kulakukan. Dosa? Aku tidak berpikir sejauh itu. Begini, untuk soal korupsi, aku merasa tidak pantas melakukan karena dulu waktu diterima bekerja di yayasan ini gajiku sudah ditentukan. Apabila aku melakukan korupsi maka aku akan mendapatkan uang yang lebih banyak dari gajiku. Sementara aku tidak bekerja lebih keras ataupun lembur. Lebih-lebih soal perempuan. Aku belum menikah, makanya aku merasa tidak pantas melakukan hal yang seharusnya kulakukan dengan istriku sendiri. Jadi bukan karena aku merasa perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh teman-temanku itu sebagai dosa.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dia masih tersenyum. Matanya menatap ke arah map yang aku letakkan di atas meja, penghalang antara aku dan dia, di teras ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimana ya?” Dia bertanya sendiri, lalu melanjutkan bicara,”Biasanya lelaki datang kepadaku dengan berbagai alasan tetapi pada akhirnya mereka pasti minta imbalan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setetes keringatku jatuh. Sejak awal menginjakkan kaki ke rumahnya, aku sudah menduga bahwa tuduhan seperti ini pasti akan terlontar olehnya. Aku pun tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Maaf. Jika terpaksa saya katakan tuduhan Mbak sama sekali salah. Saya tidak pernah menginginkan apapun dari Mbak,”tandasku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dia juga pertama bilang seperti itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dia? Dia siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Laki-laki tua yang tewas di atas tubuhku,” lalu dua buah titik air matanya mengembang di pelupuk mata sebelum akhirnya luruh menjalur di kedua pipinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Dari mulutku ingin terucap kata-kata aku beda dengan laki-laki itu, atau tidak semua laki-laki yang berbuat baik menginginkan sesuatu dari seorang perempuan. Tapi semuanya itu tertahan. Percuma ada pembelaan diri. Biarlah dia puas menumpahkan cengkunek di hatinya. Siapa tahu dari ceritanya aku mendapat ide naskah drama.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Memang apa yang dijanjikan kepadamu?” Akhirnya aku ber-aku kamu kepadanya untuk menghilangkan kesenjangan di antara kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidak. Dia tidak menjanjikan apa-apa. Dia cuma berkeluh tentang hidupnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bukankah itu sudah biasa? Lelaki mengeluhkan tentang kehidupannya, terutama kehidupan cintanya untuk mendapatkan perhatian dari seorang perempuan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidak. Tidak. Ini berbeda,” kedua belah telapak tangannya ditutupkan ke wajahnya. Rupanya dia masih trauma dengan kejadian itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dia bercerita tentang anjing, pelacur, dan surga.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sepertinya aku pernah mendengar cerita itu,” kataku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tentang pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum seekor anjing?” Dia bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya. Benar. Cerita itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kali ini dia benar-benar menangis dan berkata,”Coba kau ceritakan kisah itu kepadaku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku tidak begitu ingat cerita itu. Yang aku tahu, suatu ketika di sebuah daerah yang gersang ada seorang pelacur yang sangat kehausan. Dia berjalan jauh untuk mencari perigi. Lalu ketika dia hendak minum, tampak olehnya seekor anjing yang hampir mati kehausan. Pelacur itu berbaik hati, dengan tangannya dia memberikan air untuk anjing itu minum. Keduanya, setelah puas minum, tanpa sebab yang jelas menemui ajalnya. Ternyata karena kebaikannya memberi minum kepada anjing sekarat, pelacur itu masuk surga.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kudengar dia terisak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apa yang salah?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidak. Tidak ada. Kau pun tahu cerita itu, Mas. Aku senang sekali mendengar akhirnya. Pelacur itu masuk surga. Itu impian saya, Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Lantas, apa hubungannya antara cerita itu dengan lelaki tua itu?” Selidikku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dia bilang, dia adalah anjing yang sedang sekarat itu. Anjing yang sangat kehausan. Dan aku, katanya, adalah pelacur yang di tangannya ada segenggam air. Lalu dia ”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dengan cerita seperti itu, kamu percaya begitu saja kepadanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bukan. Bukan seperti itu. Hanya dialah lelaki yang menjanjikan surga kepadaku. Makanya malam itu, aku ingin sekali memuaskannya. Dan dia setuju. Kami sama-sama ingin masuk surga.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku tersenyum. Betapa bodohnya perempuan ini. Betapa rapuhnya dia akan janji surga seorang lelaki. Aku ingin tertawa terbahak-bahak, tapi kuurungkan karena hal itu bisa merusak suasana.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kamu memang selalu menjanjikan surga kenikmatan kepada semua laki-laki?” Terpaksa aku bertanya sedikit ketus kepadanya, sebab semua yang dia ceritakan benar-benar tidak masuk akal bagiku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Kamu salah menilai! Kemarin malam itu, pada telapak tanganku benar-benar muncul segenggam air. Namun lelaki tua itu ternyata bukan seekor anjing yang kehausan. Dia telah menipu aku.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menganggap perempuan itu sedikit terganggu pikirannya karena cerita pelacur dan anjing itu. Namun perempuan ini rupanya masih ingin berkutat dengan cerita itu. “Ternyata ceritanya tentang surga itu benar, Mas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Surga? Apakah kau sudah melihat surga?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya. Pada saat itu aku melihat langit-langit kamar terbuka. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tangga dari emas menjuntai. Aku dan lelaki itu sama-sama melihat ke atas. Pintu surga dari emas juga terbuka. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; taman yang sangat indah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Lalu apa yang terjadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku sudah tak tahan mendengar kebohongan seperti ini. Yang mengejutkan, dia menatapku dengan mata yang berbinar. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; apakah gerangan?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Mas, aku tidak butuh bantuanmu. Uang dari yayasan itu sama sekali tidak menarik bagiku. Tetapi jika boleh, aku ingin minta tolong sekali ini saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apa itu?” Tanyaku curiga. Jangan-jangan dia mulai menganggapku sama seperti lelaki tua itu, sebagai anjing yang kehausan yang bisa mengantarnya masuk surga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Carikanlah untukku seekor anjing yang sekarat karena kehausan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, 16 Juli 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-7732384344501534679?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/7732384344501534679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=7732384344501534679' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/7732384344501534679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/7732384344501534679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/07/lelaki-yang-memilih-mati-di-atas-perut.html' title='Lelaki yang Memilih Mati di Atas Perut Seorang Pelacur'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-1253224434628185292</id><published>2007-07-16T04:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T04:51:18.397-07:00</updated><title type='text'>Akhirnya Dia Membuka Resleting Celananya</title><content type='html'>Dari sebuah monitor, diperhatikannya dengan seksama tingkah laku anjing liar itu. Anjing yang sedang berlari-lari di trotoar lalu berhenti sebentar di dekat tong sampah. Rupanya ia mengendus sesuatu. Mungkin ada bau yang sangat menyengat atau menarik perhatiannya. Setelah tahu bentuknya dan menurutnya tidak menarik atau sesuatu yang ditemukan itu tidak bisa dimakan, ia berlalu kembali.    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia menunggu anjing liar itu berhenti tepat di depan rumahnya. Di tangannya tergenggam erat sebuah tongkat. Niatnya sudah bulat jika, sesuai dugaannya, anjing liar itu yang berak di pintu pagar, maka dia tidak segan memukuli anjing liar itu sampai mati. Entah kali yang ke berapa dia menerima keluhan dari tetamu mengenai adanya tahi pada jalan masuk ke arah rumahnya. Dia merasa tersinggung dikatakan tidak dapat menjaga kebersihan tempat tinggalnya. Padahal sudah banyak hal yang dia lakukan untuk memperindah istana kecilnya itu. Mulai dari pembuatan taman yang menghabiskan seluruh hadiah seorang kolega yang diloloskan dalam tender pembuatan jalan, sampai kepada pemberian lampu hias di pagar yang nilainya berpuluh-puluh juta. Semuanya ditujukan agar tetamunya mau dating dan betah berlama-lama di rumahnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oh, kenapa dia tidak percaya kepada petugas keamanan rumah? Biasanya beberapa saat sebelum fajar, petugas keamanan selalu tertidur. Sudah pagi, pikir mereka, siapa yang mau berbuat jahat pagi hari? Sudah dua orang petugas keamanannya dia pecat. Selain dia memang tidak suka pegawai yang tidak disiplin terlebih keduanya sama sekali tidak tahu seperti apa anjing yang suka seenaknya berak di depan pintu pagar. Sekarang dia lebih percaya kepada sebuah kamera di atas tiang telepon yang terhubung dengan kamarnya dan alarm yang dipasang di engsel pintu pagarnya. Jadi setiap ada sedikit saja gerakan yang membuat pintunya bergerak, ada lampu berkedap-kedip merah yang akan memaksa dirinya memeriksa dan memelototi apa yang terjadi di depan pintu pagarnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Alarm itu bekerja dengan baik. Suatu malam dia berhasil mengusir gelandangan yang mengantuk ketika mencoba tidur bersandar di pintu pagarnya. Pun kameranya itu sudah terbukti ampuh. Pernah diperintahnya para pembantu untuk berjaga dengan air seember karena dia melihat ada dua ekor kucing jantan sedang menuju pintu pagarnya. Dia tahu jika dua kucing jantan bertemu, pasti ada perkelahian. Dan yang pasti, jika kucing berkelahi itu bisa menimbulkan suara berisik, bulu-bulu yang rontok, dan kucing yang kalah akan terberak-berak karena kena hajar. Dia tidak mau hal seperti itu terjadi di rumahnya, meskipun hanya di halaman.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anjing itu tampak mendekat. Dia mengendap-endap bangkit dari kursi di mana dia memonitor seluruh gerakan si anjing. Dilewatinya dengan hati-hati ranjang, dia tak mau mengganggu istrinya yang sedang tertidur pulas lantaran tersenggol ujung kakinya atau sekedar tertarik sedikit sepreinya. Ah, sudah lama dia tidak bercinta dengan istrinya. Semenjak dia sibuk mencari tahu apa yang terjadi pada bagian luar pintu pagarnya sendiri. Dia lebih memilih pencarian anjing yang berak di depan pintu pagar sebagai rahasia yang harus diungkap dibandingkan dengan kekurangharmonisan rumah tangganya sendiri. Sudah berulang istrinya mengeluh bahwa dirinya kurang perhatian terhadap perkembangan anak bungsunya yang baru masuk sekolah dasar, juga soal kegiatan keluarga yang sudah jarang dihadirinya. Setelah pintu kamar tertutup kembali, dia berlari.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekarang dia sudah berada di belakang pintu pagar sementara dia mendengar suara anjing liar itu semakin jelas. Dia mendengar dengus nafas yang teramat keras. Seperti dengus nafasnya sendiri sehabis menuruni anak tangga dan berlari kecil melintasi halaman untuk sampai di belakang pintu pagar ini. Dari celah bilah papan penutup pintu pagar, matanya menangkap mata anjing itu juga sedang melihat ke arah dirinya. Seekor anjing yang besar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tongkat kayu di tangannya terasa basah oleh keringatnya. Dia memejamkan mata, membulatkan tekad dan pikirannya untuk segera membuka pintu pagar lalu memukuli anjing liar itu habis-habisan. Tapi suara dengus nafas anjing itu tiba-tiba hilang. Lagi dia mengintip dari balik celah papan pintu pagar. Astaga! Anjing itu masih ada. Matanya sedang menatap dirinya. Mata bertemu mata. Dia semakin cemas.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia mulai berpikir anjing itu sudah tahu bahwa dirinya sering diintip olehnya. Dan mungkin anjing itu juga tahu bahwa hari ini dia sedang diincar untuk dipukuli habis-habisan. Matanya masih melihat lurus ke arah mata anjing itu. Anjing itu diam saja dalam posisi duduk. Baru kali ini dia melihat dengan jelas bagaimana rupa anjing yang dia sangka selalu berak di pintu pagarnya. Anjing itu jenis anjing kampung biasa. Bulunya tipis berwarna cokelat terang. Ekornya melengkung lancip. Meskipun ukurannya lebih besar dari anjing kampung lain namun tetap kurus. Perutnya sedikit buncit. Terlalu banyak sisa makanan dari tempat sampah dilahapnya atau (paling-paling) cacingan!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun anjing itu tidak bergerak sama sekali. Dia tidak punya bukti kuat untuk menuduh anjing itu sebagai anjing yang telah kurang ajar berulang berak di depan pintu pagarnya. Tapi keyakinan sudah tak terbantahkan. Dia sudah memonitor anjing itu berhari-hari. Persoalannya adalah bagaimana jika ada orang lewat yang melihat dia memukuli anjing tanpa alasan? Mungkin dia akan disangkanya sebagai seorang gila, atau bahkan psikopat!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aduh, jangan sampai ini terjadi. Ataukah sebaiknya aku bangunkan petugas jaga yang pemalas untuk menangkap, membawanya ke dalam, lalu menghabisinya di halaman? Tidak. Nanti anakku melihatnya, dia bisa shock! Dahinya berkerut-kerut.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memang, belum pernah dia merencanakan sebuah pembunuhan. Kalau merancang agar dia mendapatkan sisa dari uang proyek, baru dia jagonya. Pembunuhan yang baik adalah punya motif pembelaan diri, atau tidak ada saksi sama sekali. Jika terpaksa ada saksi, haruslah saksi yang menguatkan bahwa dia tidak merencanakan pembunuhan itu, saksi yang mengatakan memang telah terjadi sesuatu kejahatan yang mengancam nyawanya hingga dia membela diri, atau semuanya benar-benar sesuatu yang bersifat kecelakaan. Tapi tak ada yang bisa membantah betapa bencinya dia terhadap anjing yang suka berak di depan pintu pagarnya. Semua teman, kolega, keluarga, bahkan pegawai-pegawainya tahu jika dia memang sedang mengincar kematian seekor anjing.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya, harus ada alasan kuat. Tapi apakah itu? Sesuatu harus terjadi agar anjing itu layak dia bunuh dengan tangannya sendiri. Bukan semata-mata karena anjing itu berak di depan pagar. Perlahan dikeluarkannya anak kunci untuk melepas gembok pada gerendel pintu pagar. Matanya masih mengintip celah pintu pagar, mengawasi setiap gerakan anjing itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pintu pagar terbuka, anjing itu masih tak bergerak sedikit pun. Sama sekali tak ada alasan baginya untuk melakukan pemukulan terhadap anjing itu. Bagaimana jika sekedar dihalau? Ya. Bagaimana? Tapi besok pagi pasti dia datang lagi. Dia yakin sekali. Sebab sudah berkali-kali petugas keamanannya mengusirnya tetapi anjing itu tetap datang kembali untuk meninggalkan setumpuk beraknya di depan pintu pagar.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekarang dia dan anjing itu berhadapan. Hampir tak ada jarak di antara keduanya. Anjing itu masih menatap ke matanya. Dia pun tak melepaskan sedikit juga perhatian dari gerak-gerik anjing itu. Dia memainkan tongkat, anjing menggerakkan ekor. Dia menyeringai, anjing itu menggeram. Keduanya saling mengancam.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ini rumahku! Pintu pagarku!” Teriaknya dalam hati. Dia mengira anjing itu pun berteriak, “Ini jambanku! Ruang renungku!” Ah, ruang renung! Dia berpikir anjing itu seperti seorang seniman yang membutuhkan sebuah ruangan khusus, waktu khusus untuk menunggu datangnya ide. Menggelikan, bisiknya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanapun, harus ada gerakan dari dia untuk lebih mengancam si anjing. Dia mengangkat tangan. Anjing itu merendahkan pundaknya. Sikap siap menerkam. Bagus, bagus. Akhirnya dia punya alasan untuk membunuh. Dia menurunkan tangannya dengan cepat, anjing itu dengan cepat pula memundurkan badannya. Dia kecewa. Dia harus merangsang anjing itu untuk menyerangnya. Harus!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setiap pagi, ada mekanisme tubuh yang lucu pada diri seorang laki-laki. Penis akan menegang ketika udara pagi menjelang dan gerakannya tidak pernah dia pikirkan. Sekarang dia punya alasan untuk merangsang anjing itu menyerang! Dia pernah melihat dari kamera anjing itu lahap sekali mengunyah sepotong sosis. Dia tersenyum walaupun sekelebat dia membayangkan suatu peristiwa yang teramat tragis menimpanya. Tapi ini harus dilakukan! Setidaknya dicobanya. Apakah dia sudah kehilangan akal sehat? Entahlah. Yang terakhir aku lihat saat bersepeda pagi, akhirnya dia membuka resleting celananya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 16 Juli 2007.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-1253224434628185292?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/1253224434628185292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=1253224434628185292' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/1253224434628185292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/1253224434628185292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/07/akhirnya-dia-membuka-resleting.html' title='Akhirnya Dia Membuka Resleting Celananya'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-5711116698553197491</id><published>2007-07-12T22:07:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T02:07:16.296-07:00</updated><title type='text'>Ada Bibir Norah Jones di Cangkir Kopiku</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Saat kulihat hari berganti, kuberharap dapat terbang tinggi¹&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jam mungil di lingkar lenganku menunjukkan pukul 17.30. Dan lamat-lamat kudengar alunan lagu “Don’t Know Why” yang dibawakan Norah Jones dalam sebuah kotaklagu yang dimainkan seseorang. Sore yang cerah, bisikku pada jendela kafe tempatku bekerja. Mudah-mudahan akan tetap cerah sampai malam nanti. Cuaca saat ini sangat tak mudah ditebak. Sebentar panas, sebentar hujan. Dua hari yang lalu, aku merasa sedang diberkati.sebab saat pulang kerja kemarin dihadiahi hujan yang begitu deras mengguyur. Dan karena hujan itu, aku bertemu dengannya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia mengaku dirinya sebagai penulis. Pekerjaan yang sulit kataku, tetapi dia bilang sebaliknya, pekerjaanku sebagai pelayan justru pekerjaan yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Contohnya adalah soal sebuah senyuman.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimana bisa kamu memasang senyuman di bibirmu padahal mungkin dalam hatimu sedang gelisah atau marah?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ah, dasar penulis. Bisa saja dia membuat perkataan seperti itu. Tapi dia mungkin lupa bahwa aku adalah pelayan yang setiap hari berhadapan dengan pelanggan atau tamu yang macam-macam maunya. Jadi aku harus bisa menahan perasaanku atas segala bentuk rayuan. Sekedar menjaga diri. Maklumlah hidup di &lt;st1:City w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; besar harus pandai-pandai menahan diri dari godaan. Banyak predikat mudah ditempelkan kepada pekerja perempuan, terutama yang pulang tengah malam sepertiku. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kami berdiri di teras kafe. Sebenarnya, aku bisa saja masuk kembali ke dalam tetapi entah karena sudah merasa bosan dengan suasananya atau memang kali ini aku ingin melihat butiran-butiran air yang turun dari langit maka aku tidak melakukannya. Namun bukan maksudku untuk menemani dia yang entah sejak kapan berdiri di teras kafe ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Anda menulis puisi juga?” Aku sama sekali tidak ingin melanjutkan pembicaraan dari sudut pertanyaannya tadi. Aku hanya berpikir jika dia mampu membuat kalimat yang seperti tadi semestinya dia bisa menulis puisi.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Penyair, maksudmu?” Dia balik bertanya. Sesekali dia menghembuskan asap rokok dari bibirnya. Aku teringat ketika sepupuku menikah, keluarganya menyewa seorang pawang hujan. Agar tidak turun hujan pawang hujan selalu merokok dan menghembuskan asap rokoknya ke langit. Tanpa sadar, aku menutup hidungku. Dan mungkin dia segera maklum hingga pada kali selanjutnya dia tak menghembuskan asap rokok ke arahku.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku tidak tahu bedanya penyair dan penulis puisi. Tapi apakah anda menulis puisi juga?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidak. Penyair dan penulis puisi tidak ada bedanya. Aku tidak menulis puisi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tapi anda bisa membuat kalimat yang indah tadi,” sergahku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Puisi tidak sekedar berbahasa indah,” dia berhenti bicara sebentar dan membuat gerakan tangan yang aku tangkap sepertinya dia sedang ingin menanyakan namaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Indah,” sahutku datar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia tersenyum dan mengulurkan tangan hendak menjabat tanganku. Padahal kedua tanganku sedang kupergunakan mendekap lenganku yang mulai kedinginan. Mulutnya nyaris terbuka namun aku segera berkata yang sekiranya dapat mengatupkan kembali kedua bibirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Jangan bilang kalau namanya seindah orangnya, ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia tersenyum lebar. Geliginya tampak berderet putih ditimpa sinar lampu papan iklan. Lalu senyumnya pun berubah menjadi sebuah derai tawa panjang. Menghangatkan suasana malam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Hampir saja saya bilang begitu, tetapi sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa namamu sederhana namun punya makna yang kuat.” Matanya seperti punya daya hentak di dadaku. Sorot matanya berbinar setiap dia mengucapkan kata. Dan jantung di dadaku berdetak lebih kencang setiap kulihat matanya. Hingga rasanya lebih baik aku segera melompat melintasi langit dan hujan dan meninggalkan dirinya sendiri di teras kafe ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Biarkan aku bersimpuh di pasir, menangkup tangisan dengan tangan²&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia menghisap rokoknya kembali sebelum terbatuk dan membuang puntungnya secara sembarangan ke tengah badan jalan yang basah oleh genangan air hujan. Dari saku jaketnya, dikeluarkan selembar saputangan. &lt;st1:City w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; selembar foto yang terjatuh berbarengan dengan tercabutnya saputangan itu. Aku berusaha membantu menangkapnya tetapi kalah sigap dengan tangannya. Yang mengherankan dia langsung menyerahkan foto itu di telapak tanganku yang tadi gagal menangkapnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tak ada rahasia. Ini foto kekasihku.” Sebelum aku sempat memandangi wajah di dalam lembaran foto itu, dia meralat ucapannya. “Mantan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hanya ada “o” panjang keluar dari antara kedua bibirku sambil aku menajamkan pandangan agar wajah di dalam foto itu terlihat jelas dalam suasana malam berhujan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Cantik. Kenapa putus?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku bertanya asal saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena tak ada jawaban maka kuulangi lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dia memutuskan ikatan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masih diam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Atau…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Waktu kulirik dia masih menutup mulutnya dengan saputangan. Mungkin karena parah sakit batuknya, ada dahak bernoda darah di dalam lipatan saputangannya. Dan dia tak mau orang lain tahu. Termasuk mantan kekasihnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sudah berobat?” Aku kembali memberanikan diri bertanya kepadanya. Dia hanya mengangguk. Punggungnya ikut bergerak. Tak lama kemudian dia melipat saputangannya dan memasukkan kembali ke saku jaketnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Mana?” Tangannya diulur meminta kembali foto yang tadi diberikan kepadaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kau masih mau mengenangnya?” Kuulurkan juga foto tadi. Sebenarnya aku ragu untuk bersinggungan dengan tangannya mengingat soal batuk tadi. Akibatnya tanganku sedikit gemetar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku ingin menjawab satu persatu pertanyaanmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya menghela nafas panjang. Sepertinya malam akan semakin panjang bagi kami di teras kafe ini. Apalagi hujan belum kunjung reda.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Tetapi kau tetap di dalam hatiku, selamanya³&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dia tak pernah ada untukku,” ujarnya kembali memulai pembicaraan yang terhenti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apakah itu bukan alasanmu saja?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kami dulu satu jurusan di sebuah fakultas dan saling mencintai. Aku menulis sedangkan dia aktif di pementasan drama. Kami banyak diskusi tentang apa saja setiap bertemu. Dia seorang wanita yang cerdas, semakin hari semakin kagum aku padanya. Hingga akhirnya setelah lulus kuliah aku masih menulis sedangkan dia selain menjadi juru bicara sebuah organisasi juga menjabat PR sebuah perusahaan.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Jadi dia meninggalkanmu?”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kali ini dia yang menghela nafas panjang. Merogoh kembali saku tempat dia menyimpan foto tadi, mengeluarkan kembali foto itu dan tanpa dilihatnya diremasnya menjadi sebuah bola kertas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidak, aku yang meninggalkannya,” dia berkata sedikit teriak sambil melemparkan jauh-jauh bola kertas dari tangannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku tidak mengerti,” aku berkata datar sebagaimana aku juga tidak mengerti kenapa harus ada pembicaraan seperti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku merasa dia sudah menjauh dariku. Di pikirannya tak ada lagi aku. Tak ada lagi waktu untuk bisa berdiskusi panjang dengannya lagi. Dan dia pun sama sepertimu tadi waktu kamu bertanya – Sudah berobat? – dia sudah bukan lagi dia yang kukenal dulu. Lalu terpikir begitu saja, aku harus memutuskan menjauh darinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Apakah kau yakin dia sudah melupakanmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Entahlah, tapi aku yang merasa sudah hampir bisa melupakannya.”&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hujan sudah reda. Dia merapatkan jaketnya dan sepertinya bersiap melangkah. Aku pun melakukan hal yang sama, merapatkan peluk jaket di badanku. Yang aku heran, dia sepertinya tak lagi memperdulikan keberadaanku, langsung melangkah menerjang sisa gerimis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Hei! Siapa namamu?” Aku berteriak antara sebal melihat tingkahnya itu dan penasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia berbalik dan menatapku. Kurasakan pandangan matanya kembali membuat irama hentakan di dalam dadaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Besok sore, menjelang matahari tenggelam, aku akan datang ke kafe-mu,” di bibirnya terulas satu senyuman manis. Entah apa maksud senyum itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Itulah sebabnya sekarang aku memandangi jalanan dari jendela kafe. Mengharapkan seseorang, dengan seulas senyum yang penuh arti dan sorot mata yang menghentak di dadaku, datang kembali.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;&lt;br&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, Juli 2007.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;¹-²-³ = Terjemahan bebas dari petikan lirik “Don’t Know Why – Norah Jones&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-5711116698553197491?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/5711116698553197491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=5711116698553197491' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5711116698553197491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/5711116698553197491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/07/ada-bibir-norah-jones-di-cangkir-kopiku.html' title='Ada Bibir Norah Jones di Cangkir Kopiku'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-3691272759331758162</id><published>2007-07-06T05:55:00.000-07:00</published><updated>2007-07-06T05:57:47.738-07:00</updated><title type='text'>SEEKOR ANJING BERNAMA TOM</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“Kamu suka dia?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku tak segera menjawab pertanyaan dari teman lama ibuku. Kulihat lagi binatang kecil yang sekarang dalam pelukan kedua lenganku. Air mukanya tampak gembira. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dua buah bulatan coklat muda di atas sepasang matanya. Sangat kontras dengan warna bulu di sekujur tubuhnya yang didominasi oleh warna hitam. Seperti ada sepasang mata yang lain di atas sepasang mata yang sebenarnya. Orang menyebutnya sebagai ‘mata setan’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Konon, seekor anjing yang memiliki tanda ‘mata setan’ ini mempunyai naluri yang lebih ganas dibanding anjing lainnya. Tapi aku tak percaya hal seperti itu. Aku menyukainya karena dia bersikap lebih terbuka terhadap aku dibandingkan kedua “saudara”-nya. Dia lebih bersahabat. Dan aku tahu, jika anjing sudah memulai sikap bersahabat dia sudah menganggap kita sebagai teman dan majikan yang baik. Ya, tentu saja aku menyukainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah pertemuan pada sebuah sore dengan teman lama ibuku, kini aku mempunyai seekor anjing yang kuberi nama Tom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;+++&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kamu suka dia?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku tidak mendengar apapun dari celah bibirnya yang terbuka. Matanya masih memandang ke arah Tom yang bermain mengejar dan menabrak segala sesuatu di halaman. Tom sedang bergairah dengan naluri liarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dia menoleh ke arahku. Lalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang mengalir lancar dari bibirnya, “Apakah kamu tidak pernah mendengar tentang toxoplasma?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hei, apa maksud dari pertanyaannya itu? Apakah ini memang berarti dia begitu sayang dan perhatian kepadaku? Atau dia memang tidak suka dengan Tom, anjingku? Dengan ragu-ragu aku membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan lain, “Ya. Aku tahu. Apakah pertanyaanmu ini berarti kau mengkhawatirkan aku?” Sementara di dadaku, aku bersiap untuk mendengar beberapa buah alasan, selain toxoplasma tadi, kenapa dia tidak menginginkan Tom di sekitarku setiap hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dia hanya tersenyum, mengulur tangannya untuk kemudian meletakkan kedua belah telapak tanganku menangkup di dalam sepasang telapak tangannya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; rasa hangat tercipta dari peristiwa itu dan menjalar hingga hatiku. Walau demikian aku masih harus waspada pada keputusannya. Konon, lelaki akan lebih banyak menampakkan sifat egoisnya pada saat menjelang hari pernikahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku dan lelaki yang tengah menggenggam tanganku sudah merencanakan sebuah pernikahan. Bahkan kami sudah membicarakan siapa yang akan pindah sebab aku sudah punya rumah mungil dengan halaman yang cukup luas, sedangkan dia sudah punya sebuah apartemen.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sasongko, meskipun dia cukup mapan, ternyata mau berpikiran lebih terbuka untuk menyewakan apartemennya dan pindah ke rumah mungilku nanti jika kami menikah. Alasannya, dia ingin suasana yang lebih seperti masa kecilnya dulu. Rumah mungil, yang merupakan dunia kecilku selama ini, akan mengabadikan kekasihku dalam setiap jengkal ruangnya nanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Aku alergi,” bisiknya di dekat lubang telingaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; line-height: 200%;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;+++&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Siapa bilang hanya laki-laki yang punya anak kecil di dalam dirinya? Menikah bagi perempuan seperti aku seperti mengekang beberapa keceriaan yang dulu sering aku bebaskan. Dulu, Tom tidak ambil peduli dengan aku yang mondar mandir hanya mengenakan sehelai daster di seluruh ruangan rumah, tapi kini Sasongko selalu mempermasalahkan penampilanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi yang lebih sedih, sebenarnya, Sasongko berhasil menjauhkan Tom dariku. Sebenarnya ada rahasia yang Sasongko tidak tahu soal Tom. Hal ini dikarenakan sebagai seorang yang merantau semenjak remaja, tercabut dari akar lingkungan keluarga dan pertemanan masa kanak-kanak, aku kehilangan banyak sekali teman yang bisa kuajak bicara soal-soal pribadi. Di kantor, aku lebih suka menumpahkan segala uneg-uneg dengan menulis pada sebuah blog di dunia maya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku malas menulis pada sebuah buku harian. Terlalu kekanakan, kupikir. Aku sangat beruntung mempunyai Tom. Sambil berbaring di depan televisi dan memainkan kakiku pada tubuh Tom yang tergeletak di lantai, aku bisa menceritakan apa saja. Termasuk soal Sasongko. Tom, tentu saja karena dia seekor anjing, tidak akan berlebihan bereaksi terhadap nada bicaraku. Kecuali aku sudah bertingkah tidak wajar, seperti menghamburkan ‘snack’ yang sedang kukudap atau melemparkan majalah yang sedang kubaca ke sudut ruang. Tom hanya menyalak beberapa kali, lalu terdiam lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Katanya menikah harus benar-benar berbagi dengan suami, segala sesuatu yang kita rasakan. Tetapi rasanya tidak bisa begitu juga. Belum sempat aku bercerita, Sasongko sudah meminta dibuatkan segelas kopi, atau ketika dia sedang berhasrat kepadaku tak ada sesuatu pun yang bisa aku ceritakan kepadanya. Bercinta memang bisa melepaskan ketegangan, tetapi kadang aku merasa itu tidak melulu sebagai cara yang kuinginkan. Sasongko lebih sering bercerita ini dan itu kepadaku tanpa memperhatikan aku sedang melakukan sesuatu. Dan dia melakukan itu seakan-akan tidak menggangguku. Jika sudah begini, yang kulakukan adalah membuka pintu belakang dan memandang ke arah kandang Tom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Jangan mendekatinya lagi Ren,” cegah Sasongko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku tahu kamu alergi. Aku cuma merasa kangen saja sama dia,” dengan enggan aku menoleh ke arahnya yang kupunggungi di meja makan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya itu, tapi…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Ya, toxoplasma juga,” buru-buru aku memotongnya. Lalu memandangi perutku yang masih tetap langsing. Padahal ini sudah bulan ke sepuluh sejak kami menikah. Sasongko pernah menyuruhku untuk memeriksakan diri. Tepatnya termasuk dirinya juga, protesku waktu itu. Aku tak mau menjadi pihak yang lemah dan tertuduh pada satu kesempatan. Aku sangat yakin bahwa Tom itu “bersih”. Memandikan, memangkas bulu-bulunya di salon hewan, serta mengajaknya ke dokter hewan adalah kesenangan yang sengaja aku siapkan untuk melepaskan kepenatan bekerja di awal bulan. Dan itu memang benar-benar menyenangkan bagiku. Aku pikir Sasongko tidak pernah merasakannya. Sasongko banyak disibukkan dengan urusan-urusan pekerjaan dan lobby bisnis untuk memperbesar perusahaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan tetap memandang ke arah kandang Tom dan tanpa menoleh lagi kepada Sasongko aku yakin mata Sasongko sudah geram terhadap pemberontakanku. Aku tersenyum sendiri. Membayangkan ada semburat merah di matanya mirip dengan mata Tom yang berkilat kemerahan. Aku menyukai Tom karena tatapan matanya yang kelihatan galak. Mungkin jika aku membalikkan badan dan melihat ke arah mata Sasongko, aku yakin pemberontakanku kepadanya akan kulantakkan sendiri. Untunglah aku tak melakukannya. Kekecewaanku pada situasi yang menjepit sifat egoisku memaksaku untuk tetap memandang ke arah kandang Tom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang aku tahu kemudian, kepala Sasongko berada dekat sekali dengan urat leherku. Antara masih ingin mempertahankan kekosongan dalam batinku dengan menanggapinya, aku membayangkan ciuman yang dilakukan Sasongko di kulit leherku adalah bujukan pangeran Drakula. Di balik kandangnya, Tom menyalak. Aku melihat kilatan tajam taringnya. Khayalanku tentang drakula semakin lengkap. Ludah Sasongko yang membekas, kubayangkan sebagai darah yang menetes perlahan dari urat nadiku. Aku bergidik jelas bukan karena terangsang. Aku yakin sekali warna hitam yang berkelebat adalah pintu belakang yang ditutup dengan sebelah tangan oleh Sasongko, tapi kemudian yang terjadi adalah hal yang berbeda, sebuah bantal jatuh menutupi sebagian wajahku. Sejak membayangkan dibunuh oleh pangeran Drakula, aku lebih khusyu untuk menutup mataku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paginya, aku lihat Sasongko sudah lebih dahulu bangun. Sedang aku baru meregangkan tangan, mencoba bangkit dari kasur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kopi, Sayang?” Dia meletakkan secangkir kopi dalam nampan di atas pangkuanku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Hei. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; apa ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanku dijawabnya dengan kecupan di kening. Manis sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada apa-apa. Aku menikmati percintaan kita semalam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Wow. Aku juga. Terlebih karena aku membayangkan rayuan pangeran Drakula. Konon, setelah dihisap darahnya, korban Drakula akan semakin tambah rasa cintanya kepada Sang Pangeran. Aku pun tersenyum memikirkan hal bodoh semacam itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sasongko sudah bersiap untuk berangkat kerja. Di depan cermin, dia mematut dasinya supaya tidak miring. Matanya masih berbinar. Aku curiga dia menyimpan sebuah rahasia. Setidaknya sebuah rasa kemenangan atas pemberontakanku yang sia-sia. Namun kecurigaanku tampaknya sangat tidak beralasan, buktinya dia membawakan sarapan ke atas pembaringan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Aku berangkat ya. Baik-baik di rumah,” tangannya juga seakan ikut berpesan dengan menjamah rambutku yang masih awut-awutan. Aku hanya mendongak ke arahnya sambil tersenyum senang sebelum meraih cangkir kopi yang sudah mulai dingin. Sedingin tubuhku yang merasakan kehampaan mulai membayang di atas kemesraan yang rasanya semakin semu. Setelah dia pergi, rumah mungilku seakan bernafas lega. Aku bisa dengan leluasa memandangi halaman depan dari jendela kamarku. Halaman depan rumah mungilku lumayan luas. Aku sengaja membeli rumah mungil dengan halaman luas karena aku bisa merasa membutuhkan ruang tertutup lebih sedikit dibandingkan keinginanku yang masih ingin bisa banyak beraktifas di luar ruangan. Aku senang bunga-bunga liar yang tumbuh di sela-sela rerumputan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; keindahan yang tiba-tiba muncul. Bunga-bunga liar itu kerap mendatangkan kupu-kupu entah darimana asalnya. Dan kupu-kupu itu selalu menarik perhatian Tom untuk mengejarnya. Aku selalu merasa terhibur dengan tingkah Tom ketika mengejar kupu-kupu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hei! Sudah dari tadi aku melamun, tapi tak terdengar dengking Tom. Biasanya sehabis dikurung dalam kandangnya, Tom mendengking keras tanda ingin diajak berlari di halaman. Walau sebenarnya keinginannya seperti kita juga, melepas hajat di pagi hari. Tom dan aku sama-sama pecinta kelegaan halaman. Kuputuskan untuk kembali melanggar perintah Sasongko untuk mendekati Tom. Kali ini aku ingin mengajaknya jalan-jalan sendiri. Bukan oleh pembantu kami. Aku kangen dengan kenakalan Tom.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sesampai di halaman belakang kulihat Marno, pembantu kami, terpekur di depan kandang Tom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kenapa, No?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Marno tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ceceran bungkus coklat mahal di sekitar kandang. Kulihat Tom tergeletak. Aku segera merebut kunci ditangan Marno untuk membuka pintu kandang. Tapi Marno tidak mau melepaskannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Tuan bilang Nyonya tak boleh memegangnya,” Marno mencoba menghalangiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Biarkan aku tahu apa yang terjadi dengan Tom!” Aku menjerit. Marno semakin erat memeluk dan memegangi tanganku. Yang kulihat dalam mata yang berkabut, Tom terbujur di lantai kandang. Mulutnya terbuka dan lidahnya berbusa lebat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 6 Juli 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-3691272759331758162?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/3691272759331758162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=3691272759331758162' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/3691272759331758162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/3691272759331758162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2007/07/seekor-anjing-bernama-tom.html' title='SEEKOR ANJING BERNAMA TOM'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-116710611178150858</id><published>2006-12-25T20:08:00.000-08:00</published><updated>2006-12-25T20:08:32.313-08:00</updated><title type='text'>cemara di bulan desember</title><content type='html'>1/&lt;br /&gt;tak pernah kurisau tentang chairil&lt;br /&gt;di antara derai cemara&lt;br /&gt;yang berbisik tentang hari harimu, desember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tak akan ada salju yang luruh di dahanmu&lt;br /&gt;hujan terlalu jenuh menghitung kapal yang berlabuh&lt;br /&gt;sementara pokokmu serupa doa yang tak ujung jatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah pantai yang begitu beku&lt;br /&gt;penyair telah menutup buku&lt;br /&gt;hingga di sepanjang desember&lt;br /&gt;kunantikan kelahiran kata baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2/&lt;br /&gt;hujan ini mencipta sapardi&lt;br /&gt;sepanjang desember, di trotoar jalan yang kulewati&lt;br /&gt;ada jejak nafas yang memburu hari&lt;br /&gt;serupa duka yang tak kunjung mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berderet cemara, berjajar kenangan&lt;br /&gt;duka ini seperti mata, sedang puisiku hanyalah kata&lt;br /&gt;di bibir sesuatu, keduanya mati&lt;br /&gt;kudengar nafasnya menghilang ditelan hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cemara membisikkan sebuah nama, entah siapa&lt;a href="http://www.toko-sepatu.blogspot.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-116710611178150858?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/116710611178150858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=116710611178150858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116710611178150858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116710611178150858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/12/cemara-di-bulan-desember.html' title='cemara di bulan desember'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-116348119394676628</id><published>2006-11-13T21:11:00.000-08:00</published><updated>2006-11-13T21:13:14.383-08:00</updated><title type='text'>Pulangkan Saja</title><content type='html'>&lt;em&gt;Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku...&lt;/em&gt;" &lt;p align="justify"&gt;Dulu dia sering sekali mendengar nyanyian itu, dan dia sering menertawakannya.  Betapa tidak, hidupnya saat ini jauh sekali dari gambaran kata sengsara.  Meskipun sebelumnya dia bukan orang yang bisa dibilang miskin, tetapi juga tidak bisa dibilang kaya raya.  Dia tidak bisa juga dibilang mempunyai gaya hidup yang sederhana.  Seorang aktris film berbakat yang pernah membintangi beberapa film box office di tanah air ini sudah mulai merambah ke bisnis lain seperti usaha waralaba dan cafe.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sering ikut seminar usaha dan bisnis menjadikannya cukup akrab dengan beberapa pengusaha.  Beberapa pengusaha muda juga sering mengajaknya makan malam bersama.  Belum lagi undangan pertemuan - pertemuan bisnis di lobby hotel ternama, sering menyita waktunya.  Dia masih tertawa ketika mendengarkan lagu itu disenandungkan oleh pembantu rumah tangganya.  Sungguh cerita cinta yang berakhir konyol, gumamnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dia mungkin belum mengerti.  Cinta bisa saja merubah dirinya menjadi seekor naga yang tiba-tiba menyemburkan api amarah yang dahsyat hingga sampai meruntuhkan tembok benteng perkawinan.  Menjadi Hydra di lautan Aegean yang menghempas bahtera kehidupan pernikahan sepasang manusia, sangat mudah dilakukan oleh cinta yang terluka.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Atau sebenarnya dia mungkin tidak ambil peduli, karena sebenarnya dia sedang jatuh cinta?  Pertemuannya dengan Robert membuat dia tidak bisa lagi berpikir tentang dia seorang.  Sekarang dia lebih sering menelpon dan membuat pesan pendek untuk menanyakan kabarnya yang padahal baru sejam yang lalu ditemuinya.  Robert, pria tampan dan kaya raya telah menaklukkan hatinya.  Tadinya dia berpikiran bahwa Robert hanyalah seorang pengusaha yang iseng-iseng ingin menyalurkan hasrat hewaniahnya saja padanya.  Karena Robert adalah pengusaha terpandang dan sudah mempunyai keluarga yang tidak pernah diterpa oleh gosip - gosip miring.  Beberapa wartawan teman - temannya tidak pernah meributkan kehidupan rumah tangga mereka.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Shayne tertawa riang.  Semenjak berkenalan, tidak seperti teman - teman lelakinya yang lain, tidak pernah terucapkan sepatah kata pun dari Robert untuk mengajaknya berhubungan intim.  Shayne menganggap bahwa Robert benar - benar menganggap hubungan mereka benar - benar serius.  Bukan sekedar nafsu belaka.  Senyumnya makin melebar, ketika diingatnya Robert beberapa kali mengantar Shayne pulang ke kota B, ke rumah orang tuanya.  Di dalam kesempatan itu, Robert kepada ibunya Shayne meminta ijin untuk menjadikan Shayne sebagai istrinya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pada suatu kesempatan, Shayne bertemu temannya seorang penulis naskah. Dia menceritakan kehidupannya yang penuh dengan bunga-bunga warna jingga yang bermekaran di taman.  Entah kenapa Anton, sang penulis naskah malah berkata kepadanya, "&lt;em&gt;Aku malah sering bertanya pada diriku sendiri, kenapa saya akhir-akhir ini sering menuliskan tentang cinta yang terlarang, ya?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Kamu menyindirku, Ton?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Aku tidak pernah menyindir siapapun, tulisan - tulisanku aku buat sebelum kamu menceritakan tentang Robert bukan?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Tapi aku merasa kamu menyinggungku pada dasar hatiku, Ton...&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Ah, sudahlah.  Tidak perlu kau anggap seperti itu.  Aku menuliskan fenomena yang banyak terjadi di sekitar kita saja.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Robert begitu menyenangkan, Ton.  Perhatiannya padaku membuat aku percaya bahwa dialah laki-laki yang namanya disebutkan dalam mimpi - mimpiku.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Percayalah padanya begitu, tapi aku harap kamu mau mempertimbangkan mereka yang terluka.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Ton, justru aku di pihak yang akan banyak mengalah, bukan mereka.  Saat ini aku banyak membaca tentang praktek poligami.  Aku ingin siap untuk menjadi salah satu dari mereka.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Apakah artinya kamu sudah siap untuk menderita?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Ah, Ton...Aku ke sini untuk membagi cerita bahagia, bukan untuk berargumentasi.  Kalau kamu mendebatku, aku merasa bahwa kamu sama saja dengan mereka!&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Mereka yang mana Ane?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Mereka yang memandang dengan picik terhadap praktek poligami, siapa lagi?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Sudah banyak buku yang kamu baca?&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Ah sudahlah ...tampaknya aku salah waktu bicara sama kamu!  Lebih baik aku pergi saja!  Goodbye Anton.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Anton hanya tertawa kecil menyaksikan Shayne berlalu dari ruangannya.  Tidak dicegah, dibiarkan saja.  Sebab semuanya akan mempunyai arti yang berbeda seiring waktunya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dan kemudian beberapa waktu tanpa kabar dari Shayne sejak kepergiannya, Anton menerima undangan.  Tidak seperti undangan pada umumnya, tercantum di situ "&lt;em&gt;Privately Invited&lt;/em&gt;".  Sebuah hotel ternama tertulis di situ, lalu ada nomer kamarnya.  Di depannya ada inisial SR ; Shayne dan Robert.  Anton hanya menghela nafas.  Dia cuma tersenyum sambil melemparkan undangan itu pada tumpukan naskahnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Shayne bahagia sekali, meskipun dalam hatinya sedikit agak sedih juga.  Di hari paling dimana seorang dara seharusnya bisa berteriak lantang kepada semua orang yang dikenalnya, dia hanya bisa tersenyum simpul.  Di dalam kepalanya penuh curiga, apakah orang-orang yang datang saat ini mengerti akan keputusannya?  Menjadi istri yang kedua.  Setelah ditatapnya mata-mata tulus yang berbinar seakan-akan menyatakan "aku turut berbahagia" dari mereka, barulah pikirannya agak tenang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Selamat ya Ane, aku turut mendoakan kebahagiaanmu selalu!&lt;/em&gt;", kata Anton sambil mencium pipi Shayne.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Thanks ya kamu mau datang.&lt;/em&gt;", jawab Shayne singkat.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lalu semuanya kemudian seakan-akan menghilang.  Beberapa bulan setelah pernikahannya, Shayne hanya merasakan di dunia ini hanya ada dia dan Robert.  Robert selalu ada di setiap dia membutuhkannya.  Shayne tidak pernah menanyakan masalah istri dan anak Robert, karena dia yakin Robert sudah menceritakan semuanya kepada mereka.  Shayne pernah tegang ketika mendapat pesan pendek dari nomer yang tidak dikenalnya.  Tangannya gemetar ketika membaca pesan itu.  Isinya singkat "&lt;em&gt;Jaga baik-baik Robert.  Aundra&lt;/em&gt;".  Aundra adalah nama istri pertama Robert.  Setelah satu pesan singkat itu, tidak pernah lagi Shayne menerima pesan - pesan lain darinya.  Shayne menganggap bahwa Aundra sudah mau menerima dia.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Malam itu, Robert berbicara mengenai masa depan bayi yang sedang tidur dalam perut Shayne.  Kata dokter jenis kelamin bayi itu laki-laki.  Robert berkata bahwa dia sedang merintis sebuah perusahaan yang nantinya akan dia serahkan kepada anak itu kelak.  Shayne cuma tersenyum, sambil mengelus pipi Robert manja.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Biarlah nanti anak kita yang menentukan masa depannya sendiri, sayang...&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Setidaknya biarkanlah aku bertanggung jawab sepenuhnya untuk hari esoknya, sebagai bapak.&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Terserah kamu saja lah, Mas.&lt;/em&gt;"  Shayne menggelendot manja pada Robert, dan memelukkan lengan Robert pada perutnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Malam itu, langit-langit kamar tidur mereka seakan tembus pandang.  Shayne tersenyum kepada bulan yang sedang purnama.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dalam tidurnya, Shayne mendengar suara - suara gaduh.  Sepertinya Robert sedang berbicara dengan seseorang.  Tiba-tiba suara itu semakin mengeras.  Bukan cuma suara manusia, tapi terdengar pula suara benda - benda berjatuhan.  Shayne meringkuk dalam selimutnya.  Ditutupnya kupingnya rapat - rapat ketika didengar namanya disebut-sebut.  Suara pintu kamar digedor - gedor dari luar.  Shayne semakin takut, dipeganginya perutnya yang gendut.  Kemudian dia mulai bersenandung untuk mengusir rasa takutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"&lt;em&gt;Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku...&lt;/em&gt;"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jakarta/23/05/06&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-116348119394676628?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/116348119394676628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=116348119394676628' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116348119394676628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116348119394676628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/11/pulangkan-saja.html' title='Pulangkan Saja'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-116256748275054022</id><published>2006-11-03T07:24:00.000-08:00</published><updated>2006-11-03T07:24:42.936-08:00</updated><title type='text'>K.D.R.T. ("Kerasan" di Ruang Tunggu)</title><content type='html'>"Kosong?"&lt;br /&gt;Kata itu kuucapkan ketika aku bersama ibu dan bapak memasuki sebuah ruang tunggu praktek seorang psikiater terkemuka di ibukota.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ruangan itu "cozy" dengan sofa warna hijau-biru bergaya modern minimalis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tata ruang ala warga menengah yang tengah menyerap imajinasi saat mereka membangun tempat tinggal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ruang itu memang kosong seperti isi kepalaku yang tidak mengerti mengapa aku, ibu, dan bapak pergi ke tempat seperti ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah lantaran hidup kami dikelilingi oleh peristiwa-peristiwa yang membuat pikiran kami terganggu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Atau sekedar menyiasati supaya kami semua bisa santai menghadapi hal itu semua?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hanya lah seorang anak lelaki yang merasa bising jika ibu dan bapak ada bersama-sama dalam satu ruang yang kami sebut rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;"Songko"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bapak menyebut namaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia dan ibu kemudian berbincang dengan seorang perempuan muda berseragam putih-putih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mata bapak menatapku seakan aku adalah orang yang asing.   &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Bahkan teramat asing. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memang bapak jarang sekali berada di antara aku dan ibu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia seorang pekerja keras.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pikir dia lebih suka dan mencintai pekerjaannya daripada keluarganya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di rumah pun yang dibicarakan selalu saja pekerjaannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak pernah ditanyakan soal pelajaranku, tak juga ditanyakan olehnya perasaan rindu ibu kepadanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagai anak lelaki aku tak mau mencontoh bapak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tidak mau hidup ditekan oleh pekerjaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin itu lah alasan bapak membenci aku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak selalu mengingatkan kewajibanku jika aku besar nanti sebagai seorang lelaki.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi bapak lupa, lelaki juga harus belajar mencintai wanita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibu sering bercerita bahwa dia sering lupa bagaimana rasanya bapak mencintainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibu memang tidak secantik perempuan muda yang berseragam putih-putih itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tubuhnya tidak langsing, dan kulitnya tidak lah putih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun banyak tetangga yang sering memuji bahwa ibu adalah tipe wanita yang pandai dalam hal memadu-padankan busana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya tanpa perlu gaun mahal pun ibu sudah kelihatan menarik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;"Songko, sini..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ibu yang memanggil namaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kata kerabatku, wajahku lebih banyak mirip dengan wajah ibu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tapi aku tak mau, sebab wajah ibu sering berubah warna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kadang matanya hitam, kadang pipinya biru.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak jarang pula bibirnya bengkak-bengkak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibu bilang bapak melakukan itu karena rasa sayang yang teramat dalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin oleh sebab itu pula aku pun sering merasakan pukulan bapak di sekujur tubuhku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak terhitung beberapa kali warna kulit pahaku sama dengan warna pipi ibu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Telingaku hampir setiap minggu berwarna merah darah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak suka sekali dengan warna merah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku rasa tak cukup warna merah yang terbias di mukanya karena minuman yang disesapnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Padahal dia masih punya warna merah dari bara api yang menyala di ujung rokok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pikir ibu seharusnya senang punya seorang suami yang berjiwa pelukis itu hingga tak perlu beli lukisan dengan coretan-coretan cat minyak tebal yang tak berbentuk seperti yang ada di dalam ruangan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Mereka masih berbincang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada beberapa formulir yang tampaknya harus mereka isi dengan hati-hati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak suka melihatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kertas dengan beberapa kata yang disambung dengan tanda titik dua dan selebihnya kosong.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku lebih tertarik dengan majalah yang tersusun rapi di bawah meja dengan daun meja terbuat dari kaca.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Majalah itu lebih meriah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; gambar wanita cantik dengan pose menantang dan baju yang indah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seperti yang sering diceritakan ibu ketika mengajak aku jalan-jalan ke tempat perniagaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal ibu tidak pernah sekalipun membeli dan menggunakan gaun-gaun indah yang sangat diinginkannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katanya tidak bagus untuk tubuhnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal ibu memiliki postur yang bagus, tapi dia lebih sering menutupi rambut indahnya dengan pasmina atau kerudung hingga hampir saja tetangga tak mengenalinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang aku tahu, ibu berusaha sembunyikan luka atau bekas memar di wajahnya, di punggung, atau di tangannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wajah di sampul majalah itu wajah seorang gadis yang tersenyum lembut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jauh dengan senyum ibu yang seakan dipaksakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apalagi dengan senyum bapak yang sok berwibawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ah, aku jadi ingin punya senyum khas ku sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak seperti bapak ataupun seperti ibu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Saat ini mereka sedang mengobral senyum kepada perempuan muda itu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aku tahu pasti, itu senyum paling pura-pura.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Menutupi semua kejadian yang sudah mengendap bertahun-tahun lamanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Aku tak mau punya senyum pura-pura seperti itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ih, kenapa aku tersenyum sendiri?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulihat bayangan senyum itu muncul di daun meja dari kaca di depanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pun merasa malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Entah mungkin karena aku tersenyum, perempuan muda berseragam putih-putih itu pun tersenyum ke arahku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak lama setelah itu, dia mengangguk pada bapak dan ibu yang juga rupanya tengah memperhatikan aku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti model yang sedang menjalani sesi pemotretan untuk sampul sebuah majalah, aku mulai bergaya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tatapan memperhatikan dengan tulus adalah suatu barang langka yang sudah lama aku dambakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin karena kali ini aku merasa diperhatikan maka aku bertingkah lucu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku seharusnya menjadi pusat perhatian di dalam rumahku sendiri apalagi sebagai anak lelaki pertama dan masih belum punya adik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Benarkah aku rindu untuk menjadi pusat perhatian?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di kelas, teman-temanku sering mencemooh aku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejak aku sering tidak masuk sekolah karena sakit yang tak tertahankan akibat disayang bapak, aku dijuluki anak sakit-sakitan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banyak pelajaran yang tak bisa kukerjakan, aku terlalu susah untuk berpikir selain membayangkan kehidupan yang lebih menyenangkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku adalah tontonan sekaligus bahan ejekan karena di tubuhku selalu ada luka dan aku dianggap murid yang bodoh.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi apakah benar aku yang bodoh?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab yang kuinginkan adalah hal yang sangat sederhana untuk anak seusiaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak yang punya rasa sayang dan ibu yang selalu menjaga dan merawatku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sederhana bukan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ah, mungkin itu lah sebabnya bapak dan ibu pergi ke tempat praktek psikiater sekarang ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk memperbaiki diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika tebakanku benar mulai besok aku benar-benar akan hidup dengan normal.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Bapak dan ibu pergi ke sebuah ruangan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin itu tempat konsultasinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Syukurlah jika akhirnya Tuhan membukakan pikiran dan kesadaran bapak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku mulai membayangkan kehidupan yang indah setelah bapak berubah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanpa sadar kuulas sebuah senyum yang paling manis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Senyum yang tak akan pernah terjadi jika aku sadar bahwa yang kupikirkan itu masih belum menjadi kenyataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;"Betul tidak kata saya, pak dokter? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Anak itu memang harus disembuhkan!". Suara bapak mengagetkan lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;"Iya, dia suka senyum-senyum sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya jadi ngeri", ibu menambahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, saya mengerti keluhan ibu dan bapak. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Tapi ada baiknya akan saya lakukan beberapa tes kepadanya", pria tua itu berkata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lembut, tapi seperti terpaksa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku menatap ketiga orang yang tengah mengerubutiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang anak lelaki berhadapan dengan tiga orang dewasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semuanya mempunyai pikirannya sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Siapa yang harus mengerti?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa yang harus kupahami?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Bapak, ibu, dan dokter itu berusaha menarik tanganku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku meronta. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tak mau aku dipaksa masuk pada suatu ruang yang tak ingin kumasuki.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sudah merasa cukup betah di ruang tunggu itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan sangat betah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Jakarta, November 2006.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-116256748275054022?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/116256748275054022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=116256748275054022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116256748275054022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116256748275054022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/11/kdrt-kerasan-di-ruang-tunggu.html' title='K.D.R.T. (&quot;Kerasan&quot; di Ruang Tunggu)'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-116254118980854155</id><published>2006-11-02T23:57:00.000-08:00</published><updated>2006-11-03T00:06:30.096-08:00</updated><title type='text'>Mata Merah, Mati Marah</title><content type='html'>"Dia belum tidur-tidur juga?", Ibu bertanya padaku perihal bapak yang masih terjaga.&lt;br /&gt;"Sepertinya dia memang tidak pernah tidur".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah lama aku selalu mendengar suaranya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Siang sampai siang lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak pernah berhenti.&lt;br /&gt;"Kenapa ya dia berlaku seperti itu?"&lt;br /&gt;"Ibu tidak tahu? Seluruh peristiwa yang terjadi, sepertinya menjadi urusannya"&lt;br /&gt;"Yang pasti, dia telah lupa sesuatu!"&lt;br /&gt;"Apa itu?"&lt;br /&gt;"Tidur!"&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Aku dan Ibu berdebat soal bapak yang mondar-mandir di depan televisi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kegelisahan&lt;br /&gt;senantiasa terpancar dari gerakan yang dibuatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entah itu dari caranya melipat sarung, atau gerakan jemarinya yang mengepal dan membuka seperti memompa sesuatu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku cemas dengan hal itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab waktu aku hendak donor darah, suster di rumah sakit memintaku untuk mengepal dan membuka telapak tangan, katanya biar darahnya mengalir lancar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku cemas darah bapak akan terus menerus mengaliri sekujur tubuhnya bahkan meledakkan jantungnya sendiri.&lt;/p&gt;                        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;"&lt;/span&gt;Mata bapak merah lho".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku beranikan diri untuk menegurnya.&lt;br /&gt;"Namanya juga kurang tidur, Yon.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku juga merasakan mataku perih".&lt;br /&gt;"Kenapa bapak tidak tidur saja?"&lt;br /&gt;"Tidur?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tidak akan tidur lagi, Yon".&lt;br /&gt;"Tiap orang perlu istirahat pak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jangan paksakan diri!", protesku.&lt;br /&gt;"Aku sudah banyak menghabiskan masa istirahatku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekarang saatnya berjaga-jaga!"&lt;br /&gt;"Memang mau ada apa pak?", aku semakin tak mengerti.&lt;br /&gt;"Kamu tidak akan tahu kalau tidak mengalami sendiri".&lt;br /&gt;"Apa itu? Mimpi?"&lt;br /&gt;"Bukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi suara peringatan".&lt;br /&gt;"Bapak tidak tahu siapa yang memperingatkan bapak?"&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Bapak hanya menggeleng perlahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Matanya tampak membara ada rasa sakit dan marah terpancar .&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku lihat urat-uratnya begitu nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak seperti mayat berjalan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Ibu membuat susu hangat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katanya itu obat mujarab untuk orang insomnia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segelas besar, biar bapak cepat "tepar".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan senyum manis, seperti biasanya, ibu mendekati bapak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dipeluk dan dicium tangannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebenarnya ibu dari beberapa hari lalu sudah mencoba meluluhkan penjagaan bapak yang terlalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia tidak ingin suaminya menjadi orang yang aneh bagi kehidupan rumah tangga ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi sampai sekarang dia belum pernah bisa menjadikan bapak sebagai seorang yang wajar menurut pemikirannya.&lt;/p&gt;                        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;"Minum dulu pak susunya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mumpung masih hangat".&lt;br /&gt;"Aku tidak sedang haus bu, nanti saja".&lt;br /&gt;"Apa perlu aku buatkan kopi?"&lt;br /&gt;"Tidak usah bu, aku cuma tidak bisa tidur saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak ada masalah besar".&lt;br /&gt;"Itu masalah besar, pak", ibu mulai berterus terang memprotes bapak.&lt;br /&gt;"Bapak tidak ingin aku jadi janda &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;?"&lt;br /&gt;"Ibu ini apa-apaan sih?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Justru aku ini berjaga dari segala kemungkinan yang ada!", bapak mulai meninggi.&lt;br /&gt;"Memangnya bapak dengar apa sih?"&lt;br /&gt;"Suara peringatan untuk senantiasa berjaga-jaga".&lt;br /&gt;"Bapak tidak tanyakan kembali siapa yang meminta?"&lt;br /&gt;"Aku yakin itu suara suci".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Datar bapak bicara.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kali ini kami semua diam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak ada lagi yang mau untuk bicara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dunia pun seperti menghentikan laju detik-detik jam tua di sudut ruangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hilang akal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibu pun demikian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak tak dapat ditahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemauannya sudah sedemikian keras.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami hanya bingung bagaimana fisik bapak yang sudah tua itu mampu di “forsir” demikian.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;+++&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mata ibu merah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah seharian dia menangis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kelopak matanya sembab hingga kurasakan hawa di dekatnya pun jadi lembab.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekarang aku yang kena giliran jaga, sebab fisik ibu tampak lemah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kematian Bapak, meskipun kami selalu mewaspadainya lantaran dia tidak mau tidur, terjadi dengan cara yang tidak pernah kami perkirakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saat itu kami sedang makan malam, dia tiba-tiba berdiri.&lt;br /&gt;"Mau kemana pak?"&lt;br /&gt;"&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; suara ketukan, kalian tidak dengar?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepertinya ada tamu".&lt;br /&gt;Aku dan ibu berpandangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami tidak mendengar apa-apa.&lt;br /&gt;Belum tegak dia berdiri, matanya terbelalak lebar dan tubuhnya kejang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami segera menghambur ke arahnya.&lt;br /&gt;"Kenapa pak?", tanya kami bersamaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berulang-ulang.&lt;br /&gt;"Kenapa kalian menipu aku?!", teriaknya.&lt;br /&gt;Aku dan ibu kembali berpandangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Siapa yang dibilang telah menipu bapak? Kami? Menipu apa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sebelum semua itu terjawab, tubuh bapak limbunng.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tangan kami cepat menangkap tubuhnya sebelum dia terjatuh.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Saat itu, Bapak kelihatan dalam keadaan marah sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi kami tak pernah bisa mengerti sampai hari ini apa yang telah membuatnya begitu marah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak berapa lama, dia sudah tak bernyawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibu pun meraung sejadinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku mengguguk menahan sengguk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam hati berkecamuk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertanyaan kami tak pernah lagi bisa dijawab.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pun menaruh dendam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entah pada siapa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang jelas bukan pada Tuhan yang di tanganNya sudah digenggam nyawa bapak untuk dibawa pulang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ah, aku tak mau berpikiran sejauh itu, malam ini biar aku tenangkan ibu sebelum melapor ke ketua RT dan mengabari tetangga.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Mata ibu masih merah, bahkan setelah wajahnya memucat putih, mata itu semakin kelihatan merah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti api yang sedang membakar langit malam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menyala-nyala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sampai harus menundukkan pandangan jika dekat dengannya.&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;"Bu, sudah malam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidurlah…", pintaku.&lt;br /&gt;Ibu hanya menggeleng pelan.&lt;br /&gt;"Kasihan bapak, dia tidur sendiri di kuburnya yang sunyi"&lt;br /&gt;Aku bergidik mendengarnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kumohon pada Tuhan agar ibu bisa bertahan.&lt;br /&gt;"Bapak sudah pulang ke rumah yang tenang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibu harus ikhlaskan dia", kucoba untuk menenangkan pikirannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meskipun aku tahu ibu takkan pernah bisa tenang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hal yang ingin dia sampaikan kepada bapak dengan caranya sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagai anak, aku tak harus mengetahuinya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Akhirnya sebelum malam tergelincir di kaki fajar, dia sudah tertidur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meskipun tak begitu pulas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Matanya masih bergerak-gerak meski sudah tertangkup pelupuk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pergi ke kamarku sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekedar merebahkan penat yang sudah sangat berat menggelayut di punggungku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejak tadi malam aku bekerja keras mengurus pemakaman bapak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Kamar ini masih kukenal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan sepertinya tidak pernah lepas dari pandanganku sejak dulu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Warna dindingnya yang hijau muda (bapak dulu yang memilihkan catnya; katanya warna hijau muda itu warna seorang remaja yang tumbuh dengan berbagai harapan) sekarang sudah tampak kusam dan berlumut di sana-sini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bau pengap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepertinya jendela dengan kisi-kisi dari kayu itu sudah lama tak pernah dibuka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bau apek dari celana, jaket jins, dan kaus oblong warna hitam yang menggantung menyeruak semenjak pintu kamar ini terkuak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang sudah lama pergi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak ingin diam lama di kamar itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya hawa di dalam kamar itu begitu dingin untuk tubuhku yang kurasakan kian rapuh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pikiranku kembali melayang pada beberapa masa silam.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Pada sebuah rumah mungil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hasil jerih payah seorang guru – bapakku - yang hanya punya keinginan sederhana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mempunyai rumah tangga yang bahagia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menjadi imam di dalam majelis kecil bernama keluarga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan penuh rasa tanggungjawab dipeliharanya kami dari segala dampak buruk pergaulan ibu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun pada akhirnya, dia sendiri mengalah pada nasib yang tidak menentu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alih-alih mencari tambahan penghasilan keluarga, dia terlibat pemalsuan dokumen kelulusan seorang pejabat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka, sekitar empat tahun lebih dia terpaksa meninggalkan seorang istri yang cantik dan anak yang berangkat remaja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keduanya menganggap bapak sebagai seorang penipu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Selama di penjara bapak tak pernah tahu, istri cantiknya pernah dengan sangat terpaksa ikut rapat di suatu villa di daerah Puncak dengan ketua yayasan pendidikan tempatnya bekerja demi sebuah permohonan pembebasan uang pendidikan anak tunggal mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan bapak juga tak pernah tahu anak remajanya merasa rumah mungil tempat tinggalnya seperti neraka belaka.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Tapi kemudian - entah apa itu namanya - karena kesadaran atau hanya sekedar menghibur bapak sebagai orang yang kalah perang, aku dan ibu menutup rapat semua peristiwa yang telah berlalu di belakangnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hingga beberapa hari sebelum kematiannya bapak merasa mendengar suara-suara yang mengingatkan dirinya untuk senantiasa berjaga-jaga.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;+++&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Sebelum pintu kamar kututup, ada yang berbisik lirih dari dalam kamar itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku terbelalak menatap pada kaca jendela.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; bayangan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bayangan dari masa kelam yang ibu dan aku sembunyikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin dia lah yang membisikkan rahasia kami kepada bapak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Oktober - November 2006.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-116254118980854155?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/116254118980854155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=116254118980854155' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116254118980854155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/116254118980854155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/11/mata-merah-mati-marah.html' title='Mata Merah, Mati Marah'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115944622022369052</id><published>2006-09-28T05:18:00.000-07:00</published><updated>2006-09-28T05:23:40.820-07:00</updated><title type='text'>Silaturahmi Saudara Tua</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Konon, di dalam segala kitab perwahyuan, diceritakan bahwa manusia diciptakan dari segumpal tanah liat. Lalu Tuhan membuatnya lebih istimewa dibandingkan ciptaanNya yang lain. Lebih lanjut lagi semua alam raya diperintahkan oleh Tuhan untuk menghormat kepada manusia. Waktu itu hanya Iblis yang berani berkata tidak, sebab dia merasa lebih tua dan lebih mulia. Dia tanpa sengaja telah mengutip sebagian isi kitab Sifat-sifat Tuhan. Pasal Kesombongan. Digunakanlah ayat-ayat dari pasal itu sebagai bahan argumentasi dengan Tuhan. Iblis pun terusir dari taman surga.&lt;br /&gt;Tak perlu dijelaskan lagi, jika Iblis begitu dendamnya. Hingga dia akhirnya bisa memaksa Tuhan untuk mengusir pula manusia dari taman surga. Dan berkeriapan lah manusia dan keturunannya di atas tanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan janji-janji yang dipatrikan Tuhan, maka manusia pun berkuasa atas segala isi bumi. Dari hewan, tumbuhan, bahkan sampai perut bumi. Entah gara-gara racun-racun yang ditebarkan iblis tingkat kontaminasi dan umur radiasinya sangat lama, yang pasti lebih hebat dari nuklir sekalipun, maka manusia kini sangat getol berkata-kata satu dengan yang lainnya dengan ayat-ayat Pasal Kesombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mencari kepuasan diri, segala cara pun ditempuhnya. Disikutnya sesama manusia, digerusnya tanah dan samudera, dimamahnya segala tetumbuhan, bahkan hewan-hewan, yang memang diperuntukkan sebagai makanan dan permainan, akhirnya nasibnya benar-benar menjadi mainan manusia semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku manusia yang kadang menjadi tuhan bagi alam semesta sekaligus menjadi iblis bagi kehidupan yang harmoni, telah membuat Tanah liat gelisah. Diam-diam dia bergerak menemui Air, Tanah dan Bebatuan. Mereka semua adalah elemen dasar dari kelangsungan kehidupan. Hal yang sepertinya tidak pernah terlintas di dalam benak anak cucu Adam untuk dihormati. Sebab, bukankah seharusnya manusia yang dihormati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlupakan. Terpinggirkan. Bahkan terbengkalai. Manusia telah banyak membuang segala kenangan atas proses penciptaannya sendiri. Tanah liat adalah saudara tua bagi dirinya. Dalam pertemuan itu, Tanah liat mengadukan tingkah laku manusia kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang harus kita lakukan untuk menyadarkan mereka semua? Tak kurang Tuhan berkali-kali mengingatkan, tetapi masih banyak dari mereka yang lalim". Demikian keluh Tanah liat kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;"Mungkin kita sendiri lah yang harus bertindak! Tuhan maha suci untuk hal-hal kotor seperti ini", teriak bumi sambil berkali-kali menggoyangkan punggungnya.&lt;br /&gt;"Aku pikir juga begitu. Lebih baik kita maju bersama-sama untuk mengingatkan mereka!", Air pun menjadi bersemangat. Kadang kala, ia menyurutkan badan sehingga manusia berteriak-teriak.&lt;br /&gt;"Tunggu. Tunggu. Kalian jangan terlalu bersemangat. Apa jadinya mereka jika kalian terlalu bersemangat. Yang ada kita akan membunuh mereka. Padahal di hadapan Tuhan kita sudah berjanji untuk menghormatinya. Kita harus pikirkan cara yang lain!", Bebatuan miris melihat kelakuan kedua temannya.&lt;br /&gt;"Betul juga kata Bebatuan. Kita tidak boleh menghukum mereka. Itu wilayah kekuasaan Tuhan", Tanah liat setuju dengan pemikiran Bebatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun terdiam. Sesungguhnya kekuatan manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Akan tetapi Tuhan telah sangat bijaksana agar mereka ikhlas merelakan kekuasaan manusia atas mereka semua. Sebab hanya manusia lah yang diberikan keleluasaan untuk mencintai dan menyayangi. Malaikat seperti petugas yang mencintai Tuhan semata. Segala tindakannya demi melayani Dia. Iblis terlalu sombong, dia pasti akan lebih mudah memporakporandakan alam semesta bukan merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ada usul. Menurutku ini adalah hal yang paling sederhana", Tanah liat memecah keheningan.&lt;br /&gt;"Apa itu? Tidak berbahayakah usulanmu untuk mereka?", sahut Tanah.&lt;br /&gt;"Ya. Ya. Silahkan bicara. Aku ingin mendengarnya", Air dan Bebatuan pun penasaran.&lt;br /&gt;"Tapi aku butuh bantuan kalian semua untuk melakukannya", Tanah liat masih belum mengemukakan usulnya.&lt;br /&gt;"Kami semua pasti membantumu. Asal apa yang akan kau lakukan tidak lah membunuh mereka", Air mewakili kedua temannya mengiyakan untuk membantu Tanah liat.&lt;br /&gt;"Begini. Kudengar di Porong ada pengeboran sumur minyak. Aku minta Bebatuan dan Tanah bergerak sedikit saja. Ciptakanlah ruang untuk aku bisa masuk di sumur itu. Dan kau Air, doronglah aku dengan tenagamu. Aku hanya ingin menyapa mereka. Sebab aku lah saudara tua mereka. Masih ingatkah mereka denganku? Itu yang akan aku katakan pada mereka semua. Hanya mengingatkan", Tanah liat menunduk seakan kesedihan yang ditanggungnya begitu berat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kami semua akan membantumu. Tetapi kira-kira apa yang nanti akan terjadi?", Bebatuan menyela.&lt;br /&gt;"Aku juga tidak tahu pasti. Yang pasti aku hanya ingin manusia itu tahu bahwa selama ini sedikit sekali dari mereka yang mengingat kita semua. Mengasihi kita. Apalagi mencintai. Setelah mereka tercipta, kita semua hanya lah alat hidup bagi mereka. Jarang sekali yang berucap syukur kepada Tuhan atas satu pokok pohon yang tumbuh, satu benih padi yang tunas, bahkan satu ekor ayam yang bertelur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu yakin ini akan berhasil?", Air bertanya.&lt;br /&gt;Tanah Liat menghela nafas panjang. Terdengar seperti gemuruh di dalam perut bumi.&lt;br /&gt;"Entah lah. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pedulikan lagi", ujarnya.&lt;br /&gt;"Koq begitu?", Tanah bertanya.&lt;br /&gt;"Aku cuma bersilaturahmi. Menyapa. Mengingatkan. Apapun hasilnya, biar lah manusia sendiri yang menjawabnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya kembali terdiam. Berkecamuk segala pikiran. Ya, kadang memang usaha yang paling maksimal hanyalah mengingatkan. Sebab untuk menegur ataupun menghukum manusia atas tindakannya kepada alam adalah wilayah Raja Manusia. Akhirnya mereka sepakat. Mengingatkan adalah jalan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian terdengar suara gemuruh. Getarannya sampai di tempat mereka berkumpul. Kali ini berasal dari mesin bor bermata intan milik sebuah perusahaan pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, di Porong - Sidoarjo, 29 Mei 2006 terjadilah keributan. Tanah Liat telah bercampur dengan Air. Mereka menahan emosi. Tubuh – tubuh mereka panas. Terjadi lah semburan lumpur yang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyembur. Menyembur. Menyapa dan mengingatkan manusia sembari mengadu pada Tuhan. Bercengkerama dengan rerumputan, pepohonan, juga dengan udara. Tanah Liat menyapa sang adik, manusia. Seperti seorang pemuda yang jatuh cinta, yang terus menerus mengirimkan surat cinta kepada gadis pujaan. Tanah Liat berkunjung pada saudara mudanya. Dengan tubuhnya sendiri yang bercampur air. Setiap hari. Sampai kini. Entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai manusia mengasihi dan mencintai elemen-elemen itu? Hanya Tuhan yang tahu kunci hati tiap-tiap jiwa yang telah bisa membaca jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun, Iblis pun menolak bicara atas peristiwa langka ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115944622022369052?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115944622022369052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115944622022369052' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115944622022369052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115944622022369052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/silaturahmi-saudara-tua_28.html' title='Silaturahmi Saudara Tua'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115814646003074620</id><published>2006-09-13T04:15:00.000-07:00</published><updated>2006-09-21T20:54:16.986-07:00</updated><title type='text'>Setetes Darah yang Tumpah Menjelang Siang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;“Tuhan, dimana Engkau semalam?” &lt;sup&gt;*)&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Ada keluh yang terdengar di sela-sela adzan subuh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keluh yang tertelan gemuruh suara para pedagang sayuran yang berebut belanja di pasar tradisional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang lelaki tampak berjalan lemah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hampir-hampir kakinya tak bisa melangkah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terseok-seok di los-los pasar yang gelap dan pengap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Tolong, tolong aku!”, jeritnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ada yang diharap muncul di balik kegelapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Aku tak ingin berbuat lagi!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cukup sekali saja”, teriaknya lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Para pedagang sayur yang sedang belanja terhenti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Teriakan lelaki itu membuat mereka terganggu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dipikirnya ada lagi perkelahian antara dua kelompok preman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka tercekam dan bersiap-siap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Orang gila!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Orang mabuk!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Demikian lah yang dipikirkan oleh mereka terhadapnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab tak satupun dari mereka mengerti apa yang sedang terjadi padanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dia seorang lelaki muda. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada gelora gelisah senantiasa di jiwanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dilalangnya penjuru kota demi menyusun kotak imajinya saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum akhirnya dicobanya untuk masuk pada sebuah lorong kelam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Sudah pernah ke sini, nak?”, tanya supir bajaj yang mengantarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Belum pernah pak”, jawabnya kikuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Hati-hati saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebaiknya pikirkan lagi”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa?”, ragu dia bertanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab pasti hasilnya adalah ceramah agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Birahimu bisa menjadi pintu sebuah misteri yang tak bisa kau mengerti”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Oh”, hanya kata tak berarti yang akhirnya digumam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Birahi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah aku sedang birahi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu misteri apa yang akan terjadi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hanya ingin tahu saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masih ragu dia melangkah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ingin ditanya tentang bagaimana caranya pada supir bajaj itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ah, pasti sia-sia!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dia berpikir sebaiknya langsung mencoba saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum malam tutup usia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Adalah gairah yang menyala-nyala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Telah mendorongnya masuk ke sebuah pintu yang di atasnya berpendar lampu dengan warna merah menyala. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tepat sudah!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jerit batinnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada nada keriangan yang meletup.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi dia masih belum tahu harus bagaimana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Sini dong mas, jangan diam di situ”, celoteh manja terdengar dari seorang wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Eh, iya”, jawabnya ragu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sangat lugu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Mau minum apa?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pesankan ya?”, pinta seorang lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juga seorang wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Inikah surga dunia?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lelaki menjadi raja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan segala hasratnya akan dipenuhi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wanita-wanita di situ siap menjadi abdinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;”Punya rokok kan, mas?”, ada yang bertanya sambil melingkarkan lengan di pinggangnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang wanita dengan raut wajah yang kelihatan pucat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sepertinya sedang tidak enak badan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cantik tetapi malam itu kelihatan sangat kuyu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada bau wangi berlebihan ketika dia mendekatkan badan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;”Eh, ada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini”, katanya sambil mengulurkan sebuah kotak rokok yang isinya tinggal setengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Sekejap saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tiga orang wanita dan seorang lelaki, sama-sama muda usia, menggelar sebuah pesta kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada botol minuman, gelas-gelas yang selalu haus, mulut-mulut yang bercerita, dan asap rokok serupa asap kemenyan di pekuburan raja-raja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;Dan dunia di matanya berubah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam itu serasa siang dengan jutaan bintang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hangat, lembab, dan bergetar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entah jantung siapa yang berdetak lebih kencang dari biasanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang jelas mereka berempat kemudian mulai menggerakkan badan mengikuti iramanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Sudah larut malam mas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tentukanlah siapa yang akan kamu dekap dalam gelap”, ada sebuah kata perintah yang terselip dalam nada manja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suci kah?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Murni kah? Atau Dewi yang telah bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Kenapa kamu memilihku?”, mulut mungil pada wajah cantik yang kuyu itu bicara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemiliknya bernama Suci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Karena kamu paling cantik di antara mereka”, jawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Dasar lelaki, memang sangat pemilih!”, ketus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Kamu tidak suka?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Aku sedang tidak enak badan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak ingin batal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini kali yang pertama untukku”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Serius?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Jangan tertawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi ini benar”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa kamu ingin melakukannya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Ada baiknya kusimpan jawabannya sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan sebaiknya kamu tunjukkan padaku bagaimana caranya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab ini sudah hampir pagi”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Aku sedang tidak bisa tertawa”, lagi-lagi ketus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan Suci pun mulai membuka tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Jangan diam saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buka juga pakaianmu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Lelaki muda itu terdiam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tubuhnya gemetar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baru pertama kali ini dia melihat seorang wanita muda menelanjangi tubuhnya sendiri di depannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Di otaknya segera diingat bab anatomi tubuh manusia dari kitab pelajaran biologi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ilustrasi yang sangat nyata daripada yang tergambar di lembaran kertas tua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian diingatnya kebaikan Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Betapa sempurnanya dia ciptakan mahluk yang bernama wanita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terutama pada buah dada dan buah panggulnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Ugh!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa aku bisa mengingat Tuhan dalam keadaan seperti ini?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkinkah Adam dan Hawa juga mengingatNya ketika tangan mereka menyentuh kulit buah terlarang itu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku lah Adam yang terangsang!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Warna buah itu begitu menaikkan seleraku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan harumnya begitu memabukkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terbayang betapa lezat dan manisnya buah yang sedang kupandang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segigit saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segigit saja lah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu akan kukenang selama-lamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Koq belum dibuka bajunya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Suci mengaburkan lamunannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”I...Iya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akan aku buka semuanya”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia pun membuka baju.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Melepas ikat pinggang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Celana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Celana dalamnya juga dong?”, Lagi-lagi Suci memberi aba-aba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Aku ... Aku ...”, dia terbata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya gemetar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Angin dini hari memang dingin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi Suci dari tadi telah membuat suhu di kamar itu semakin panas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, apa yang berdebar di dadaku, apakah juga ada di dada itu? Di dada itu?” &lt;sup&gt;**)&lt;/sup&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia kembali terbata ketika bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Ada baiknya kamu rasakan sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sentuhlah!”, Suci mendekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun merapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Saling mendekap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Erat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Jangan berterimakasih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab kamu menikmati”&lt;sup&gt; ***)&lt;/sup&gt;, kata Suci saat tuntas sebuah petualangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Ya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sangat dan harus menikmatinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab ini kali yang pertama”, jawab lelaki muda itu tersengal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya masih bergetar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan lebih kencang dari tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja terucap kata terimakasih dari bibirnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian teringat lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wanita yang terbaring di sebelahnya tidak membutuhkan kata-kata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Tadi, sebelum permainan itu terjadi, aku lah adalah raja baginya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah ini, aku hanya lah deretan angka di dalam pikirannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;”Apa yang kamu pikirkan?”, Suci memancingnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab dari tadi dia tak berkata-kata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memujinya pun tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Aku tiba-tiba teringat dosa”, jawabnya sambil duduk mencakung di tepi ranjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tubuh cantik Suci pun ikut mengejang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Jangan bicara dosa di tempat ini!”, Suci menjerit kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Protes pada ucapannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia melanjutkan lagi, ”Sebaiknya, mulai sekarang kau ceritakan pada dunia dunia para serigala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemangsa rembulan yang tak pernah sadar hidupnya telah dirampas malam”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Suci berdiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pergi ke kamar mandi tinggalkan si lelaki sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Jangan lupa uang pembayarannya!”, teriaknya dari balik pintu kamar mandi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lelaki muda masih terdiam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah pintu misteri telah dikuaknya sendiri dengan berani.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari baliknya, muncul sejumlah kata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Kamu telah menang!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Kamu sudah dewasa!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Kamu telah melewati satu fase kehidupan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Tuhan pasti malu melihatmu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang kau tahu prakteknya setelah sekian lama hanya tahu dari buku-buku tua”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kata-kata itu menyerangnya kembali sebagai kata tanya yang menusuk hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Kamu menang dari apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Apakah arti kedewasaan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Adakah hal lain yang telah aku lewatkan dalam hidupku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kamu tidak merasa takut pada Tuhan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang buat apa praktek itu kamu ketahui?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dia hanya bisa terdiam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak ada kata yang bisa dia bantahkan, tak juga dijawabkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tubuhnya berkeluh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Basah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia betul-betul resah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dirogohnya saku celana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diraihnya dompetnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Astaga!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kurang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kali ini dia benar-benar tak bisa bicara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dihitungnya kembali uang yang ada di dompetnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Benar ternyata hitungannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ongkos bajaj.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tiga bungkus rokok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Empat botol bir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Serta tips untuk Murni dan Dewi.Kali ini dia benar-benar tak bisa bicara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dihitungnya kembali uang yang ada di dompetnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Benar ternyata hitungannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ongkos bajaj.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tiga bungkus rokok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Empat botol bir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Serta tips untuk Murni dan Dewi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Tangan dan kakinya gemetar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan semakin gemetar pada saat pintu kamar mandi terbuka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada harum yang semerbak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suci kelihatan sudah tidak kuyu lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suci tersenyum dan mengecup pipinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;”Asal kamu tahu, aku juga tadi menikmatinya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tangan Suci meraih tangannya, tepat pada lembaran-lembaran uang yang sedang digenggam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Di depan rumah bordil, ada darah yang tertumpah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lelaki muda itu dikeroyok oleh empat orang preman penjaga keamanan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu dalam keadaan setengah pingsan, dia diseret hingga ke sebuah tempat sampah dekat pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Hari sudah menjelang siang saat didengarnya sebuah suara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dipikirnya suara itu berasal dari orang yang melihat dia terkapar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;”Hari ini telah kutebuskan dosamu pada orang-orang yang telah memperingatkanmu semalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi kepada Tuhan, kamu sendiri yang harus bertanggungjawab”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dia pun mendekatkan diri pada asal suara itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ternyata suara itu berasal di dekat telinganya, di atas tanah yang masih basah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setetes darah yang tumpah telah mengungkit sebuah risalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Jakarta, 13 September 2006.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Georgia; font-weight: normal;" lang="SV"&gt;(* = Sajak Hasan Aspahani “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia” – adegan IV)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;(** = Sajak Hasan Aspahani “Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia” – adegan II)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;(*** = Sajak Hasan Aspahani “Setelah Sebuah Persetubuhan” –/4/)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115814646003074620?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115814646003074620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115814646003074620' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115814646003074620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115814646003074620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/setetes-darah-yang-tumpah-menjelang.html' title='Setetes Darah yang Tumpah Menjelang Siang'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115812675660629537</id><published>2006-09-12T22:52:00.000-07:00</published><updated>2006-09-21T20:48:19.510-07:00</updated><title type='text'>Ziarah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Sejak aku meninggalkan masa kelamku, aku mulai bertandang ke sini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Piknik batin di Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga untuk melarutkan aku pada aroma keagungan Tuhan yang Maha Kuasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setidaknya aku menyambangi rumahNya, merasakan keteduhan hadiratNya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya sudah sekian lama aku tidak merasakan keteduhan dalam hatiku.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Masa lalu itu begitu kelam, penuh dengan tangisan dan dendam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mendekati gerbangnya, semua pikiranku telah kosong, aku merasa sangat beruntung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena dengan segala kekosongan itu aku bisa mendengarkan semua suara dengan jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Terdengar sayup-sayup suara paduan suara membacakan sebuah Litania.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Kyrie eleison&lt;/i&gt; – Tuhan kasihanilah kami” begitu awalan setiap Litania; mengayun perasaanku turun karena aku mengingat dosa masa kelamku. Benar ya Tuhan, kasihanilah aku!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rutukku dalam kesedihan yang mendalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku memang orang yang perlu dikasihani, demikian bathinku bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Perlahan langkahku terus bergerak, semakin dekat ke arah pintu depannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di depan patung Bunda Maria aku tersungkur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagaimana tidak?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada anakNya lah Allah bicara langsung kepada manusia; melalui dia aku mengenal Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti tulisan pada bagian atas pintu itu berbunyi “&lt;i style=""&gt;Beatam Me Dicent Omnes Generationes&lt;/i&gt;" ; aku pun berpikir bahwa aku mungkin tidak termasuk orang-orang yang berbahagia sampai saat ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itulah kenapa akhir-akhir ini aku mulai melakukan perjalanan untuk menyambangi tempat-tempat seperti gereja ini.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mungkin suatu saat aku juga datang kepada tempat-tempat suci lain di bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku terus melangkah, memandang getir pada sebuah pualam bertanda, tulisan ditengahnya membuatku merasa sangat kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Domino Optimo Maximo&lt;/i&gt; - Demi Tuhan yang Maha Baik dan Maha Besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dulu aku sering merasa Dia tidak cukup baik hingga membiarkan aku tenggelam dalam dunia yang gelap dan Dia juga tidak cukup besar hingga tidak dapat mengangkatku pada rumah penuh tawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap hari yang aku hadapi adalah kebengisan atau kematian, yang aku dengar setiap hari hanyalah caci dan makian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebenarnya aku rindu pada suara paduan suara dan terlebih suara FirmanNya; tetapi baru sekarang ini aku bisa jalan-jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Ya, kepedihan membawa aku lebih jauh lagi mengenali rumah Tuhan kali ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku ingin membuang jauh-jauh segala penderitaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kata orang bijak “&lt;i style=""&gt;Tuhan memberikan bahuNya untuk menopang semua bebanmu&lt;/i&gt;”, maka dari itu sekarang aku mencoba datang untuk memberikan bebanku padaNya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika aku masuk, aku sedikit bingung, pada altar mana aku harus berdoa?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hanya menurutkan lilin-lilin yang menyala saja lah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin di situ lebih banyak terangNya yang akan aku terima.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku membutuhkan terang untuk menghilangkan gelap dari otakku selama ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku kembali berlutut sebelum melangkah lebih jauh lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di samping itu aku juga berharap datangnya seorang pastor atau sesiapa saja untuk menunjukkan bagaimana seharusnya aku mengadukan persoalanku kepada Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi saat ini hanya diam dan beku yang aku rasakan; sekelebat aku melihat seseorang, tetapi langkahnya terlalu cepat untuk aku kejar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku kembali termanggu sebelum mencoba untuk berdoa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku menoleh dan melihat sebuah bejana dari marmer, “Oh Tuhan siapakah yang bisa membasuh dosaku saat ini?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Percikan air suci, ah! Kenapa aku jadi mengingat cerita-cerita pengusiran roh jahat dengan air suci?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa lalu aku pun menggigil mengingatnya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku merasa sangat ketakutan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Oh Tuhan tolonglah aku, usir takutku ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Mataku terus berputar, menghindari pandanganku pada bejana baptis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku melihat hal-hal yang lebih aneh lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua gambar Para Pemimpin Vikariat Apostolik Batavia dan Keuskupan Agung Jakarta seakan-akan menatapku dengan kesedihan yang mendalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ya Tuhan apakah ini gerangan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku merasa semua keindahan yang ingin aku rasakan lenyap dengan tiba-tiba.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku segera berlari keluar ruangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lari, lari, terus berlari, rasanya sekarang aku ingin pergi saja secepatnya dari tempat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku berlari tak tentu arah, seakan-akan aku sedang dikejar oleh puluhan anjing gembala jerman!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nafasku tersengal-sengal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Tempat berlindung!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tempat berlindung!” hanya itu yang ada di dalam kepalaku waktu itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu aku melihat Gua Maria!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin aku bisa berlindung di belakang patung Bunda Maria.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanpa berpikir panjang segera kuarahkan diriku menyelinap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasa dingin segera menyelimuti tubuhku, aku menggigil kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gigiku gemeretuk menyebut namaNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kuamati patung putih pualam dengan balutan jubah biru yang sedang tersenyum.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tersenyum?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Benarkah itu senyuman?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku melihat sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang begitu lekat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan, sungguh Sang Bunda tersenyum, hatiku merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di dadaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hampir saja terlena dengan kehangatan yang terus menjalar masuk ke dalam sumsum tulang-tulangku.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Aku merasakan damai kasihNya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang jelas aku merasa bahagia, setidaknya aku merasa misiku untuk ziarah ke rumah Tuhan ini mempunyai makna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Tidak!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini bukan hangat!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini panas!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan sangat panas!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku merasakan bahwa tubuhku melekat dalam kedinginan pualam patung Bunda Maria, namun pada saat itu juga aku merasakan di dalam tubuhku ada panas yang luar biasa membakarku!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku kepanasan sampai rasanya tubuhku meleleh – menempel mengotori patung itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku berontak dan berteriak-teriak histeris.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasanya sungguh sangat tidak adil!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagaimana Dia menghukumku? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Padahal aku ke sini untuk mencariNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Panas ini sungguh menyiksa, mataku sampai tidak bisa terbuka lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian dalam gelap aku melihat dosa-dosaku diputar kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti bioskop saja, ah bukan! Seperti teater IMAX yang 3 Dimensi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukan juga! Lebih mirip dengan wahana baru di Ancol.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sinema 4 dimensi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Karena aku merasakan betapa dekatnya aku terlibat di dalamnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dosa-dosaku ditampakkan dengan gamblangnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adegan mencopet tas seorang ibu, memukuli pengamen kecil karena pulang tanpa hasil, menzinahi seorang gadis belia yang aku bius dengan kecubung, menghirup bubuk-bubuk putih bersama teman-teman yang tertawa terbahak-bahak, dan yang lebih menyakitkan adalah istriku yang marah-marah aku tempeleng hingga pingsan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan nyaris kubacok anakku sendiri karena ikut-ikutan mencoba melerai pertengkaran aku dan istriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku pusing kepala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sudah lama hendak bertaubat dengan kehidupanku sebagai preman, tapi malah selalu saja aku kena masalah yang berhubungan dengan uang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal aku sudah sakit-sakitan, tidak bisa lagi aku berobat, tidak bisa lagi aku berdagang, bahkan untuk mengemispun aku tidak bisa menengadahkan tangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tenggelam dalam labirin seuntai kata frustasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Tadi malam, dengan niat yang membara, aku memutuskan untuk pulang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menghilangkan semua beban.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pikirku, lebih baik istri dan anakku tidak lagi menanggung seorang yang tua dan berpenyakitan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biarlah mereka bisa hidup tenang tanpa aku dan masalahku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hanyalah beban sekarang ini untuk mereka, bukan lagi tulang punggung keluarga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menjelang pagi kusayat nadiku menggunakan parang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Pagi tadi, aku ingat Tuhan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sangat ingin menjenguk rumahNya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena itulah aku ke sini untuk berziarah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Melihat rumah Tuhan yang dulu biasanya aku pandangi dari Stasiun Gambir, waktu aku masih dihargai di situ.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hanya Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga lah yang aku tahu dari dulu sebagai tempat dimana Tuhan berada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;"&gt;Yang pasti, sudah terlalu lama aku merindu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Georgia;"&gt;Kebayoran baru 20 Juni 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115812675660629537?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115812675660629537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115812675660629537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115812675660629537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115812675660629537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/ziarah.html' title='Ziarah'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115812587896605989</id><published>2006-09-12T22:35:00.000-07:00</published><updated>2006-09-12T22:37:59.276-07:00</updated><title type='text'>Cincin di Jari Tengah</title><content type='html'>Semenjak Roy, lelaki baik yang menikahiku, meninggalkan dunia kepedihan ini, aku kembali menjadi seorang wanita yang mandiri.  Bukan mensyukuri ataupun meratapi, tapi aku merasa seperti tidak terjadi apa-apa saja setelah semuanya berlalu.  Awalnya memang aku sempat shock dan pingsan ketika mengetahui Roy meninggal dalam kecelakaan pesawat di Solo beberapa waktu silam.  Berhari-hari lamanya mulai dari menjemput jenazah, menguburkan, dan mengadakan tahlilan di rumah, aku dirundung oleh perasaan bersalah, cemas, takut dan stress memikirkan kehidupanku tanpa dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketegaran itu datang tiba-tiba, saat semuanya harus aku sendiri yang menghadapi.  Mulai dari membayar tagihan listrik, air, memperbaiki alat-alat rumah tangga yang rusak, semuanya membuat aku semakin yakin akan kemampuanku sendiri.  Belum lagi pekerjaan di kantor pun menyelamatkan aku dari kesepian setiap hari.  Kadang aku memang sengaja menenggelamkan diriku dalam pekerjaan hanya untuk mengusir rasa takutku jika terlalu lama berada di kamarku sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya aku merasakan bahwa semuanya berubah.  Bukan karena adanya cinta baru, tapi lebih kepada sesuatu di dalam diriku yang merasakan bahwa memang sudah saatnya aku tidak terpuruk oleh kenyataan pahit ini.  Aku pun mulai merasa santai dalam menjalani hari-hariku.  Cuma, akhir-akhir ini memang ada masalah yang menggangguku.  Entah kenapa di saat aku sendiri seperti ini bukan hanya laki-laki yang mulai mengadakan pendekatan kepadaku, tapi beberapa orang wanita juga.  Kadang-kadang aku mematut diriku lama-lama di depan cermin riasku hanya untuk memastikan apakah aku punya tampang yang mengundang para wanita itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu saat aku baru menyadari sesuatu yang mungkin menjadi jawabannya.  Aku memasang cincin pernikahan almarhum Roy di jari tengahku.  Sebenarnya itu menurutku bukan sesuatu yang tidak wajar.  Aku ingin menyimpannya, tapi entah kenapa aku ingin memakainya juga.  Dan satu-satunya jari yang sesuai untuk memakainya adalah jari tengahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cha, apa bener kalau orang pakai cincin di jari tengah itu lesbian?", tanyaku pada Ocha rekan kerjaku di suatu kesempatan makan siang.&lt;br /&gt;"Ah, enggak juga.  Tapi memang katanya ada yang bilang seperti itu sih, Res."  Berarti pikiranku tidak salah tentang cincin yang disematkan di jari tengah.&lt;br /&gt;"Apa sebaiknya aku copot saja cincin suamiku ini?"&lt;br /&gt;"'Ga papa koq.  Kenapa sih kamu mikirnya ke situ?"&lt;br /&gt;"Apa aku punya tampang seperti seorang lesbian?"&lt;br /&gt;"Kamu tuh Res, bukan tampang lesbian tapi tampang mesum!", kata Ocha sambil ketawa.&lt;br /&gt;"Ih, ditanya serius juga.", protesku.&lt;br /&gt;"Udah deh, cuek aja.  Lagian sebenarnya nih, aku mau tanya, kenapa sih kamu masih pakai cincin kawin almarhum suamimu?"&lt;br /&gt;"Aku masih sayang sama dia, Cha.  Pernikahan bagiku cukup sekali saja, takkan ada lagi cinta ke dua dan seterusnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal kamu tuh masih oke lho Res, tampang cantik, body slim gitu.  Gue aja kalo cowok naksir deh."&lt;br /&gt;"Tuh kan mulai, aku tuh bukan lesbian tau!", gurauku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seperti menjadi sebuah kebiasaan, aku mulai suka memandangi cincin di jari tengahku.  Di setiap ada kesempatan untuk melamun, pasti aku pandangi dia.  Kenangannya memang terlalu indah.  Roy melamarku pada saat hujan gerimis di kota Bergheim.  Saat kami berdua menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang sedang tugas belajar.  Waktu itu aku melihat senyumannya yang teduh seperti keteduhan cuaca di sekitar sungai Rhein.  Jika aku menatap cincin polos itu, aku selalu menangis, kemudian berdoa bagi dia.  Apakah memang aku masih mencintai dirinya?  Yang jelas aku merasa bahagia telah membuat keputusan yang tepat saat aku memutuskan untuk menikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, aku dan Ocha janjian makan di Kashiwa.  Selesai memesan makanan, aku pamit ke toilet sebentar.  Sebenarnya ini acaranya Ocha.  Dia ingin memperkenalkan pacarnya, Ichiro, yang berkebangsaan Jepang itu padaku.  Katanya sudah hampir 3 tahun berteman, sudah selayaknya dia memberitahukan pacar rahasianya kepadaku.  Sungguh tersanjung juga sih punya teman seperti dia.  Ocha membeberkan semua rahasianya kepadaku, sampai-sampai dia ceritakan juga apa kebiasaan Ichiro jika sedang gugup.  Kenapa Ichiro disebut pacar rahasia Ocha, karena selama ini Ichiro tidak pernah memperlihatkan dirinya kepada teman-teman Ocha.  Dari foto yang pernah diperlihatkan kepadaku sih, Ichiro ganteng.  Serasi dengan Ocha yang cantik dan periang itu.  Kadang-kadang aku merasa iri akan kebahagiaan mereka mengingat saat ini aku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di toilet aku berpapasan dengan seorang wanita, cantik dan ramah.  Aku masih melihatnya tersenyum padaku ketika aku memasuki salah satu ruang toilet.  Di dalam toilet aku berpikir keras, sepertinya aku pernah melihat wanita itu.  Tapi semakin keras otakku berpikir, rasa-rasanya memoriku akan dia semakin menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat terkejut ketika melihat dia masih di dalam toilet sambil merokok.  Aku semakin menciut, dan berprasangka aku akan berurusan dengan hal-hal yang konyol mengenai cincin di jari tengahku itu.  Aku melewatinya saat hendak mencuci tangan.&lt;br /&gt;"Resya, ya?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Ya?", hanya itu yang bisa aku ucapkan kepadanya.  Otakku berputar keras untuk memikirkan kembali sosok yang sedang berhadapan denganku ini.  Rasanya belum terlalu lama aku bertemu dengan dia.  Jika dia itu rekanan perusahaan, sudah pasti aku akan segera hafal begitu dia menyebutkan namanya.  Beberapa kali terjadi memang seperti itu, tapi aku kemudia cepat mengenalinya sebab aku sering memberi inisial nama perusahaannya di belakang namanya.&lt;br /&gt;"Aku Irene." , katanya sambil mengulurkan tangannya.  Aku masih tertegun dan mengira siapakah dia.  Seingatku tidak ada rekanan perusahaanku yang bernama Irene.  Nama yang hampir mirip adalah Airin, dari perusahaan distribusi produk elektronik ternama.&lt;br /&gt;"Oh, sebentar, aku hendak cuci tangan dulu.", kataku begitu melihat tangannya bergerak seakan hendak menyalamiku.&lt;br /&gt;Tapi dia tidak peduli.  Dengan kasarnya ditariknya tanganku.  Aku memberontak dari cengkraman tangannya.  Yang aku takutkan adalah cara dia memegang rokok, yang seakan-akan mengancam hendak menyundut telapak tanganku.&lt;br /&gt;"Bajingan kamu Resya!  Pelacur!", umpatnya kepadaku.&lt;br /&gt;"Apa - apaan ini? Apa maksudmu?", teriakku setengah menjerit.&lt;br /&gt;"Kamu memang tidak tahu, tapi Roy yang sudah meninggal tidak bisa menjawabnya lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali dilanda kebingungan.  Irene? Roy? Siapakah dia sebenarnya?  Ada hubungan apa antara mahluk kasar bernama Irene ini dengan almarhum Roy suamiku?&lt;br /&gt;Tangan-tanganya bergerak cepat.  Dengan kasarnya dia meraih cincin kawin di jari tengahku.  Begitu cincin itu terenggut, cincin itu diacung-acungkan tepat di mukaku.  Aku melihat dia bukan lagi seorang wanita yang cantik, tapi seekor banteng yang hendak memporakporandakan tubuh seorang matador.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar dulu, katakanlah apa maksudmu." kataku lagi mencoba menenangkan dirinya.&lt;br /&gt;Entah kenapa, dia tiba-tiba menangis.  Bahunya terguncang-guncang keras.  Pegangan tangannya di lenganku melemah.  Rokoknya jatuh di lantai toilet.&lt;br /&gt;"Roy sering menyembunyikan cincin ini ketika dia berada bersamaku.", jawabnya singkat sambil terus mengacungkan cincin kawin Roy di depan mukaku.  Aku menunggu kata-kata apa lagi yang hendak diucapkannya.&lt;br /&gt;"Aku dan Roy sudah berpacaran selama empat bulan semenjak dia ditugaskan ke Solo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahku naik mendengar pengakuannya.  Dalam hatiku ingin merutuki Roy.  Tapi kemudian aku sadar, tangisanku tidak mengubah apapun lagi.  Tapi ini berarti sudah cukup lama Roy mengkhianati cintanya.  Sementara aku sampai saat ini masih berusaha memenangkan cintanya atas cinta lelaki-lelaki lain yang datang setelah mengetahui aku ini seorang janda.&lt;br /&gt;"Dia berjanji akan menikahiku, Resya.  Kau tidak sadar betapa bajingannya dia?", katanya lagi.  Amarahnya sudah mulai turun.  Nafasnya tidak lagi tersengal-sengal ketika berkata.&lt;br /&gt;"Kita sudah sama-sama terluka oleh orang yang telah tiada.  Jadi buat apa kamu lakukan ini semua?" kataku menenangkan dirinya sekaligus aku sendiri.&lt;br /&gt;"Dia telah menipuku, dan juga menipumu sekaligus."&lt;br /&gt;"Tidak ada alasan bagimu untuk membenci aku bukan?  Seharusnya aku lah yang membenci dirimu.  Tapi karena aku tidak tahu apa yang terjadi, lebih baik kita lupakan ini semua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku benci cincin ini!", teriaknya sambil tetap mengacungkan cincin suamiku di mukaku.  Aku tidak habis pikir. Kenapa dia begitu benci pada sebuah benda.  Dia tidak membenci aku, tapi sebenarnya amarahnya ini ditujukan kepada almarhum Roy.&lt;br /&gt;"Buanglah jika kau mau, mungkin memang seharusnya aku tidak memakainya.", kataku.  Sebenarnya kata-kata ini mengandung keraguan mengingat aku masih mempunyai perasaan cinta kepada almarhum, akan tetapi dari pengakuan Irene aku juga baru dibukakan mata bahwa almarhum suamiku telah menipu diriku.&lt;br /&gt;"Jadi kamu mengijinkan aku untuk membuangnya?", tanyanya seperti meminta persetujuanku.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk dan tersenyum pahit menjawab pertanyaannya.  Dia mencampakkan cincin itu entah kemana.  Suara dentingan logam terdengar di dalam ruang toilet yang sepi.  Bunyinya sedemikian dingin, seperti hatiku yang entah kenapa juga menjadi dingin akan cintaku pada almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dia tersenyum manis sekali kepadaku, sehingga membuat aku sedikit jengah.  Aku membalas senyumannya dengan senyum biasa saja.  Dia menangis kembali sambil memelukku.  Pada saat seperti itu, aku merasakan kehangatan kasih sayang yang tulus keluar dari dalam jiwaku.  Mungkin jika ada orang yang bisa melihat aura, di sekitarku sudah merah menyala karena panasnya cinta.  Dalam pelukannya, aku merasakan kepedihan yang dalam.  Aku merasa bukan lagi sebagai Resya tapi akulah Irene.  Dua wanita dengan hati yang hancur bersatu dalam satu pelukan dan tangisan.  Yah, tanpa sadar akupun ikut menangis.  Entah karena apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari toilet, aku bergandengan tangan dengan Irene.  Aku yakin Irene di sebelahku tersenyum juga seperti aku.  Aku menuntun Irene ke meja tempat Ocha dan Ichiro menunggu.  Ocha tampak bingung melihat kami datang.  Apalagi sambil bergandengan tangan.  Ekspresinya seperti seseorang yang melihat hantu saja.  Aku tersenyum lebar, dan melambaikan tanganku yang sudah tidak memakai cincin di jari tengahku.  Dalam hatiku aku tahu bahwa tidak perlu ada cincin di jari tengah untuk menyatakan bahwa cinta telah ada di antara aku dan Irene.  Cinta memang tidak perlu waktu lama untuk menampakkan dirinya.  Lewat peristiwa singkat di toilet restoran itu, cinta terlarang telah tumbuh.  Dan semua itu bukan karena cincin di jari tengah.  Tapi karena cinta terlarang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 06 Juni 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115812587896605989?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115812587896605989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115812587896605989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115812587896605989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115812587896605989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/cincin-di-jari-tengah_12.html' title='Cincin di Jari Tengah'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115797848259277530</id><published>2006-09-11T05:41:00.000-07:00</published><updated>2006-09-11T05:46:07.190-07:00</updated><title type='text'>Ketika Malam Menawarkan Purnama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Laki-laki tak tahu malu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umpatan itu kudengar saat aku mendayung sampanku mendekati dermaga.  Aku jadi memandanginya, sang pengumpat itu sambil bertanya-tanya dalam hati.  Apakah dia mengajakku bicara?  Tetapi nampaknya tidak, sebab tatap matanya terus memandang ke arah cakrawala.  Aku tak tahu apa atau siapa yang sebenarnya dia umpat waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sudah berhari-hari aku melihatnya di situ, di sebuah dermaga kecil di bibir pantai yang selalu basah oleh angin laut yang membawa butiran embun yang berasal dari kelincahan ikan pari yang menari-nari menghindari jala nelayan sepertiku.  Dia selalu berdiri bagaikan tugu peringatan tsunami yang dipasangi alarm yang berbunyi ketika petugas pengawas pantai melihat gelombang yang sangat besar.  Tetapi aku melihat dia bukanlah salah seorang dari pengawas pantai yang ditugaskan di dermaga kami.  Dan anehnya, semakin hari ada kerinduan jika aku tidak mendapati dia berdiri di dermaga itu.  Rindu?  Ya, begitulah aku.  Setidaknya kehadirannya di dermaga itu membuat ada yang ingin kutemukan terlebih dahulu sebelum aku mencapai ujung dermaga itu.  Mungkin sebuah perasaan yang sama saat Christopher Colombus ketika meninggalkan Palos dan mulai menghitung masa pelayarannya lalu memandang cemas akan keselamatan Nina dan Pinta, kedua kapal tambahannya.  Ah pikiranku mungkin terlalu kacau, sebab dia adalah penunggu sesuatu atau sesiapa di sebuah dermaga, sedangkan Colombus adalah pelayar dan petualang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang lupa kusebut, dia itu seorang wanita.  Tinggi semampai dengan rambut lurus panjang hampir menyentuh buah pantatnya.  Selalu terurai, tidak peduli hujan atau panas.  Rupanya elok, hampir bisa dikatakan sempurna.  Beberapa orang pemuda memandangnya dengan tatapan penuh nafsu, tetapi kemudian mereka berlalu karena menganggapnya gila.  Pernah suatu waktu aku melihatnya sedang bicara dengan seekor camar yang sibuk menghancurkan ketam dengan paruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dendam kah kau dengannya?  Sampai begitu tega kau hancurkan seluruh hidupnya.  Aku tahu engkau adalah pemangsa.  Tapi apakah benar dalam hatimu tidak pernah tersirat secuilpun rasa iba?  Bagaimana jika kau melihat sarangmu diobrak-abrik oleh seekor ular lalu telur-telurmu diremas dan diremukkan untuk kemudian habis dihisap sarinya?  Kau pun akan kecewa pada kehidupan ini bukan?", katanya sambil bersidekap tanpa mencoba mengusir camar yang terlalu sibuk menghabiskan rasa laparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu mengepakkan tangannya meniru gerakan burung camar yang terbang dan menukik di antara gelombang laut itu.  Aku tersenyum melihatnya, anehnya dia tidak merasa terganggu dengan senyumanku itu.  Dermaga kayu menjelma menjadi ruang teatrikal sebuah persembahan sendratari gratis yang cukup menghibur.  Ketika camar masuk ke dalam air laut, dia menyudahi gerakannya dengan bersimpuh.  Erat dan kuat seakan seekor lintah yang menyedot darah di ujung kaki.  Aku menilainya sebuah kepasrahan.  Iri hatiku ketika menyaksikan pemandangan tersebut, mungkin seharusnya seperti itulah gerakan sujudku ketika sembahyang.  Mendekap erat perut bumi seperti seorang anak yang hendak menyusu kepada sang ibu.  Lekat, tak ingin lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada seekor ikan yang menggelepar di ujung kail pemancing dia berseru, "Teriakkanlah kebebasanmu sekarang!  Dunia menjadi ruangan penuh ikatan, tak sadarkah kau sebelum kau melumat umpan yang terkail pada mata pancing engkau sesungguhnya sudah berikatan dengan takdir bahwa malam nanti hidupmu sudah berubah menjadi teman sepiring nasi hangat dan sesendok sambal terasi?  Maka dari itu, sekaranglah kau teriak agar kebebasan mengenangmu sedemikian dekat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tertawa mendengar kata-katanya.  Mereka semakin yakin bahwa dia itu tidak waras.  Aku malah menangis, perkataannya seakan menyindirku yang terbelenggu oleh keadaan yang biasa dinamakan kemiskinan.  Sementara ini, mungkin takdir hanya memperbolehkan aku membawa sepuluh ribu rupiah hasil penjualan ikan tadi yang sudah dikurangi dengan ongkos sewa perahu dan biaya bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lesu dalam perjalananku pulang ke rumah, tempat istri dan anakku menunggu kabar gembira semalaman.  Aku tahu dengan pasti, istriku pasti sudah banyak memanjatkan doa untuk keselamatan dan tentu saja hasil yang menggembirakan dari usahaku melaut.  Dia pasti akan sedih jika mengetahui betapa susahnya aku dan teman-teman dalam mencari ikan akhir-akhir ini.  Aku tidak bisa kenapa sebabnya, sebab aku hanyalah seorang nelayan bersampan kecil, itu pun sewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membuatku merasa terhibur saat - saat ini hanyalah dia, penunggu dermaga.  Orang-orang menyebutnya demikian sebab sudah terlalu lama dia berada di situ.  Kehadirannya seperti tanpa awal sebab tiba-tiba saja sewaktu hujan gerimis pertama dia sudah berada di sanan dan sepertinya tidak akan berakhir di awal musim semi nanti.  Aku jadi berpikir, apakah dia adalah peri hujan yang didongengkan waktu aku masih kanak-kanak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar dia kembali tertawa.  Dalam tawanya dia sebut satu nama, Rasya.  Entah kenapa aku langsung mengkaitkan nama itu dengan bahasa Arab yang aku kenal dan membentuk suatu wujud anjing besar bergigi tajam yang tinggal di dalam hutan yang tak pernah aku temui sebab aku ini seorang nelayan bukan penebang kayu.  Rasya memang serigala artinya.  Tetapi aku tidak tahu siapakah Rasya yang disebut oleh penunggu dermaga itu, sebab namaku pun Rasya.  Apakah dia memanggilku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ragu aku menatap ke arahnya, dia pun memandangku.&lt;br /&gt;"Apa kabar?", tanyanya dengan mimik muka yang kaku.  Kelihatan sangat lucu.&lt;br /&gt;"Tidak begitu baik" jawabku ragu.&lt;br /&gt;"Ah, duduklah sini dekatku, aku selalu ingin mendengar kabar sedih", katanya lagi sambil melambai ke arahku dan membuat isyarat untuk duduk di sampingnya.  Lalu tangannya membersihkan debu di sekitar tempat dia duduk.  Seperti menghormatiku dengan sedemikian tulus.  Aku agak jengah dengan keramahan itu.&lt;br /&gt;"Siapa Rasya yang kau sebut tadi?", kataku membuka kedok kaku yang terpasang dengan kuat di mimik wajah tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasya? Apakah kamu keberatan aku menyebutkan nama itu?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Tidak, aku pun disebut begitu oleh ibuku."&lt;br /&gt;"Betapa suatu kebetulan.  Tapi aku tidak punya masalah dengan kau.  Cuma aku sempat mendengar kau berkata tentang kabar yang tidak begitu baik.  Dapatkah kau ceritakan padaku?  Tentunya jika kau tidak berkeberatan", senyumnya masih menghiasi kata-katanya.  Dan entah aku yang tersihir oleh senyuman itu maka dengan lancar seperti bergulirnya matahari senja itu ke akhir horizon aku pun bercerita tentang sebuah rasa putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alam kadang tak mau tahu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah umpatan yang tidak kuduga akan keluar sebagai kesimpulan intepretasinya atas deritaku yang aku ceritakan kepadanya.  Aku pun kembali memandangi sang pengumpat dengan hati penuh pertanyaan.  Kenapa dia selalu mengalihkan objek persoalan saat datang sebuah hal kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia tak begitu menangkap ceritaku yang memang melompat-lompat seperti ikan di laut yang sekarang susah sekali untuk aku tangkap.  Gaya bicaraku kah yang membuatnya demikian?  Entah lah.  Dan tiba-tiba ada yang melintasi pikiranku, sebuah pagar!  Aku mungkin sedang berjarak dengan penikmat ceritaku ini, tapi sungguh aku tak ingin membuatnya merasa demikian.  Maka dengan tegas aku tanyakan kepadanya, "Kenapa engkau mengumpat kepada alam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak kau lihat bahwa matahari sekarang sudah hampir tertidur, sementara aku belum bisa dengan benar mencerna cerita sedihmu tadi.  Dan kini aku pun terdesak dengan pikiran untuk mencari tempat untuk tidur", jawabnya dengan ekspresi yang tak bisa kukatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekiranya aku mempunyai rumah yang layak untuk bisa kau singgahi, maka aku tak akan segan untuk menawarimu menginap di sana", kataku datar.  Tanpa alasan untuk sekedar berbasa-basi.  Matanya berbinar.  Aku pun tergetar, sudah lama aku tak melihat mata wanita yang begitu cemerlang hingga seakan muncul cahaya di kedalaman palung matanya yang langsung menusuk jantungku.  Dan hampir runtuh bangunan penyangga jiwaku saat dia katakan betapa sudah lama dia ingin mendengarkan sebuah kata ajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah berapa lama tak kau dengar kata itu?", kataku sambil menata dinding di hatiku yang tadi sempat limbung.&lt;br /&gt;"Sejak sebuah perpisahan", jawabnya singkat.  Mungkin ini adalah saat paling kritis bagi semua tanya sejak kulihat dia di tepian dermaga untuk kali yang pertama, jika saja aku bisa membuka pintunya dengan pertanyaan yang tidak dapat dielakkan lagi.&lt;br /&gt;"Perpisahan memang menyakitkan", kataku pelan.  Hampir tak terdengar.&lt;br /&gt;"Lebih menyakitkan mana dengan deritamu hari ini?", malah dia balik bertanya.  Aku pun gelagapan.  Kemudian kusadari bahwa aku tak layak berada dekat dengannya untuk sebuah permainan sederhana.  Aku pun mulai beringsut untuk menghindar.&lt;br /&gt;"Malam sudah datang, eh ..siapa namamu?"&lt;br /&gt;"Senang berkenalan denganmu Rasya, aku lah Malam", dia mengulurkan tangan dan sekali lagi mengulas senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbahak, betapa tidak?  Aku seperti baru tersadar bahwa dia memang gila.  Kenapa aku menanti sinar matanya padahal banyak kata yang sudah cukup menggambarkan kegilaannya?  Tapi kemudian kulihat ada rinai gerimis yang mengalir dari kelopak matanya.  Dia menangis, seakan bisa mengartikan cara tertawaku yang memang bermaksud menghina namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf jika aku menyinggungmu, Malam", aku mencoba membayar tangisannya dengan sebuah permintaan maaf, lalu kulanjutkan dengan sebuah pertanyaan lain, "Namamu sungguh misterius untukku, sehingga aku mengira engkau bercanda.  Kalau boleh tahu, siapa yang memberi nama itu untukmu?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kenapa harus ada malam untuk bisa menyebut namaku?", Malam pun mengeluh untuk sesuatu hal yang aku belum penuh.  Aku segera berdiri, rasanya seperti tak ada yang bisa kupetik dari perkenalan senja ini.  Lucu rasanya jika ada yang kemudian menertawakanku demi melihat senja ini telah membuat aku bertemu dengan Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau kemana Rasya?  Bukankah serigala selalu menunggu bulan untuk bisa berteriak?  Sebentar lagi dia datang,  dan jika itu tiba teriakkanlah penderitaanmu.  Melolonglah sebagaimana seekor serigala yang tak pernah puaskan rindu pada purnama yang mungkin bisa melepas kutuknya menjadi manusia biasa.", katanya tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Aku mau pulang, sudah malam.  Anak-istriku perlu makan", letih dan malasku bercampur sebagai jawaban.&lt;br /&gt;"Kau tak mau hidupmu berubah ? Selamanya tetap menjadi manusia miskin dengan cara merayapi perut laut itu?"&lt;br /&gt;"Apakah benar ceritamu itu?  Bahwa sebentar lagi akan ada keajaiban?"&lt;br /&gt;"Asal kamu mau melakukan syaratnya saja"&lt;br /&gt;"Kenapa harus ada pengorbanan untuk setiap rasa kemenangan?"&lt;br /&gt;"Seorang atlit pun berlatih lebih dari sehari demi sebuah perlombaan tahunan yang diadakan hanya sehari saja"&lt;br /&gt;"Jadi…?"&lt;br /&gt;Aku melihat tangannya menjulur di hadapanku.  Aku tak tahu apa maksudnya.  Tapi yang terjadi kemudian adalah sebuah pelukan.&lt;br /&gt;"Dengan tubuhku, kau bisa memandang purnama.  Melolonglah ketika melihatnya, dan hidupmu pasti akan lebih mudah mulai hari ini", ada nafas yang menderu menegakkan kudukku saat dia bicara.&lt;br /&gt;"Apakah ini berarti…"&lt;br /&gt;Telunjuknya menutup bibirku, meskipun jika tidak ditutup aku masih tidak bisa mengatakan ke arah mana pembicaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam kenapa ada engkau saat seperti ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umpatan itu keluar dari mulut dan hatiku. Jujur saja aku bingung.  Dia wanita yang cantik dan kesepian.  Aku lelaki yang kalah perang.  Keduanya butuh sebuah hiburan.  Apakah lalu bercinta akan menjadi ritual ?  Sedemikian gampangkah kita melepaskan kelamin tanpa menungganginya dengan hati dan kesadaran?  Tuhan selayaknya hadir pada saat-saat yang genting dengan membawa sejumlah teguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sadar akan apa yang kau ucapkan?", tanyaku sekaligus untuk mencoba menentang keinginanku juga.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi, dermaga ini agak gelap dan sepi.  Tidak banyak mata yang menuju ke arah sini.  Akan kutunjukkan jejak rembulan yang tadi malam sudah kutelan bulat-bulat di dalam hidupku", kata Malam meyakinkan.&lt;br /&gt;"Lalu kau inginkan apa dari diriku sebagai pengorbanan?", sesuatu yang tak pantas kutanyakan padanya.&lt;br /&gt;"Rupanya engkau belum mencerna betul ucapanku, serigala.  Jika engkau ingin menjadi manusia kembali, kau harus mampu menantang purnama.  Jika purnama kalah, maka malam pun punah.  Aku ingin memunahkan namaku yang begitu kelam", dengan isak yang masih tersisa dia mengatakan teorinya.&lt;br /&gt;"Aku ini manusia, dan kau juga.  Kita bukan sesuatu yang absurd!", tukasku.  Ingin segera kuselesaikan segala teka-teki yang terjadi dari kisah ini.&lt;br /&gt;"Aku sadar itu, dan hasrat adalah bagian dari kehidupan jasad seorang manusia bukan?", katanya setengah bertanya.  Dia membimbing tanganku menelusuri lekuk tubuhnya.  Perlahan dan semakin perlahan kami menarikan ritual pemanggilan purnama di tepian dermaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimanakah purnama yang kau sembunyikan?", tanyaku dengan nada putus asa, sebab kurasa dia sudah mendustaiku dalam setiap tarikan nafasnya.  Malam pun membentangkan tubuhnya.  Polos tanpa noda.  Ada banyak bintang yang terbayang di titik air mata dan keringatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku lekat.  Tak bicara.  Laut kurasa diam.  Malam (malam yang sesungguhnya) diam.  Ada erangan tertahan.  Rupanya dia mengejan.  Kurasakan cengkeraman yang kuat di kedua bahuku.  Hampir mengaduh aku dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pingsan.  Aku sedikit terhibur, mungkin sudah saatnya aku lepas darinya.  Tapi tidak.  Ada sesuatu yang keluar dari tubuhnya.  Bentuknya bulat dan bersinar redup dalam genangan darah.  Ah, darah?  Kubuka kaos bututku lantas kugunakan sebagai pembersih darah yang menutupi permukaan benda bulat yang keluar dari tubuhnya.  Ada sinar yang semakin terang.  Persis seperti purnama.  Ah, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku melolong seperti seekor serigala karena aku kalut pada keadaan malam itu.  Lalu beramai orang datang menangkapku dan menyematkan sebuah berita untuk koran pagi "Nelayan miskin membunuh orang gila untuk sebuah berlian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Agustus 2006.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115797848259277530?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115797848259277530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115797848259277530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115797848259277530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115797848259277530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/ketika-malam-menawarkan-purnama.html' title='Ketika Malam Menawarkan Purnama'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115796405486489271</id><published>2006-09-11T01:40:00.000-07:00</published><updated>2006-09-11T01:56:56.036-07:00</updated><title type='text'>Dua Tetes Gerimis Terakhir</title><content type='html'>Ia, Nawangsih.  Cucu Nawang Wulan.  Bidadari yang rela bertelanjang dada untuk menyuburkan imajinasi anak manusia tentang bidadari, kahyangan dan para dewa.  Ibunya, Nawang Sari, sering mendongengkan kisah pengorbanan dan kesetiaan para bidadari terhadap manusia.  Dimana bidadari harus selalu menyembunyikan keceriaan karena manusia selalu tak sabar ingin mendapatkan rejeki yang dititipkan dewa pada selendang mereka yang berkibaran saat bidadari itu terbang.  Bagi kebanyakan manusia, bidadari hanya dianggap sebagai pelangi yang hadir setelah gerimis.  Namun tidak bagi Jaka Tarub.  Diam-diam diurainya ujung pelangi, dan didapati pada sebuah telaga para bidadari itu mandi.  Sebuah cerita yang sering diulang-ulang ibunya, sebelum Nawangsih pergi menjemput mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, Nawangsih.  Cucu seorang bidadari yang dikenangnya lewat dongeng ibunya.  Juga dari kesedihan yang dipancarkan oleh keluhan kakeknya Jaka Tarub.  Manusia yang ingin menentang keajaiban alam.  Hidupnya sebagai petani tak memuaskan keinginannya untuk  melihat keganjilan yang alam berikan.  Tak cukup puas hatinya melihat benih yang bertunas sebagai tanda kekuasaan dewa.  Matanya diliarkan untuk menangkap keberadaan mahluk-mahluk dari surga.  Salah satunya adalah bidadari Nawang Wulan yang punya kebiasaan mandi telanjang di sebuah telaga.  Hingga lahirlah Nawang Sari, ibu dari Nawangsih.  Dan buah dari sebuah peristiwa ajaib juga lah yang menjadikan Nawang Wulan menemukan selendangnya dan kembali menjelma sebagai seorang bidadari sejati.  Lalu pergi ke kahyangan tempat dia harus mengabdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, segala kisah tentang neneknya telah memenuhi segala ruas tulang di rongga dada.  Nawangsih menangis sejadi-jadinya.  Ia meluapkan kerinduan tanpa kata-kata, hanya air mata.&lt;br /&gt;"Kenapa, nak?", tanya ibunya demi melihatnya menangis.&lt;br /&gt;"Apakah nenek itu benar-benar ada?", tanyanya dengan air muka sembab oleh tangis.&lt;br /&gt;"Benar.  Nenek itu benar-benar ada".&lt;br /&gt;"Bagaimana rupanya?  Aku ingin bertemu dia".&lt;br /&gt;"Ibu harus bicara dulu dengan kakekmu.  Ibu dari dahulu tak pernah bisa bertemu lagi dengan nenek, karena kakek telah melanggar janjinya".&lt;br /&gt;"Aku ingin bertemu nenek!", teriak Nawangsih.  Lalu ia menangis lagi.&lt;br /&gt;"Baiklah, ibu akan ke tempat kakek.  Mudah-mudahan kakek mau meluluskan permintaanmu sebagai cucunya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkatlah Nawang Sari ke tempat Ki Jaka Tarub berada.  Desa Tarub.  Demikian dinamakan tempat itu bukan karena ramai orang memuja kepahlawanan Ki Jaka Tarub mengambil selendang bidadari, tetapi memang demikian lah namanya.  Justru Jaka Tarub lah yang mengambil nama dari desanya.  Nawang Sari setelah menikah diboyong suaminya ke desa lain.  Demi memenuhi permintaan anaknya Nawang Sari pun berjalan seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu tampak mendung.  Ada awan hitam yang bergulung.  Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan.  Nawang Sari kuatir sebab anaknya sangat takut pada bunyi petir.  Suara yang menggelegar mirip suara Krisna yang sedang Triwikrama.  Dia ragu-ragu untuk melanjutkan langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ini? Kuteruskan saja perjalananku ke tempat ayah? Atau aku mesti pulang, sebab Nawangsih pasti ketakutan!&lt;br /&gt;Dia pun berdiam diri.  Sejenak termangu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kilat yang menyambar.  Hujan sudah hampir tumpah di perjalanannya.  Buru-buru dia mencari tempat berlindung.  Sebuah dangau agak terpencil menjadi sasarannya.  Dia pun berlari berpacu dengan gerimis.&lt;br /&gt;Tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Ayah?"&lt;br /&gt;Nawang Sari segera mengenali sosok lelaki tua yang sedang berteduh di dalam dangau itu.&lt;br /&gt;"Nawang Sari?", tanya Ki Jaka Tarub dalam keterkejutan.&lt;br /&gt;"Kamu mencariku?", tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;"Iya ayah.  Nawangsih ingin sekali bertemu dengan ibu".  Ada raut kecemasan di wajah Nawang Sari saat mengatakan hal itu.&lt;br /&gt;"Bukannya kamu juga tahu sendiri, Nawang Sari.  Tak mungkin bagiku untuk menemui ibumu.  Sepanjang hidupmu bahkan dipenuhi oleh tangisan kerinduan kepadanya.  Aku sudah bukan suaminya lagi di matanya".  Ki Jaka Tarub menghela nafas.&lt;br /&gt;"Apakah ibu memang benar-benar tidak memaafkan ayah?"&lt;br /&gt;"Aku tak tahu.  Yang jelas kamu sendiri sudah merasakan hidup tanda dia."&lt;br /&gt;"Tak mengapa aku menjadi korban atas perceraianmu.  Tapi sekarang anakku?  Dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi!", Nawang Sari terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis tidak mampu menghapuskan kesedihan bapak beranak itu.  Sesekali petir membuat mereka semakin kuatir.  Lalu hujan mengguyurkan tubuhnya di atas bumi.&lt;br /&gt;"Tak ada cara lain?"&lt;br /&gt;"Untuk menemuinya?  Aku tak tahu cara apa lagi yang mampu meluluhkan hatinya."&lt;br /&gt;"Sedemikian keraskah ibu kepadaku juga?"&lt;br /&gt;"Baginya, yang telah terjadi hingga engkau lahir, adalah karma".&lt;br /&gt;"Karma?  Lantas siapakah yang telah menitipkan roh kepadaku?  Reinkarnasi dari siapakah aku?", Nawang Sari sedikit meraung.&lt;br /&gt;"Mungkin kamu harus mencari tahu soal itu".  Lagi-lagi Ki Jaka Tarub menghela nafas.  Berat.  Sesak.  Tak beda dari isak Nawang Sari yang kian kerap.&lt;br /&gt;Lalu lanjutnya," Sebab aku pun tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi saat itu".&lt;br /&gt;Keduanya terdiam meski bukan oleh udara yang lembab.  Sama-sama menangis.  Hujan dan tangisan seperti sudah ditakdirkan untuk bersatu.  Hujan habis, berganti gerimis.&lt;br /&gt;"Aku ingin melihat pelangi", gumam Ki Jaka Tarub.&lt;br /&gt;"Aku rindu ibu", Nawang Sari lirih berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya, Nawangsih baru bisa tersenyum.  Setelah dari tadi perasaannya dipelintir oleh bunyi petir.  Semenjak ibunya pergi dan awan hitam datang menutupi pandang, dia dicekam ketakutan.  Sekarang, di balik jendela rumahnya dia bisa melihat tangga pelangi yang berjuntai.  Ada banyak bidadari yang muncul bersama tangga pelangi.  Seorang bidadari menari di tiap anak tangganya.&lt;br /&gt;"Bidadari-bidadari, adakah yang tahu dimana nenekku sembunyi?", jeritnya kegirangan ketika dilihatnya mereka semakin nyata.&lt;br /&gt;Bidadari-bidadari itu kemudian beterbangan.  Serupa dengan kupu-kupu besar yang berseliweran di sekitar nyala lampu obor kala malam menjelang.  Mereka bersembunyi di balik awan putih tipis yang turun.  Kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nawangsih berlari keluar rumah.  Tak dihiraunya gerimis dan kabut.  Dia mencari kemana bidadari itu pergi.&lt;br /&gt;"Jangan mendekat, anak manusia!", ada gertak yang didengar.&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin menemui nenekku.  Dia seorang bidadari.  Nawang Wulan namanya", ibanya pada suara yang menggertak.&lt;br /&gt;"Kami takut padamu anak manusia", demikian jawab yang didengarnya.&lt;br /&gt;"Aku hanya anak-anak", Nawangsih memulai tangisannya.&lt;br /&gt;"Ibumu memang anak bidadari.  Tetapi kamu anak manusia biasa, sebab darahmu hanya mengandung sedikit saja darah bidadari", masih saja suara itu terdengar keras.&lt;br /&gt;"Kami tidak bisa bertemu lagi dengan manusia.  Akan ada petaka bagi kami", lagi-lagi suara itu terdengar.&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin bertemu nenekku.  Nawang Wulan", pintanya diselingi tangisan.&lt;br /&gt;"Nawang Wulan sudah tidak pernah lagi bisa turun ke bumi.  Dia tengah menjalani hukuman, karena cintanya pada kakekmu Jaka Tarub".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nawangsih menangis keras.&lt;br /&gt;Dia tahu dia tidak akan bisa memenuhi rasa rindunya.  Meskipun itu sangat dekat.  Dia sudah berbicara dengan para bidadari hari ini.&lt;br /&gt;"Jika memang begitu adanya, titipkanlah salam cinta dan rinduku sebagai seorang cucu", pintanya pasrah.&lt;br /&gt;Kabut itu tiba-tiba menghilang.  Seiring dengan munculnya sinar matahari sore yang keemasan.  Tangga pelangi tak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tetes sisa gerimis menitik tepat di dahinya.  Nawangsih mengusapnya dengan lembut.  Seakan-akan dia telah merasakan kecupan mesra seorang nenek yang sangat mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nawangsih!", dari jauh terdengar suara ibunya.&lt;br /&gt;Lalu ada suara lain yang memanggil namanya juga.  Suara kakek.  Sudah lama sekali kakek tidak mengunjunginya.  Setidaknya cukup bisa melampiaskan rindunya, meski tak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tidak apa-apa, nak?", tanya ibunya lembut.&lt;br /&gt;"Tidak bu.  Barusaja aku bicara dengan bidadari", jawabnya riang.&lt;br /&gt;Nawang Sari dan Ki Jaka Tarub berpandangan.  Mustahil.&lt;br /&gt;"Kamu lihat rupanya?", desak Nawang Sari.&lt;br /&gt;"Tidak bu.  Mereka berbicara dalam kabut", Nawangsih memandang heran.&lt;br /&gt;Nawang Sari kembali menatap ayahnya.  Ki Jaka Tarub mengangguk.&lt;br /&gt;"Mungkin tadi nenekmu datang, cucuku", katanya sambil mengusap kepala Nawangsih.&lt;br /&gt;"Aku koq tidak melihatnya?", tanya Nawangsih.&lt;br /&gt;"Dia sudah tidak mau melihat kita lagi", jawab ibunya.&lt;br /&gt;Lalu Nawang Sari mengajak Nawangsih masuk ke dalam rumahnya.  Dengan sukacita ditariknya tangan kakeknya untuk menambal rindunya.  Bidadari memang bukan mahluk yang gampang dipegang tangannya, demikian kesimpulan di otak kecilnya.  Lebih baik kerinduan itu dipajangnya untuk kakeknya, Ki Jaka Tarub, yang telah membuat sebuah legenda untuk kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun jauh di kahyangan,  Nawang Wulan menitikkan air mata.  Tak sengaja tadi dia lakukan itu semua.  Menampik kerinduan seorang cucu.  Berat betul rasanya.  Dunia harus berubah, dulu dia telah menjadi korban.  Meski bukan sebagai balas dendam, namun keadaanya sekarang haruslah berbeda dari dulu kala.  Tugasnya sebagai bidadari telah dinodai,  sekarang dia harus dalam sebuah penyucian.  Diredamnya segala cinta dan rindu pada anak-cucu manusianya.  Dan hanya bisa dicurahkan pada dua tetes gerimis terakhir saat hujan akan reda.  Setidaknya sore ini, cucunya telah merasakan bahwa dia pun rindu padanya.  Nawang Wulan sedikit lega.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115796405486489271?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115796405486489271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115796405486489271' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115796405486489271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115796405486489271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/dua-tetes-gerimis-terakhir.html' title='Dua Tetes Gerimis Terakhir'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34190042.post-115794499835180621</id><published>2006-09-10T20:09:00.000-07:00</published><updated>2006-09-10T21:09:03.870-07:00</updated><title type='text'>Ki Slamet yang Melesat</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kami di sini bertiga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Songko, Lihin, dan aku sendiri, Lon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Kami baru bertemu di sini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di tempuran kali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Persatuan tiga batang anak sungai tempat air bergulung deras dengan membuat pusaran dengan hawa yang menusuk tulang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konon, di tempat seperti ini lah dedemit dan roh-roh alam bertemu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga kemudian banyak orang menganggap tempuran menjadi gerbang menuju alam gaib.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kami sama-sama menggigil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Songko, Lihin, dan aku saling berpandangan sejenak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pikiran yang ingin saling menjatuhkan mengingat kami punya tujuan yang sama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memburu sebuah pusaka kuno yang berjuluk Ki Slamet.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami baru sadar jika bertujuan sama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebilah keris ingin benar kami miliki.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab ada yang memberikan saran demi sebuah kepentingan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemenangan atas ketakutan yang aku bawa sejak bertemu seorang dukun tua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka dengan penuh harap, kami tahan semua rasa dingin yang berderap di tiap lekuk tubuh-tubuh tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Songko yang kukenal dari sebuah percakapan singkat sejurus sebelum menceburkan diri tadi, adalah seorang pejabat di sebuah jawatan pemerintahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab dari tadi dia sering sekali ditelepon dari kantornya menanyakan beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Ya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berkas yang itu sudah saya sampaikan kepada Pak Bupati sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Iya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sendiri yang menyampaikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi kalau bisa jangan dihambat lagi soal dananya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya jamin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Besok pagi pasti Pak Bupati akan mengeluarkan instruksi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pasti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi tolong sekali lagi, soal dana itu bisa cepat dikeluarkan", demikian kata-kata yang terakhir dia ucapkan sebelum melakoni "tapa kungkum" ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Songko segera menyusupkan telepon selularnya setelah ia matikan ke balik saku celana yang kemudian dilipat rapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Dia tersenyum ke arahku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tatapannya seakan merendahkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang aku mungkin yang paling miskin di antara tiga orang lelaki dewasa yang telanjang bulat di tempuran kali ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lihin, pada saat menuruni lembah sungai ini sempat bercerita bahwasanya dia menyengajakan diri melakukan ritual ini demi sebuah usaha mengelit dari kejaran penagih kredit bank.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia seorang pengusaha.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;"Gara-gara usahaku yang gagal, aku pun banting tulang untuk menutupi hutang-hutang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gali lubang tutup lubang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamu pasti tahu sendiri kan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang-orang dari bank itu selalu membawa preman untuk menagih kredit.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kadang dalam sehari mereka bisa bolak-balik tiga kali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pusing aku dibuatnya", Lihin mengeluh saat aku bertanya kenapa dia mau menjalankan ritual ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Lalu kamu sendiri bagaimana?", tanyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa pada saat aku menjelaskan bahwa aku harus bisa mendapatkan keris Ki Slamet ini, Songko telah mencuri dengar.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Maka tak heran dia kemudian memandang rendah padaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal seperti ini lah yang membuat aku nekad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Sudah hampir dua puluh tahun aku bekerja, sebagai pegawai tata usaha di sebuah percetakan ternama, dan hampir selama itu pula nasibku tidak berubah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak pernah naik gaji.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak pernah naik jabatan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masih pegawai biasa."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Songko kemudian menyela, "Kamu bodoh kali! Makanya tidak dipandang".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Aku diam saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja dia benar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku bodoh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi yang aku tahu, aku adalah pegawai yang rajin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak ada cacat dan cela dalam pekerjaanku.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Yang pasti, aku punya hati yang jujur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Sambil menceburkan diri, Songko mengajukan sebuah penawaran kepadaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Lon, kamu mau uang sejuta?"&lt;br /&gt;Uang sebanyak itu memang kurang sedikit dari gajiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi cukup banyak untuk bisa meringankan beban hidup yang dirasa semakin kurang.&lt;br /&gt;"Untuk apa?", tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin tidak ada saingan untuk mendapatkan keris Ki Slamet ini".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Singkat, tapi tajam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia ingin mengusirku dari arena pertandingan.&lt;br /&gt;"Terimakasih, tapi aku lebih suka jika aku yang mendapatkannya", jawabku sambil memandang ke arah Lihin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia tampak kurang senang juga dengan tindakan Songko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Kalau kamu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamu mundur saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku punya banyak proyek untuk bisa kamu kerjakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku rasa bakal cukup sedikit demi sedikit melunasi kredit macet-mu".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Duh, Gusti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa semua pejabat bermental seperti dia?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menganggap masalah orang lain biasa saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mendewakan keinginan pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Lihin diam saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak banyak kata yang diucapkan semenjak menceburkan diri ke dalam air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lelaki keturunan Tionghoa itu sepertinya menganggap angin lalu saja omong besar Songko.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi Songko masih mendesak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Bagaimana? Mau tidak?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lihin berdehem sebelum bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Lebih baik aku menghadap langsung ke Pak Bupati saja. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Daripada terima proyek yang belum jelas dari anda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena waktu pilkada kemarin, utusan Pak Bupati datang ke kantor bapakku untuk minta dukungan."&lt;br /&gt;"Lha, kamu ini punya bapak hebat koq tidak dimanfaatkan?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Pantang bagiku minta tolong pada bapakku untuk kali yang ketiga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah lah, sebaiknya kamu diam saja." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kami terdiam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Segera memulai ritual.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rupa-rupa mantera segera saja berselancar di bibir kami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Intinya sama saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memanggil roh-roh alam agar mau dekat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meminta tolong kepada mereka.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Untuk menyampaikan keinginan kami kepada Yang Maha Esa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab roh-roh alam berada di balik tabir yang kelihatan nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu sebuah keinginan yang sebenarnya pun mulai dibaca.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keinginan memiliki senjata rahasia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penangkal segala rasa takut yang mendekam di dada kami masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lambat laun alam mulai memasukkan hawa dingin ke dalam raga kami yang telanjang sebanyak mungkin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Angin dan air menggulungkan cekam terpilin sebagai pusaran menerpa pusar kami dan tubuh bagian bawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Arus melimbungkan tegak tubuh kami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Antara dingin, basah, dan resah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bercampur dengan dengungan nyamuk hutan dan tonggerek serta jangkrik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semakin mengaduk-aduk perasaan paling primitif dari rasa takut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bulu tengkuk mulai berdiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap ada suara angin yang menderu dirasakan bagai jubah kebesaran penunggu tempuran kali yang sedang berlalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan gesekan ranting-ranting pohon pun terasa sangat mengganggu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi kami mesti tahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak boleh ada gentar kami rasakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua demi sebuah hal gaib.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah keris yang konon pernah raib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lamat-lamat kudengar suara orang merintih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suara Lihin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tampaknya ada yang ganjil sedang terjadi padanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak mau membuka mataku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Takut dianggap gagal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apapun yang terjadi, aku tak mau lari.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Demikian tekad yang aku sembunyikan rapat di balik dada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu kecipak air terdengar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bunyi langkah di dalam aliran air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berderap-derap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makin lama makin kencang. Mungkin Lihin sudah tidak dapat tahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan rintihan itu semakin jauh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku pun mengembangkan senyum.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu orang sudah digulung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Setelah itu senyap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pikirku, tinggal aku dan Songko yang bertahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi aku sangat yakin bisa menang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebab tak ada hal-hal yang tampaknya akan bisa menakut-nakuti aku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meskipun memang kurasakan banyak hal-hal yang aneh kurasakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada suara orang tertawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada suara kuda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada juga sentuhan benda-benda yang licin yang sangat mirip dengan kulit ular berkali-kali menyinggahi bagian-bagian tubuhku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi tak ada pikiran bahwa itu adalah ular yang siap untuk mematuk diriku sewaktu-waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Hampir tiga jam lamanya aku berendam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kurasakan kulit-kulitku sudah mulai sangat kaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tebal seperti kulit badak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hampir-hampir tak kurasa angin yang bersemilir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apalagi gerusan arus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mati rasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lalu terdengar suara berdebum.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keras sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Air memancar kemana-mana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ke muka dan dada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada yang jatuh?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segera saja kubuka mata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Astaga!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Kulihat Lihin berdiri di atas sebuah batu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memegang sebatang kayu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada darah menetes di batang kayu itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di mana Songko?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lihin tersenyum menyeringai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia menatap tajam ke arahku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di mana Songko?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Teriakku tercekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Lon, sebaiknya kamu pulang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah tak ada harapan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku yang akan mendapatkan Keris Ki Slamet", katanya dingin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedingin tatapannya.&lt;br /&gt;Aku cuma bisa termanggu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak mampu menggerakkan bibir yang kaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dia mengulur tangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku hampir tak bisa menyambut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanganku kaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku masih bingung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di mana Songko?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lihin membantu aku naik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hampir pagi saat itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia juga mengulurkan handuk kepadaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Berkemaslah", katanya singkat selalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Terimakasih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi..."&lt;br /&gt;"Sudah lah, kau sudah kalah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku sudah tahu dimana akan ku ambil keris pusaka itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kau tidak mendapatkan wangsitnya kan?"&lt;br /&gt;"Wangsit?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lihin terkekeh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menepuk pundakku dan berlalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Di mana Songko?", tanyaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akhirnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Dia sudah mati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menemui takdirnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia itu ular, sang pencuri dengar.&amp;acirc;&amp;euro;�&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Kau membunuhnya?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Terpaksa"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang terjadi?".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tahu dia sedang berdusta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lihin kemudian bercerita:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama setelah kami memulai tapa kungkum, Lihin mendengar seorang wanita berbisik padanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Birahi lah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku telah lama menunggu pengantinku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepadanya lah Ki Slamet akan berbakti."&lt;br /&gt;Lalu dia pun muncul.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wanita yang sangat cantik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kulitnya putih, rambutnya hitam panjang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menggunakan kain batik warna keemasan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan setiba di bibir sungai, dia membuka badan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menghampiri Lihin dan menciumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lihin tak tahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diajaknya dia menepi.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;"&lt;/o:p&gt;Tapi si culas Songko tak tinggal diam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dipanggilnya beberapa pengawal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang-orang bersenjata tombak yang mengendarai kuda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juga seekor ular besar yang dimintanya mengurung dirimu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamu tak sadar?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Ah, tidak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak tahu semua itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah itu hanya ilusi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu di mana Ki Slamet ?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan si wanita, benarkah ada?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lihin melanjutkan ceritanya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia sedang mencumbu wanita yang tak lain adalah pemilik sejati Ki Slamet, Songko dan para pengawalnya mengepung dia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Direbutnya si wanita dari pelukannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lihin disuguhi lusinan ujung tombak yang mengarah di bagian dadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Kau tak mendengar dia tertawa sedemikian kerasnya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Angkuhnya sungguh luar biasa."&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Ah, tidak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak tahu semua itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah itu hanya ilusi?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu bagaimana Lihin bisa lolos?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan si wanita, benarkah ada?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Lihin kembali bercerita padaku :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Songko membawa kabur wanita itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sambil berkata kepadaku bahwa lebih baik dia punya si empunya Ki Slamet, pasti lebih sakti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Jadi Songko menyimpan pemilik Ki Slamet.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan kamu menyimpan Ki Slametnya?", tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Belum".&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lagi-lagi jawaban singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Kulihat ada sesuatu yang melesat dari balik kemben sang wanita. Aku segera sadar bahwa itu Ki Slamet. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Para pengawal Songko ingin merebutnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi mereka takut pada ular besar yang melilit tubuhmu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Ah, tidak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku tak percaya semua itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah itu hanya ilusi untuknya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu mana para pengawal dan ular itu?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan Ki Slamet, benarkah ada?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;"Para pengawal sudah pergi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ular besar tadi kubunuh dengan batang kayu ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan Ki Slamet, ada dalam tubuhmu", Lihin menjelaskan dengan cukup rinci namun tetap singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Jakarta. 06. September.06&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34190042-115794499835180621?l=kumcer-dedy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/feeds/115794499835180621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34190042&amp;postID=115794499835180621' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115794499835180621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34190042/posts/default/115794499835180621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumcer-dedy.blogspot.com/2006/09/ki-slamet-yang-melesat.html' title='Ki Slamet yang Melesat'/><author><name>Dedy Tri Riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05323918027714983959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
